Kontemplasi Tentang Kematian: Proposisi Teknologi Pintar Untuk Situs Kematian

Oleh : Bintang Handayani | Jumat, 14 April 2017 - 11:36 WIB

Bintang Handayani. (Foto: IST)
Bintang Handayani. (Foto: IST)

PERKEMBANGAN sektor pelancongan sejalan dengan kepesatan kemajuan Teknologi Komunikasi dan Informasi (TIK) telah merubah konsepsi dari pelancongan sebagai industri menjadi bentuk yang disebut sebagai Ekosistem, banyak dipengaruhi teori Komunikasi dan Teknologi Informasi. Dalam spektrum dunia praktis dan ranah penelitian ilmiah, spektrum ekosistem ini telah banyak dikaji untuk mengkombinasikan kemajuan TIK dalam menjadikan proses kunjungan dan perjalanan melancong lebih efisien, efektif, dan terkostomisasi. 

Apa yang lebih, TIK juga telah menjadikan peranan-peranan konvensional yang dahulunya didalam konsepsi industri mengariskan gap antara siapa pelaku bisnis, siapa konsumer, dan siapa distributor, dsb, menjadi apa yang disebut dengan konsepsi “sharing economy”. Dalam spektrum “sharing economy” pihak-pihak yang terlibat (suppliers) dan relevan dengan proses produksi dan konsumsi berbasis pengalaman dapat berperan sebagaimana dia mau, dengan pertimbangan ada kapital, ada masa & ada kemauan, dan ada konsumer (demand). 

Yang menarik tetapi tidak mengejutkan, kemajuan TIK untuk spektrum konsumsi Pelancongan Ringan (light Tourism) yaitu yang berkaitan dengan kenikmatan mengunjungi alam, hiburan, keindahan kota, dan sebagainya telah melahirkan konsepsi “kepintaran” pada profil destinasi dan/atau daya tarik wisata. 

Konsepsi “kepintaran” ini berkembang dan dikaitkan pada entitas Kota yang dikenal sebagai “Smart City”, yang digunakan untuk mencapai kota yang berkelanjutan, dan kemudian bercabang menjadi: (a) Smart economy (yang berprinsip pada potensi dan daya saing); (b) Smart people (berfondasi pada jaringan hubungan antara orang-orang yang tinggal dan bekerja di masyarakat tertentu, memungkinkan masyarakat untuk berfungsi secara efektif.); (c) Smart governance (Tata Kelola pelayanan publik dengan pengikutsertaan penggunaan teknologi, termasuk e-government, agenda efisiensi dan kerja mobile, untuk memfasilitasi dan mendukung perencanaan yang lebih baik dan pengambilan keputusan); (d) Smart mobility (terkait dengan pendayagunaan TIK, membantu anggota masyarakat untuk terhubung dengan kehidupan mereka, contohnya menemukan restoran terdekat sementara di belakang kemudi di kota yang asing, atau menggunakan perintah suara untuk mengontrol aplikasi mobile favorit saat bepergian; Smart environment (pemamfaatan sumber daya alam digabungkan dengan teknologi, bertujuan mempromosikan ide-ide dari dunia fisik yang kaya dan tak terlihat terjalin dengan sensor, aktuator, display, dan elemen komputasi, tertanam mulus di benda sehari-hari hidup kita); dan Smart living (berfokus pada inovasi untuk membuat hidup lebih efisien, lebih terkendali, ekonomis, produktif, terpadu dan berkelanjutan, yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup). Secara umum tujuan dari cabang-cabang konsepsi “Smart City” adalah untuk men-sejahterakan penduduk lokal dan residen, untuk kenyamanan para pelancong, serta untuk membentuk kota yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. 

Untuk spektrum Pelancongan Gelap (Dark Tourism), konsepsi “kepintaran” yang melekat pada profil destinasi dan/atau daya tarik wisata menunjukkan kurang ditelaah, baik dari aspek kajian praktis maupun pada ranah kajian ilmiah. Lebih tepatnya, konsepsi “kepintaran” yang dieksplorasi pada Pelancongan Gelap memiliki tingkat kelajuan kemajuan rendah. Mungkin ini menjelaskan bagaimana paradoks spektrum Pelancongan Gelap menjadi tren yang volumenya rendah namun berpotensi; dimana sisi-sisi “kegelapan” (baca: kesuraman aspek dari kehidupan) yang ingin dikonsumsi oleh pelancong menuntut autentitas sebagai basis utama, sebagaimana layaknya konsumsi berbasis pengalaman. 

Bukan hanya sebagai simbolisasi atas atribut intrinsik maupun eksentrik yang dapat memperkuat identitas dan nilai keunikan situs gelap, tetapi juga mengindikasikan “kepatutan” kunjungan ke situs gelap (tidak) dapat menggunakan TIK sebagai medium. Hal ini dikarenakan: (1) paradoks dari konsepsi TIK dan konsepsi “kepintaran” yang biasanya melahirkan akses bebas pada pembentukan identitas dan citra merek destinasi dan/atau daya tarik wisata akan mempengaruhi autentitas “pengalaman” sebagai basis, yang mana diasumsikan kunjungan kesitus pariwisata gelap bukan untuk jenis pariwisata masal. Disatu sisi, penggunaan TIK sebagai medium akan melahirkan komodifikasi dan masifikasi, disisi lain penggunaan TIK sebagai medium mengakomodasi pihak-pihak yang terlibat sebagai key player(s) baik itu pihak internal maupun pihak eksternal ekosistem untuk dapat turut membangun identitas dan citra merek pada situs gelap, terlebih ini dapat diberdayagunakan sebagai pemasaran gratis. Dalam spektrum ini, kontemplasi sekolompok pelancong yang berminat pada situs kematian tetapi enggan (sungkan) untuk berinteraksi langsung dengan berkunjung pada situs kematian dapat diakomodasi; (2) ketiadaan TIK sebagai medium dipercaya dapat lebih mengakomodasi kontemplasi manusia pada kematian diri, mengalihkan perhatian seseorang dari kematiannya sendiri. Dengan kata lain, kunjungan ke situs pariwisata gelap menyarankan konsepsi klasik “Highly perishable”.        

Berpijak dari konsepsi klasik “Highly perishable”, peng-andaian untuk mengaplikasikan TIK dan konsepsi “kepintaran” sebenarnya memungkinkan, mengingat konsepsi bangunan ekosistem dan kenyataan bahwa Pariwisata gelap telah bukan hanya menjadi sebagai “attraction-driven” namun juga dianggap sebagai “tourist demand”.  Kemungkinan-kemungkinan ini dapat dibentuk untuk menjadikan opsi masifikasi dan komodifikasi menjadi lebih terkontrol, adalah dengan menerapkan “virtual dark tourism” (VDT), yang dapat dibentuk dari pendayagunaan Artificial Intelligence (AI), Virtual Reality (VR) dan Augmented Reality (AR).  Penerapan AI, VR, dan AR juga mesti dibarengi oleh pembentangan informasi dari Big Data, Small Data, dan Open Data. Misalnya untuk situs pemakaman Trunyan dapat dibuatkan VDT, dengan menerapkan AI dan VR pada atribut –atribut dari pemakaman Truyan. Selanjutnya untuk memperkaya pengalaman pelancong dan kunjungan ke situs pariwisata gelap contohnya situs pemakaman Truyan, AR dapat dengan elegan menambahbaik otensitas pengalaman pelancong. Namun, untuk mengkukuhkan atribut “ke-suraman”, selayaknya penggunaan teknologi bukan berfokus pada esensi inti dari daya tarik (attraction) yang mengandalkan aspek ritual “suram” yang membentangkan klasifikasi antara “kami” (komunitas setempat) dan “kita” (para pelancong), tetapi (mungkin) yang lebih berpotensi adalah untuk pengembangan aksesibilitas dan kenyaman para pelancong dalam pase sebelum kunjungan (pre-visitation). 

Antara yang dapat diterapkan adalah pendayagunaan geo-tag atau konsepsi Wayfinding. Geo-tag dan konsepsi Wayfinding cukup popular dalam pengembangan situs pariwisata pada umumnya, dan kajian pustaka menunjukkan popularitas untuk kemudian diadaptasi pada situs pariwisata gelap. Dengan pemikiran ini, situs pariwisata gelap dapat dikonsumsi oleh segmen yang lebih luas yaitu melalui VDR, juga dapat merespon urgensi kajian dalam ranah penelitian ilmiah yang mendesak untuk konsptualisasi situs pariwisata gelap agar dapat dikonsumsi oleh segmen yang lebih besar. Dengan demikian, kontemplasi manusia tentang kematian diri, pengalihkan perhatian seseorang dari kematiannya dapat diakomodasi dengan kunjungan ke situs pariwisata gelap, dengan opsi VDR untuk segmen pelancong ceruk, dan dengan tetap menfokuskan pada elemen-elemen proposisi keunikan dan keterikatan emosi atas kontemplasi tentang “kesuraman” contonhnya situs kematian. 

    
Bintang Handayani, Ph.D adalah Dosen dan Peneliti Senior di President University, Cikarang, Indonesia. Kajian penelitiannya berkisar pada Pencitraan Pariwisata Gelap, Penggunaan Teknologi pada situs kematian, Citra Merek Pelancongan dan Personifikasi Bangsa, serta studi Media & Komunikasi.   

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto

Minggu, 16 Juni 2019 - 10:00 WIB

Menperin: Perang Dagang Untungkan Indonesia

Indonesia dinilai memiliki peluang di tengah bergulirnya perang dagang antara Amerika Serikat dan China. Sebab, Indonesia masih memiliki fundamental ekonomi yang kuat dalam menghadapi situasi…

Pembangunan drainase jalan nasional

Minggu, 16 Juni 2019 - 07:50 WIB

Kementerian PUPR Siapkan Program Pembangunan Drainase Jalan Secara Nasional

Keberadaan drainase jalan yang terhubung dengan sistem drainase kawasan atau lingkungan sangat penting untuk menghindari terjadinya genangan dan memperpanjang usia layanan jalan.

Bank Mandiri Syariah (Foto Ist)

Minggu, 16 Juni 2019 - 06:36 WIB

Libur Lebaran 2019 Transaksi Electronic Channel Mandiri Syariah Naik 60%

Jakarta -- Selama libur lebaran Mei 2019 transaksi electronic channel PT Bank Syariah Mandiri (Mandiri Syariah) naik 60% (year on year) dari Mei 2018.

Kunjungan Wisman ke Bali (Foto ist)

Sabtu, 15 Juni 2019 - 18:00 WIB

Kunjungan Wisman ke Bali Turun 7,83 Persen

BPS Provinsi Bali mencatat jumlah kunjungan wisatawan asing ke beberapa destinasi pariwisata di Bali mengalami penurunan hingga 7,83 persen untuk bulan April 2019 jika dibandingkan dengan bulan…

BAZNAS Buka Dapur Umum di Daerah Terisolir Banjir Konawe

Sabtu, 15 Juni 2019 - 17:04 WIB

BAZNAS Buka Dapur Umum di Daerah Terisolir Banjir Konawe

Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) mendirikan layanan Dapur Umum untuk melayani pengungsi banjir bandang di Kabupaten Konawe dan Konawe Utara, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra). Dapur umum…