INDUSTRY.co.id - KOLAKA – Ceria Corp memperkuat strategi dekarbonisasi industri pengolahan nikel melalui pemanfaatan Renewable Energy Certificate (REC) untuk mendukung kebutuhan listrik Smelter Merah Putih di Kecamatan Wolo, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara. Melalui unit bisnisnya, PT Ceria Metalindo Prima (CMP), perusahaan tercatat memanfaatkan 236.220 unit REC sepanjang 2025 atau setara dengan sekitar 3,67% dari total pemanfaatan REC PLN secara nasional.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya Ceria Corp membangun produksi nikel rendah karbon di tengah meningkatnya tuntutan keberlanjutan dalam rantai pasok mineral global. Perusahaan pertambangan dan pengolahan nikel dengan status 100% penanaman modal dalam negeri (PMDN) itu memasukkan pengelolaan energi sebagai salah satu aspek strategis dalam pengembangan industri hilirisasi terintegrasi.

Berdasarkan data PT Energy Management Indonesia (PLN EMI), pemanfaatan REC PLN secara nasional mencapai 6,43 terawatt-hour (TWh) sepanjang 2025, setara dengan 6,43 juta unit REC dari 18.715 pelanggan. Dengan volume 236.220 unit, kontribusi Ceria menunjukkan keterlibatan industri pengolahan mineral dalam pemanfaatan atribut energi terbarukan, meskipun kebutuhan listrik untuk proses pemurnian nikel tergolong besar.

Kebutuhan listrik Smelter Merah Putih dipasok oleh PT PLN (Persero), dengan dukungan REC sebagai instrumen pengakuan atas atribut energi terbarukan. Sertifikat tersebut tercatat dalam sistem Tradable Instrument for Global Renewables (TIGRs) yang dioperasikan APX, Inc. di Amerika Serikat, sehingga atribut energi terbarukan dapat ditelusuri dan diverifikasi.

GM Integrated Power System & Energy Management Ceria Corp Muhammad Ridwan mengatakan, penggunaan REC merupakan bagian dari strategi perusahaan untuk mengelola kebutuhan energi secara bertanggung jawab sekaligus menjaga daya saing produk nikel nasional.

“Ceria Corp berdedikasi untuk mengintegrasikan energi hijau ke dalam operasional smelter sekaligus mendukung arah pengembangan industri nikel yang semakin rendah karbon,” ujar Ridwan.

Menurut dia, setiap unit REC mewakili atribut energi terbarukan dari satu megawatt-hour (MWh) listrik yang dihasilkan pembangkit energi terbarukan. Melalui sistem TIGRs, atribut tersebut dapat ditelusuri dan diverifikasi sebagai dasar pelaporan penggunaan listrik terbarukan.

“Pemanfaatan REC menjadi bagian penting dalam perjalanan Ceria menuju pengembangan green nickel. Instrumen ini membantu kami mengelola atribut energi terbarukan secara terukur dan transparan,” jelas Ridwan.

Dalam industri pengolahan dan pemurnian nikel, pasokan energi menjadi faktor penting yang memengaruhi jejak karbon produk. Teknologi Rotary Kiln-Electric Furnace (RKEF) yang digunakan dalam produksi feronikel membutuhkan listrik dalam jumlah besar dan pasokan yang stabil. Karena itu, pengelolaan sumber energi menjadi salah satu aspek yang diperhitungkan produsen untuk memenuhi tuntutan keberlanjutan di pasar internasional.

Pemanfaatan REC memungkinkan perusahaan mengaitkan konsumsi listrik yang tercakup dalam sertifikat dengan atribut pembangkitan energi terbarukan. Mekanisme ini dapat mendukung penghitungan emisi tidak langsung dari konsumsi listrik menggunakan pendekatan berbasis pasar (market-based accounting).

Meski demikian, REC pada dasarnya merupakan instrumen pengakuan atas atribut energi terbarukan, bukan bukti bahwa listrik yang secara fisik dialirkan ke smelter berasal langsung dari pembangkit energi terbarukan tertentu. Dampaknya terhadap pengurangan jejak karbon produk tetap bergantung pada cakupan sertifikat, metodologi penghitungan emisi, serta transparansi pelaporan perusahaan.

Bagi Ceria, pemanfaatan REC menjadi bagian dari strategi lingkungan yang lebih luas, mencakup efisiensi operasional dan pengendalian emisi dari proses produksi. Perusahaan menargetkan pengembangan low-carbon ferronickel sebagai bagian dari visi green nickel untuk meningkatkan nilai tambah produk nikel nasional.

Strategi tersebut juga mencerminkan tantangan yang dihadapi industri hilirisasi mineral Indonesia. Di satu sisi, pengolahan di dalam negeri diharapkan meningkatkan nilai tambah sumber daya alam. Di sisi lain, produsen perlu memperhatikan intensitas emisi dan standar keberlanjutan yang semakin relevan dalam perdagangan mineral global.

Melalui kerja sama dengan PLN dan pemanfaatan REC, Ceria berupaya memperkuat fondasi pengelolaan energi dalam operasional smelternya. Ke depan, konsistensi penggunaan energi terbarukan, transparansi penghitungan emisi, dan efisiensi proses produksi akan menjadi faktor penting untuk memperkuat daya saing produk nikel Indonesia di pasar internasional.