INDUSTRY.co.id - Jakarta – Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mendesak Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) menggenjot produksi dan lifting minyak dan gas bumi (migas) menjelang akhir 2026. Langkah ini ditempuh untuk menjaga momentum produksi sekaligus mengejar target yang telah ditetapkan pemerintah dalam APBN 2026.
Salah satu strategi yang didorong adalah menunda pelaksanaan planned shutdown atau penghentian operasi terencana hingga 2027. Kebijakan ini diharapkan dapat memaksimalkan waktu operasi fasilitas produksi pada sisa tahun ini sehingga kontribusi lifting dari masing-masing KKKS bisa lebih optimal.
Arahan tersebut disampaikan Kepala SKK Migas dalam CEO Forum Hulu Migas yang digelar di kantor SKK Migas, Selasa (27/10/2026). Forum tersebut dihadiri sekitar 150 peserta yang terdiri atas jajaran manajemen SKK Migas, CEO KKKS, serta kepala divisi dan pejabat setingkat di lingkungan SKK Migas.
Dalam arahannya, Kepala SKK Migas meminta seluruh pimpinan KKKS memastikan komitmen dalam work, program and budget (WPnB) 2026 yang telah disetujui dapat direalisasikan sesuai rencana.
Ia juga menekankan pentingnya optimalisasi kegiatan produksi hingga akhir tahun, mengingat waktu yang tersisa semakin terbatas untuk mengejar target lifting migas nasional.
Untuk mendukung upaya tersebut, SKK Migas meminta KKKS meninjau kembali jadwal pemeliharaan terencana yang berpotensi mengurangi produksi. Penundaan planned shutdown hingga 2027 menjadi salah satu langkah yang didorong, sepanjang tetap memperhatikan aspek keselamatan kerja dan keandalan fasilitas operasi.
Selain mengejar tambahan produksi, SKK Migas juga menyoroti risiko gangguan operasional pada periode pergantian tahun. Para CEO KKKS diminta meningkatkan pengawasan terhadap fasilitas produksi agar kegiatan operasi tetap berjalan andal.
SKK Migas mencatat, hambatan terhadap keandalan fasilitas operasi kerap muncul pada akhir dan awal tahun. Karena itu, penguatan pengawasan dan antisipasi gangguan menjadi faktor penting untuk menjaga kesinambungan produksi di tengah upaya mengejar target tahunan.
Di sisi lain, CEO Forum Hulu Migas juga membahas perkembangan pelaksanaan WPnB serta prospek produksi pada tahun berikutnya. Salah satu perkembangan yang dinilai positif adalah potensi produksi dalam WPnB 2027 yang disebut lebih tinggi dibandingkan target APBN 2027.
Potensi tersebut membuka ruang bagi peningkatan kontribusi sektor hulu migas terhadap pasokan energi nasional. Namun, realisasinya akan bergantung pada kemampuan KKKS menjalankan program kerja, menjaga keandalan fasilitas, serta memastikan kegiatan produksi sesuai dengan rencana yang telah disepakati.
Forum ini sekaligus menjadi sarana koordinasi antara SKK Migas dan KKKS untuk memperkuat sinergi dalam menghadapi tantangan operasional dan mempertahankan momentum produksi.
Bagi industri hulu migas, tantangan pada sisa 2026 bukan hanya meningkatkan produksi dalam jangka pendek, tetapi juga menjaga agar fasilitas tetap beroperasi secara andal dan program pengembangan lapangan berjalan sesuai jadwal. Sementara itu, potensi produksi 2027 yang melampaui target APBN perlu diterjemahkan menjadi realisasi produksi agar dapat memberikan tambahan pasokan energi secara berkelanjutan.
Dengan waktu yang tersisa menuju akhir tahun, konsistensi pelaksanaan komitmen WPnB, pengendalian gangguan operasi, dan optimalisasi fasilitas produksi akan menjadi penentu kemampuan sektor hulu migas dalam menopang pencapaian target lifting nasional.