Highlights
- LPG bersubsidi 3 kg tetap Rp19.000/tabung di pangkalan resmi, ESDM pastikan tidak naik hingga akhir 2026
- Bright Gas 5,5 kg Rp107.000 dan 12 kg Rp230.000/tabung, belum ada penyesuaian harga baru
- Henry Hub menguat 1,51% ke US$3,05/MMBtu pada perdagangan Rabu, rebound setelah menyentuh terendah dua tahun awal pekan ini
- TTF Eropa menguat 1,50% ke €96,59/MWh pada penilaian 27 Oktober, kembali menjadi level tertinggi dalam 30 hari terakhir
- JKM Asia turun tipis ke US$31,82/MMBtu pada penilaian 28 Oktober, melemah 1,43% dalam sehari namun masih 184,66% dibanding setahun lalu
- Aramco CP Oktober tetap berlaku: propana US$680/MT dan butana US$730/MT, CP November belum diumumkan
Daftar Isi: Harga LPG Indonesia | Bright Gas | Per Wilayah | Henry Hub | TTF & JKM | Aramco CP | Faktor Harga | FAQ
Harga LPG Subsidi Hari Ini 29 Oktober 2026
Harga LPG 3 kg hari ini, Kamis (29/10/2026), tetap tidak mengalami perubahan. Kementerian ESDM memastikan harga LPG bersubsidi tabung 3 kg tidak naik hingga akhir 2026. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia juga menyampaikan stok LPG bersubsidi nasional masih terjaga di atas standar minimum, sejalan dengan komitmen pemerintah menjaga stabilitas harga energi bersubsidi di tengah gejolak harga energi global yang masih berlangsung.
| Jenis LPG | Harga di Pangkalan | Harga di Pengecer | Keterangan |
|---|---|---|---|
| LPG 3 kg (Subsidi) | Rp19.000 | Rp22.000 | Tetap (HET) |
Harga Eceran Tertinggi (HET) LPG 3 kg di pangkalan resmi Pertamina tetap Rp19.000 per tabung. Di tingkat pengecer, harga mencapai Rp22.000 per tabung sudah termasuk ongkos kirim. Pemerintah mengimbau masyarakat membeli di pangkalan resmi untuk mendapatkan harga sesuai HET dan jaminan takaran. LPG bersubsidi tersedia di lebih dari 259.000 pangkalan resmi Pertamina seluruh Indonesia.
Harga LPG Non-Subsidi (Bright Gas)
PT Pertamina Patra Niaga belum melakukan penyesuaian harga Bright Gas baru. Harga yang berlaku saat ini merupakan hasil penyesuaian terakhir yang berlaku sejak awal Oktober 2026. Berikut harga agen yang berlaku untuk wilayah Pulau Jawa:
| Produk | Harga per 28 Oktober | Harga per 29 Oktober | Perubahan |
|---|---|---|---|
| Bright Gas 5,5 kg | Rp107.000 | Rp107.000 | Tidak berubah |
| Bright Gas 12 kg | Rp230.000 | Rp230.000 | Tidak berubah |
Harga di atas merupakan Harga Jual Agen Bright Gas untuk wilayah DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur, Bali, dan NTB. Harga di tingkat pangkalan biasanya lebih mahal Rp15.000-20.000 per tabung.
Harga Bright Gas per Wilayah Indonesia
Harga Bright Gas bervariasi di setiap wilayah karena faktor ongkos distribusi. Berikut rincian harga agen per Oktober 2026:
| Wilayah | Bright Gas 5,5 kg | Bright Gas 12 kg |
|---|---|---|
| Jawa, Bali, NTB | Rp107.000 | Rp230.000 |
| Sumatera (kecuali Bangka Belitung), Sulawesi Tengah dan Selatan | Rp111.000 | Rp232.000 |
| Bangka Belitung, Kalimantan, Sulawesi Utara dan Tenggara | Rp114.000 | Rp240.000 |
| Tarakan dan sekitarnya | Rp124.000 | Rp267.000 |
| Maluku dan Papua | Rp134.000 | Rp287.000 |
| Batam (Kawasan Perdagangan Bebas) | Rp100.000 | Rp209.000 |
Wilayah Maluku dan Papua mencatat harga Bright Gas termahal dengan selisih Rp27.000 per tabung untuk ukuran 5,5 kg dibanding wilayah Jawa karena ongkos distribusi kepulauan. Sebaliknya, kawasan perdagangan bebas Batam mencatat harga paling rendah di Rp100.000 (5,5 kg) dan Rp209.000 (12 kg). Masyarakat dapat membeli Bright Gas melalui agen resmi, pangkalan, atau aplikasi MyPertamina untuk memastikan keaslian produk.
Harga Gas Alam Dunia: Henry Hub
Henry Hub, benchmark gas alam untuk pasar Amerika Utara, menguat ke level US$3,05 per MMBtu pada perdagangan Rabu (28/10/2026), naik 1,51% dalam sehari menurut data CFD TradingEconomics per 28 Oktober 2026. Penguatan didorong kenaikan aktivitas ekspor LNG setelah harga sempat menyentuh level terendah dalam dua tahun (sejak Oktober 2024) pada awal pekan ini akibat prakiraan suhu di atas normal (warmer weather) di Amerika Serikat yang menekan ekspektasi permintaan gas untuk pemanas. Secara bulanan harga kini naik 1,28% dan secara tahunan masih turun 20,07%.
| Indikator | Nilai | Keterangan |
|---|---|---|
| Henry Hub (28 Oktober) | US$3,05/MMBtu | Menguat dari terendah dua tahun |
| Perubahan Harian | +US$0,05 | +1,51% |
| Proyeksi EIA 2026 | US$3,67/MMBtu | Rata-rata tahunan |
Faktor pendukung datang dari sisi ekspor: aliran gas (feedgas) ke sembilan terminal ekspor LNG utama AS naik ke 19,2 bcfd pada dua pekan terakhir, dengan rata-rata 18,3 bcfd sepanjang Oktober, naik dari 17,9 bcfd pada September. Permintaan kargo dari pembeli Eropa dan Asia menjelang musim dingin juga menopang harga, meski prakiraan suhu di atas normal hingga 9 November membatasi kenaikan karena permintaan pemanas tertekan. Produksi gas Lower 48 rata-rata 112,0 bcfd sepanjang Oktober, turun dari rekor 113,3 bcfd pada Agustus-September, meski produksi harian sudah pulih ke sekitar 113,5 bcfd pekan ini. Data EIA menunjukkan inventaris gas alam AS naik 77 Bcf pada pekan yang berakhir 16 Oktober, lebih rendah dari tambahan 86 Bcf pada pekan yang sama tahun lalu dan rata-rata lima tahun sebesar 87 Bcf. EIA tetap memproyeksikan rata-rata harga Henry Hub 2026 di US$3,67/MMBtu, sementara model makro Trading Economics memperkirakan harga berada di sekitar US$2,77 per MMBtu pada akhir kuartal ini dan US$3,38 dalam 12 bulan ke depan.
TTF Eropa dan JKM Asia
Title Transfer Facility (TTF) di Belanda menguat ke level €96,59 per MWh pada penilaian 27 Oktober 2026, naik 1,50% dalam sehari dari penilaian sebelumnya di €95,16 dan kembali menjadi level tertinggi dalam 30 hari terakhir menurut data EnergyRiskIQ. Sementara itu, Japan Korea Marker (JKM) untuk pasar Asia turun tipis ke US$31,82 per MMBtu pada penilaian 28 Oktober 2026, melemah 1,43% dalam sehari dari level tertinggi 12 bulan US$32,28 pada penilaian 27 Oktober, dan kini bertahan di kisaran level tertinggi 12 bulan. Secara mingguan JKM masih naik 5,59%, bulanan 21,70%, dan dibanding setahun lalu melonjak 184,66%, karena pembeli LNG di Jepang, Korea Selatan, dan China tetap berlomba mengamankan kargo menjelang musim dingin.
| Benchmark Gas Alam | Harga | Perubahan | Kawasan |
|---|---|---|---|
| Henry Hub | US$3,05/MMBtu | +1,51% | Amerika Utara |
| TTF | €96,59/MWh | +1,50% | Eropa (Belanda) |
| JKM | US$31,82/MMBtu | -1,43% | Asia (Jepang-Korea) |
TTF kini berada di puncak rentang 30 hari €71,20-96,59 per MWh dengan rata-rata €83,30 per MWh. Data CFD TradingEconomics untuk instrumen yang berbeda menunjukkan tren serupa, dengan level yang lebih tinggi di €98,64/MWh pada 28 Oktober 2026 karena instrumen dan tanggal penilaian yang berbeda dengan penilaian pasar EnergyRiskIQ yang menjadi rujukan utama, serta harga bulanan naik 41,99% dan tahunan melonjak 207,14%. Komentar pasar TradingEconomics bahkan menyebut harga gas Eropa mendekati level €100 per MWh, tertinggi sejak Desember 2022, karena musim pemanasan mendekat dengan persediaan yang lebih rendah dari biasanya. Di Asia, JKM tetap berada jauh di atas level Henry Hub, menandakan Asia membayar premium tinggi untuk kargo spot. Katalis utamanya tetap sama: kompetisi LNG antara Eropa dan Asia untuk memperebutkan kargo yang sama di tengah pasokan global yang ketat dan level penyimpanan gas Eropa yang lebih rendah dari rata-rata lima tahun. Harga minyak mentah Brent sendiri bertahan di sekitar US$115,24 per barel di tengah harapan damai Amerika Serikat-Iran.
Harga LPG Internasional: Saudi Aramco CP
Saudi Aramco menetapkan Contract Price (CP) untuk Oktober 2026 lebih tinggi dari bulan sebelumnya, mencerminkan permintaan kuat dari sektor petrokimia Asia dan kenaikan harga minyak mentah. CP November 2026 belum diumumkan dan diperkirakan akan dirilis akhir Oktober 2026.
| Produk | CP September 2026 | CP Oktober 2026 | Perubahan |
|---|---|---|---|
| Propana (C3) | US$625/MT | US$680/MT | +US$55 (+8,8%) |
| Butana (C4) | US$660/MT | US$730/MT | +US$70 (+10,6%) |
Kenaikan CP Oktober didorong oleh permintaan kuat dari sektor petrokimia Asia, terutama China dan Korea Selatan, serta kenaikan harga minyak mentah Brent yang menjadi acuan pricing LPG. Butana naik lebih tinggi (+10,6%) dibanding propana (+8,8%) karena permintaan dari sektor gasoline blending yang meningkat menjelang akhir tahun. Dengan harga minyak mentah Brent yang bertahan di sekitar US$115,24 per barel di tengah harapan damai AS-Iran, pasar menanti arah CP November yang akan diumumkan akhir Oktober.
Faktor yang Mempengaruhi Harga Gas Alam
Beberapa faktor utama yang menggerakkan harga gas alam global minggu ini:
- Permintaan musim dingin Asia: Pembeli LNG Jepang, Korea Selatan, dan China masih agresif mengamankan kargo menjelang musim dingin. JKM turun tipis ke US$31,82 per MMBtu setelah menyentuh level tertinggi 12 bulan US$32,28 awal pekan, namun masih naik 5,59% dalam sepekan, 21,70% dalam sebulan, dan 184,66% dibanding setahun lalu.
- Musim dingin belahan bumi utara: Level penyimpanan gas Eropa yang lebih rendah dari rata-rata lima tahun mendorong TTF menguat ke €96,59 per MWh, tertinggi dalam 30 hari. Cuaca ekstrem tetap menjadi risiko utama pasar.
- Perkembangan geopolitik Timur Tengah: Harapan damai Amerika Serikat-Iran menahan premium risiko pengiriman dengan harga minyak mentah Brent bertahan di sekitar US$115,24 per barel, meski harga gas alam tetap didorong permintaan musim dingin.
- Cuaca hangat dan shale gas AS: Prakiraan suhu di atas normal hingga awal November masih menekan permintaan gas pemanas Amerika Serikat; Henry Hub hanya menguat 1,51% ke US$3,05 per MMBtu setelah sempat menyentuh terendah dua tahun awal pekan ini. Produksi shale gas yang melimpah di 112,0 bcfd sepanjang Oktober menambah tekanan ke bawah.
- Kebijakan energi Indonesia: Pemerintah tetap mempertahankan subsidi LPG 3 kg melalui APBN dan memastikan stok aman di atas standar minimum nasional, menjaga harga konsumen tetap terkendali meski harga internasional naik.
FAQ: Pertanyaan Umum tentang Harga LPG dan Gas Alam
Mengapa harga LPG subsidi 3 kg tidak pernah naik?
Harga LPG 3 kg disubsidi pemerintah melalui APBN dan penyaluran dijamin oleh Pertamina. Meski harga LPG internasional (Aramco CP) naik signifikan, harga di pangkalan tetap Rp19.000 karena perbedaan harga ditanggung oleh negara. Kementerian ESDM memastikan subsidi ini berlanjut hingga akhir 2026 dengan stok yang aman.
Mengapa harga Bright Gas tetap sama di Oktober?
Pertamina Patra Niaga belum melakukan penyesuaian harga Bright Gas setelah penyesuaian terakhir yang berlaku sejak awal Oktober 2026. Meski Aramco CP naik, dampaknya belum diteruskan ke harga ritel karena Pertamina masih menyerap kenaikan dari margin internal.
Mengapa harga JKM Asia bertahan di kisaran tertinggi 12 bulan?
JKM turun tipis 1,43% ke US$31,82/MMBtu pada penilaian 28 Oktober 2026 setelah menyentuh level tertinggi 12 bulan US$32,28/MMBtu pada penilaian sebelumnya. Meski turun, harga masih naik 5,59% dalam sepekan, 21,70% dalam sebulan, dan 184,66% dibanding setahun lalu karena kompetisi memperebutkan kargo LNG antara Asia dan Eropa menjelang musim dingin, ditambah level penyimpanan Eropa yang lebih rendah dari rata-rata lima tahun.
Apa bedanya Henry Hub, TTF, dan JKM?
Henry Hub adalah benchmark gas alam Amerika Utara, TTF untuk Eropa, dan JKM untuk Asia. Harga berbeda karena perbedaan pasokan, permintaan, dan biaya pengiriman LNG antar kawasan. Henry Hub lebih murah karena AS memiliki produksi shale gas yang melimpah, sementara Asia membayar premium tertinggi untuk kargo spot.
Apakah musim dingin 2026 akan membuat harga gas naik tajam?
Tergantung cuaca. Jika musim dingin lebih dingin dari normal, harga gas bisa naik 30-50%. Level penyimpanan Eropa saat ini di bawah rata-rata lima tahun membuat pasar sangat sensitif terhadap setiap sinyal cuaca dingin. Prediksi NOAA dan ECMWF menjadi acuan utama trader.
Key Takeaways
- LPG 3 kg subsidi tetap Rp19.000 di pangkalan, dijamin tidak naik hingga akhir 2026 dengan stok aman
- Bright Gas tidak berubah: Rp107.000 (5,5 kg) dan Rp230.000 (12 kg) untuk wilayah Jawa
- Henry Hub menguat 1,51% ke US$3,05/MMBtu setelah sempat menyentuh terendah dua tahun awal pekan ini
- TTF menguat 1,50% ke €96,59/MWh (tertinggi 30 hari); JKM turun tipis ke US$31,82/MMBtu di kisaran tertinggi 12 bulan
- Aramco CP Oktober tetap berlaku (propana US$680, butana US$730); CP November menunggu pengumuman akhir Oktober
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual komoditas energi. Harga dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti kondisi pasar. Selalu verifikasi harga terkini dari sumber resmi sebelum melakukan transaksi.
Sumber data: Pertamina Patra Niaga, Kementerian ESDM, TradingEconomics, EnergyRiskIQ, Tindex, BMI Research, Reuters | Penulis: Dana Putra