INDUSTRY.co.id - JAKARTA – PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) membukukan laba bersih sebesar US$23,94 juta atau sekitar Rp431 miliar hingga kuartal III-2026. Realisasi tersebut turun 36,85% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$37,91 juta, di tengah penurunan pendapatan dan laba operasi perseroan.
Berdasarkan laporan kinerja hingga September 2026, BRMS mencatatkan pendapatan sebesar US$167,58 juta atau sekitar Rp3,02 triliun, turun 8,73%. Sementara itu, laba operasi merosot 25,42% menjadi US$52 juta atau sekitar Rp936 miliar, dari sebelumnya US$69,2 juta.
Di tengah tekanan kinerja keuangan tersebut, perseroan mulai memperoleh dukungan dari peningkatan produksi emas setelah menyelesaikan kegiatan pushback di tambang emas terbuka River Reef, Poboya, Palu, pada Juli 2026. Pekerjaan ini memungkinkan BRMS menambang bijih dengan kadar emas lebih tinggi sejak akhir Juli 2026.
Pada kuartal III-2026, volume penjualan emas BRMS mencapai 16.748 ons dengan harga jual rata-rata sebesar US$4.128 per ons. Adapun rata-rata kadar emas bijih yang diproses mencapai 1,94 gram per ton (g/t).
Direktur Utama sekaligus Chief Executive Officer (CEO) BRMS Agus Projosasmito mengatakan, penyelesaian kegiatan pushback menjadi salah satu faktor penting untuk meningkatkan produksi emas pada paruh kedua 2026. Perseroan pun tetap optimistis terhadap prospek bisnisnya meskipun menghadapi dinamika makroekonomi dan pasar modal.
"Kami cukup puas dengan pencapaian perusahaan pada kuartal III-2026. Terlepas dari faktor-faktor makro dan eksternal yang memengaruhi industri domestik dan pasar modal nasional, kami tetap percaya terhadap fundamental BRMS yang kuat," ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (29/10/2026).
Selain mengoptimalkan tambang terbuka, BRMS mempercepat pengembangan tambang emas bawah tanah di River Reef. Hingga saat ini, panjang terowongan tambang tersebut telah melampaui 975 meter dari portal atau pintu masuk tambang.
Melalui anak usahanya, PT Citra Palu Minerals (CPM), BRMS menargetkan penambangan bijih dengan kadar emas di atas 3,2 g/t dari tambang bawah tanah dapat dimulai pada pertengahan 2027. Pengembangan ini diharapkan menjadi salah satu penopang pertumbuhan produksi emas perseroan dalam jangka menengah.
BRMS juga menargetkan peningkatan kapasitas pabrik pengolahan emas dari 500 ton menjadi 2.000 ton bijih per hari rampung pada awal 2027. Ekspansi tersebut akan meningkatkan kapasitas pengolahan hingga empat kali lipat dibandingkan dengan kapasitas sebelumnya.
Peningkatan kapasitas pabrik dan pengembangan tambang bawah tanah menjadi bagian dari strategi BRMS untuk mendorong produksi emas pada tahun-tahun mendatang. Agus menyebut pengembangan tambang bawah tanah diharapkan mendukung peningkatan produksi pada 2027 dan 2028.
Dari sisi pemasaran, CPM telah menandatangani perjanjian penjualan sebagian besar produksi emas dengan sejumlah pembeli pada harga yang dinilai kompetitif. BRMS berharap dapat menjual hampir seluruh produksi emasnya pada paruh kedua 2026.
Di luar bisnis emas, BRMS juga mengembangkan portofolio mineral melalui anak usahanya, PT Gorontalo Minerals, yang melanjutkan kegiatan eksplorasi tembaga di wilayah Gorontalo.
Perseroan saat ini mengoperasikan empat unit alat pengeboran eksplorasi di wilayah Cabang Kiri East. Jumlah tersebut direncanakan meningkat menjadi tujuh unit pada 2027 yang akan beroperasi di tiga lokasi.
BRMS menargetkan hasil pengeboran tersebut dapat dikonversi menjadi sumber daya mineral tembaga pada semester II-2027. Langkah ini diharapkan memperkuat potensi aset mineral perseroan di luar emas sekaligus membuka peluang pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang.
Dengan demikian, agenda peningkatan kapasitas pengolahan, pengembangan tambang bawah tanah, dan eksplorasi tembaga menjadi sejumlah fokus BRMS untuk memperkuat kinerja operasional setelah laba bersih tertekan hingga kuartal III-2026.