INDUSTRY.co.id - JAKARTA – PT Astra International Tbk (ASII) mencatatkan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp21,60 triliun hingga September 2026. Perolehan tersebut turun 12% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp24,47 triliun, di tengah tekanan pada bisnis solusi pertambangan dan alat berat.
Berdasarkan laporan kinerja perseroan, pendapatan bersih konsolidasian Grup Astra relatif stabil sebesar Rp243,9 triliun selama sembilan bulan pertama 2026. Sementara itu, laba bersih sebelum memperhitungkan pos-pos nonberulang atau non-recurring items tercatat sebesar Rp24,6 triliun.
Presiden Direktur Astra International Rudy mengatakan, pertumbuhan pada sebagian besar lini bisnis perseroan belum mampu mengimbangi tekanan yang terjadi pada bisnis solusi pertambangan dan alat berat.
“Bisnis otomotif, jasa keuangan, dan wider businesses mencatatkan pertumbuhan, sedangkan kontribusi dari bisnis solusi pertambangan dan alat berat mengalami penurunan,” ujar Rudy dalam siaran pers, Rabu (28/10/2026).
Meski laba secara keseluruhan masih tertekan, Rudy menyebut kinerja Astra pada kuartal III-2026 mulai menunjukkan perbaikan dibandingkan dengan kuartal-kuartal sebelumnya. Perbaikan tersebut terutama didorong oleh peningkatan volume kontrak pertambangan, dimulainya kembali produksi tambang emas Martabe, serta pertumbuhan bisnis otomotif.
Astra juga membukukan pos-pos nonberulang sebesar Rp3 triliun, terutama berasal dari penurunan nilai atau impairment dan penyesuaian nilai wajar atas investasi ekuitas. Pos tersebut turut memengaruhi laba bersih yang dilaporkan perseroan.
Dari sisi neraca, nilai aset bersih per saham Astra per 30 September 2026 meningkat 5% menjadi Rp5.999. Namun, kas bersih Grup di luar anak perusahaan jasa keuangan menyusut menjadi Rp1,8 triliun, dibandingkan dengan Rp7,2 triliun pada akhir Desember 2025.
Penurunan kas bersih tersebut terutama dipengaruhi oleh akuisisi perusahaan tambang emas PT Arafura Surya Alam dan pelaksanaan program pembelian kembali saham atau buyback.
“Selain program share buyback Astra sebesar Rp8 triliun yang masih berlangsung, United Tractors dan Astra Agro Lestari juga mengumumkan program share buyback yang baru pada Oktober 2026. Inisiatif alokasi modal Grup juga mencakup penawaran tender sukarela oleh Astra untuk menambah kepemilikan sahamnya di Astra Otoparts,” tutur Rudy.
Di sisi lain, utang bersih anak perusahaan jasa keuangan meningkat menjadi Rp66,7 triliun per 30 September 2026, dari Rp64,9 triliun pada akhir 2025.
Di tengah tekanan pada bisnis pertambangan, segmen otomotif dan jasa keuangan menjadi penopang utama kinerja Astra selama sembilan bulan pertama tahun ini.
Bisnis otomotif mencatatkan laba bersih sebesar Rp9,8 triliun, meningkat 8% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan tersebut didukung kenaikan volume penjualan kendaraan serta kontribusi yang lebih kuat dari divisi komponen.
Pasar sepeda motor nasional tumbuh 4% menjadi 5 juta unit hingga September 2026. Di tengah ekspansi pasar tersebut, penjualan sepeda motor Honda meningkat 3%, dengan pangsa pasar bertahan di level 77%.
Sementara itu, pasar mobil nasional meningkat 21% menjadi 679.000 unit. Namun, penjualan mobil Astra hanya tumbuh 13%, lebih rendah daripada pertumbuhan pasar secara keseluruhan. Meski demikian, Toyota dan Daihatsu tetap memimpin pasar, dengan pangsa pasar Astra secara keseluruhan mencapai 49%.
Divisi komponen juga mencatatkan pertumbuhan kontribusi laba bersih sebesar 15% menjadi Rp1,4 triliun. Kenaikan ini didukung oleh peningkatan kontribusi dari seluruh segmen bisnis komponen.
Kinerja positif juga terlihat pada segmen jasa keuangan yang membukukan laba bersih Rp7,2 triliun, naik 6% secara tahunan.
Pada divisi pembiayaan konsumen, piutang pembiayaan bersih mencapai Rp132 triliun, meningkat 6% dibandingkan dengan akhir 2025. Nilai pembiayaan baru juga tumbuh 8% menjadi Rp92,5 triliun, ditopang oleh pembiayaan otomotif baru dan pembiayaan multi-cycle.
Kontribusi laba bersih perusahaan pembiayaan sepeda motor meningkat 4% menjadi Rp3,6 triliun. Adapun perusahaan pembiayaan mobil membukukan kontribusi laba Rp1,9 triliun, naik 6%.
Bisnis asuransi Grup Astra turut mencatatkan peningkatan kontribusi laba bersih sebesar 9% menjadi Rp1,4 triliun. Kenaikan tersebut didorong oleh pertumbuhan pendapatan operasional dan pendapatan investasi.
Berbanding terbalik dengan otomotif dan jasa keuangan, bisnis solusi pertambangan dan alat berat masih menghadapi tekanan signifikan. Laba bersih segmen ini sebelum pos-pos nonberulang merosot 28% menjadi Rp5,1 triliun hingga September 2026.
Tekanan tersebut terutama berasal dari berkurangnya penjualan emas tambang Martabe, yang sempat menghentikan produksi pada awal tahun, serta penurunan kuota produksi batu bara nasional melalui alokasi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB).
Pembatasan produksi batu bara berdampak pada permintaan alat berat dan jasa pertambangan, sekaligus menekan volume produksi batu bara. Kondisi tersebut membuat segmen yang selama ini menjadi salah satu kontributor penting Astra menghadapi tantangan operasional.
Dari sisi volume, pengupasan lapisan tanah oleh divisi jasa pertambangan turun 7% menjadi 766 juta bank cubic metres (BCM). Penjualan alat berat Komatsu juga menyusut 17% menjadi 3.000 unit, terutama akibat melemahnya permintaan dari sektor pertambangan.
Penjualan batu bara turun 23% menjadi 7,1 juta ton. Adapun penjualan emas hanya mencapai 54.000 ons, jauh lebih rendah dibandingkan dengan 178.000 ons pada periode yang sama tahun lalu.
Penurunan penjualan emas tersebut terjadi setelah operasional tambang Martabe dihentikan sementara pada awal tahun sebelum kembali beroperasi pada kuartal II-2026.
Setelah memperhitungkan pos-pos nonberulang sebesar Rp2,2 triliun yang terutama berasal dari divisi panas bumi dan nikel, laba bersih yang dilaporkan dari segmen solusi pertambangan dan alat berat turun 59% menjadi Rp2,9 triliun.
Meski demikian, terdapat tanda pemulihan pada kuartal III-2026. Kinerja segmen tersebut tumbuh 15% secara tahunan, seiring peningkatan volume kontrak pertambangan dan dimulainya kembali produksi tambang emas Martabe.
Di luar otomotif, jasa keuangan, dan pertambangan, segmen Lain-lain yang terutama mencerminkan bisnis wider businesses Astra mencatatkan laba bersih sebelum pos-pos nonberulang sebesar Rp2,6 triliun. Angka tersebut meningkat 36% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan ini terutama ditopang oleh peningkatan kinerja divisi agribisnis seiring kenaikan harga dan produktivitas. Divisi properti juga membukukan perbaikan kinerja berkat kontribusi platform pergudangan industri yang baru diakuisisi.
Namun, segmen tersebut turut membukukan pos-pos nonberulang sebesar Rp766 miliar, terutama akibat kerugian penyesuaian nilai wajar investasi ekuitas. Setelah memperhitungkan pos tersebut, laba bersih yang dilaporkan meningkat 7% menjadi Rp1,8 triliun.
Kinerja Astra hingga September 2026 memperlihatkan perbedaan arah pertumbuhan antarsegmen bisnis. Otomotif dan jasa keuangan masih mampu meningkatkan laba, sedangkan pertambangan dan alat berat menghadapi tekanan dari penurunan penjualan serta pembatasan produksi batu bara.
Dengan demikian, pemulihan kinerja Astra pada kuartal III-2026 menjadi salah satu faktor yang akan dicermati untuk melihat prospek laba perseroan pada sisa tahun ini, terutama terkait keberlanjutan pemulihan tambang Martabe, permintaan alat berat, dan perkembangan kuota produksi batu bara nasional.