INDUSTRY.co.id, Jakarta-Harga minyak mentah dunia kembali melonjak di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap keamanan pasokan energi dari Timur Tengah. Harga minyak mentah Brent, yang menjadi salah satu acuan utama pasar internasional, sempat mencapai 115,47 dollar AS per barel pada perdagangan Rabu (28/10), setelah muncul laporan serangan terhadap kilang minyak di Arab Saudi.
Berdasarkan laporan Reuters, harga kontrak berjangka Brent naik 1,4 persen menjadi 115,47 dollar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat meningkat 1,4 persen menjadi 101,33 dollar AS per barel.
Kenaikan tersebut mencerminkan kekhawatiran pelaku pasar terhadap kemungkinan terganggunya pasokan minyak global. Arab Saudi merupakan salah satu produsen dan eksportir minyak utama dunia sehingga gangguan terhadap infrastruktur energinya berpotensi memengaruhi keseimbangan pasokan.
Reuters melaporkan, kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran mengklaim telah menyerang kilang minyak terbesar Arab Saudi pada Selasa (27/10). Kilang tersebut memiliki kapasitas pengolahan sekitar 550.000 barel per hari. Namun, otoritas Arab Saudi belum segera mengonfirmasi serangan tersebut.
Strategi komoditas ING, dalam analisis yang dikutip Reuters pada 28 Oktober, menilai bahwa harga minyak masih tinggi karena pasar menunggu kejelasan mengenai langkah Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap Iran.
Menurut analis ING, apabila tidak terjadi serangan baru terhadap Iran setelah pemilihan sela Amerika Serikat pada 3 November, premi risiko geopolitik yang tercermin dalam harga minyak berpotensi mulai berkurang.
Pandangan tersebut menunjukkan bahwa pergerakan harga minyak saat ini tidak hanya ditentukan oleh keseimbangan permintaan dan pasokan, tetapi juga oleh ketidakpastian politik dan keamanan di kawasan penghasil energi utama dunia.
Beban energi Indonesia berpotensi meningkat
Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak dunia menjadi tantangan tersendiri karena dapat meningkatkan biaya impor energi dan memperbesar tekanan terhadap anggaran negara. Dampaknya dapat merambat ke sektor transportasi, industri, serta harga barang dan jasa apabila kenaikan berlangsung dalam waktu lama.
Lead Economist PT Bank Danamon Indonesia, Irman Faiz, dalam wawancara dengan IDNFinancials yang diterbitkan pada 11 September 2026, menjelaskan bahwa dampak kenaikan harga minyak terhadap Indonesia terutama berlangsung melalui tiga jalur, yakni inflasi, kondisi fiskal, dan keseimbangan eksternal.
Dalam laporan tersebut, Irman menekankan bahwa kenaikan harga minyak akan lebih dahulu meningkatkan beban fiskal sebelum sepenuhnya tercermin pada inflasi konsumen.
Pandangan itu relevan untuk mencermati lonjakan harga minyak terbaru. Ketika harga minyak internasional meningkat, pemerintah dapat menghadapi tambahan beban apabila harga energi domestik tetap dijaga agar tidak langsung mengikuti kenaikan di pasar global.
Besarnya tekanan terhadap anggaran bergantung pada harga minyak rata-rata sepanjang tahun, nilai tukar rupiah, produksi minyak dalam negeri, volume impor, serta kebijakan subsidi dan kompensasi energi.
Tekanan juga dapat meningkat apabila pelemahan rupiah terjadi bersamaan dengan kenaikan harga minyak. Sebab, transaksi impor minyak umumnya menggunakan dollar AS sehingga biaya pembelian dalam rupiah dapat meningkat lebih besar.
Harga BBM dan daya beli menjadi perhatian
Kenaikan harga minyak internasional tidak serta-merta membuat harga bahan bakar minyak di dalam negeri langsung naik. Pemerintah masih memiliki sejumlah instrumen untuk mengelola dampaknya, termasuk kebijakan harga energi dan subsidi.
Namun, apabila harga minyak bertahan tinggi, tekanan biaya dapat dirasakan oleh perusahaan transportasi, industri manufaktur, dan pelaku usaha yang bergantung pada distribusi barang.
Kenaikan biaya tersebut berpotensi diteruskan kepada konsumen melalui harga barang dan jasa. Dalam kondisi demikian, rumah tangga dapat menghadapi pengeluaran yang lebih besar, terutama jika kenaikan energi terjadi bersamaan dengan kenaikan harga pangan.
Bagi masyarakat berpendapatan rendah, kondisi tersebut menjadi tantangan karena sebagian besar anggaran rumah tangga dialokasikan untuk kebutuhan dasar. Kenaikan harga transportasi dan bahan makanan dapat mengurangi ruang pengeluaran untuk kebutuhan lain.
Meski demikian, besarnya dampak tidak akan sama bagi setiap kelompok masyarakat. Kebijakan pemerintah, perkembangan nilai tukar, serta kemampuan pelaku usaha menyerap kenaikan biaya akan menentukan seberapa besar tekanan akhirnya dirasakan konsumen.
Pasokan dan diplomasi menentukan arah harga
Selain perkembangan konflik di Timur Tengah, pelaku pasar juga mencermati persediaan minyak Amerika Serikat dan keputusan negara-negara produsen dalam kelompok OPEC+.
Reuters melaporkan bahwa persediaan minyak mentah Amerika Serikat turun sekitar 2,03 juta barel pada pekan yang berakhir 23 Oktober, berdasarkan data awal American Petroleum Institute. Sementara itu, pasar menantikan data resmi dari Badan Informasi Energi AS untuk memastikan perkembangan persediaan tersebut.
Keputusan OPEC+ mengenai target produksi juga menjadi perhatian karena dapat memengaruhi ketersediaan pasokan pada bulan-bulan berikutnya.
Jika gangguan pasokan meluas sementara produksi tidak meningkat, harga minyak berpotensi bertahan tinggi. Sebaliknya, meredanya konflik dan membaiknya kepastian pasokan dapat mengurangi premi risiko geopolitik.
Bagi Indonesia, perkembangan tersebut perlu diantisipasi melalui pengelolaan anggaran energi yang hati-hati, penguatan ketahanan pasokan, serta upaya meningkatkan efisiensi konsumsi energi.
Pada akhirnya, lonjakan harga minyak dunia bukan hanya persoalan pasar komoditas. Perkembangannya juga berkaitan dengan kemampuan pemerintah menjaga stabilitas fiskal, mengendalikan inflasi, dan melindungi daya beli masyarakat di tengah ketidakpastian ekonomi global.