Highlights

  • LPG bersubsidi 3 kg tetap Rp19.000/tabung di pangkalan resmi, ESDM pastikan tidak naik hingga akhir 2026
  • Bright Gas 5,5 kg Rp107.000 dan 12 kg Rp230.000/tabung, belum ada penyesuaian harga baru
  • Henry Hub naik 3,35% ke US$2,69/MMBtu pada perdagangan Selasa, memantul setelah jatuh ke terendah sejak akhir April pekan lalu
  • TTF Eropa menguat 0,32% ke €95,16/MWh pada penilaian 26 Oktober, menjadi level tertinggi dalam 30 hari terakhir
  • JKM Asia memecahkan rekor lagi ke US$32,28/MMBtu pada penilaian 27 Oktober, naik 2,48% dalam sehari dan 189,57% dibanding setahun lalu
  • Aramco CP Oktober tetap berlaku: propana US$680/MT dan butana US$730/MT, CP November belum diumumkan

Daftar Isi: Harga LPG Indonesia | Bright Gas | Per Wilayah | Henry Hub | TTF & JKM | Aramco CP | Faktor Harga | FAQ

Harga LPG Subsidi Hari Ini 28 Oktober 2026

Harga LPG 3 kg hari ini, Rabu (28/10/2026), tetap tidak mengalami perubahan. Kementerian ESDM memastikan harga LPG bersubsidi tabung 3 kg tidak naik hingga akhir 2026. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia juga menyampaikan stok LPG bersubsidi nasional masih terjaga di atas standar minimum, sejalan dengan komitmen pemerintah menjaga stabilitas harga energi bersubsidi di tengah gejolak harga energi global yang masih berlangsung.

Jenis LPGHarga di PangkalanHarga di PengecerKeterangan
LPG 3 kg (Subsidi)Rp19.000Rp22.000Tetap (HET)

Harga Eceran Tertinggi (HET) LPG 3 kg di pangkalan resmi Pertamina tetap Rp19.000 per tabung. Di tingkat pengecer, harga mencapai Rp22.000 per tabung sudah termasuk ongkos kirim. Pemerintah mengimbau masyarakat membeli di pangkalan resmi untuk mendapatkan harga sesuai HET dan jaminan takaran. LPG bersubsidi tersedia di lebih dari 259.000 pangkalan resmi Pertamina seluruh Indonesia.

Harga LPG Non-Subsidi (Bright Gas)

PT Pertamina Patra Niaga belum melakukan penyesuaian harga Bright Gas baru. Harga yang berlaku saat ini merupakan hasil penyesuaian terakhir yang berlaku sejak awal Oktober 2026. Berikut harga agen yang berlaku untuk wilayah Pulau Jawa:

ProdukHarga per 26 OktoberHarga per 28 OktoberPerubahan
Bright Gas 5,5 kgRp107.000Rp107.000Tidak berubah
Bright Gas 12 kgRp230.000Rp230.000Tidak berubah

Harga di atas merupakan Harga Jual Agen Bright Gas untuk wilayah DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur, Bali, dan NTB. Harga di tingkat pangkalan biasanya lebih mahal Rp15.000-20.000 per tabung.

Harga Bright Gas per Wilayah Indonesia

Harga Bright Gas bervariasi di setiap wilayah karena faktor ongkos distribusi. Berikut rincian harga agen per Oktober 2026:

WilayahBright Gas 5,5 kgBright Gas 12 kg
Jawa, Bali, NTBRp107.000Rp230.000
Sumatera (kecuali Bangka Belitung), Sulawesi Tengah dan SelatanRp111.000Rp232.000
Bangka Belitung, Kalimantan, Sulawesi Utara dan TenggaraRp114.000Rp240.000
Tarakan dan sekitarnyaRp124.000Rp267.000
Maluku dan PapuaRp134.000Rp287.000
Batam (Kawasan Perdagangan Bebas)Rp100.000Rp209.000

Wilayah Maluku dan Papua mencatat harga Bright Gas termahal dengan selisih Rp27.000 per tabung untuk ukuran 5,5 kg dibanding wilayah Jawa karena ongkos distribusi kepulauan. Sebaliknya, kawasan perdagangan bebas Batam mencatat harga paling rendah di Rp100.000 (5,5 kg) dan Rp209.000 (12 kg). Masyarakat dapat membeli Bright Gas melalui agen resmi, pangkalan, atau aplikasi MyPertamina untuk memastikan keaslian produk.

Harga Gas Alam Dunia: Henry Hub

Henry Hub, benchmark gas alam untuk pasar Amerika Utara, menguat ke level US$2,69 per MMBtu pada perdagangan Selasa (27/10/2026), naik 3,35% dalam sehari menurut data CFD TradingEconomics per 27 Oktober 2026. Penguatan terjadi setelah harga sempat jatuh ke level terendah sejak akhir April pada pekan lalu akibat prakiraan cuaca yang lebih ringan (milder weather) di Amerika Serikat yang menekan ekspektasi permintaan gas untuk pemanas. Secara bulanan harga masih turun 13,42% dan secara tahunan turun 30,46%.

IndikatorNilaiKeterangan
Henry Hub (27 Oktober)US$2,69/MMBtuMenguat dari terendah akhir April
Perubahan Harian+US$0,09+3,35%
Proyeksi EIA 2026US$3,67/MMBtuRata-rata tahunan

Faktor pendukung tetap datang dari sisi ekspor: rata-rata aliran gas ke sembilan terminal ekspor LNG utama AS berada di 18,2 bcfd sepanjang Oktober, naik dari 17,9 bcfd pada September. Produksi gas Lower 48 masih melimpah di 111,4 bcfd bulan ini, meski turun dari rekor 113,3 bcfd pada Agustus-September. Data EIA menunjukkan inventaris gas alam AS naik 77 Bcf pada pekan yang berakhir 16 Oktober, lebih rendah dari tambahan 86 Bcf pada pekan yang sama tahun lalu dan rata-rata lima tahun sebesar 87 Bcf. EIA tetap memproyeksikan rata-rata harga Henry Hub 2026 di US$3,67/MMBtu, sementara model makro Trading Economics memperkirakan harga berada di sekitar US$2,77 per MMBtu pada akhir kuartal ini dan US$3,38 dalam 12 bulan ke depan.

TTF Eropa dan JKM Asia

Title Transfer Facility (TTF) di Belanda menguat ke level €95,16 per MWh pada penilaian 26 Oktober 2026, naik 0,32% dalam sehari dari penilaian sebelumnya di €94,86 dan menjadi level tertinggi dalam 30 hari terakhir menurut data EnergyRiskIQ. Sementara itu, Japan Korea Marker (JKM) untuk pasar Asia memecahkan rekor lagi ke US$32,28 per MMBtu pada penilaian 27 Oktober 2026, naik 2,48% dalam sehari dari US$31,50. Secara mingguan JKM sudah naik 8,97%, bulanan 24,71%, dan dibanding setahun lalu melonjak 189,57%, karena pembeli LNG di Jepang, Korea Selatan, dan China tetap berlomba mengamankan kargo menjelang musim dingin.

Benchmark Gas AlamHargaPerubahanKawasan
Henry HubUS$2,69/MMBtu+3,35%Amerika Utara
TTF€95,16/MWh+0,32%Eropa (Belanda)
JKMUS$32,28/MMBtu+2,48%Asia (Jepang-Korea)

TTF kini berada di puncak rentang 30 hari €71,20-95,16 per MWh dengan rata-rata €82,52 per MWh. Data CFD TradingEconomics untuk instrumen yang berbeda menunjukkan tren serupa, dengan harga bulanan naik 35,61% dan tahunan melonjak 204,35% per penilaian 27 Oktober 2026, serta level yang sedikit lebih tinggi di €96,66/MWh karena instrumen dan tanggal penilaian yang berbeda dengan penilaian pasar EnergyRiskIQ yang menjadi rujukan utama. Di Asia, JKM tetap berada jauh di atas level Henry Hub, menandakan Asia membayar premium tinggi untuk kargo spot. Katalis utamanya tetap sama: kompetisi LNG antara Eropa dan Asia untuk memperebutkan kargo yang sama di tengah pasokan global yang ketat dan level penyimpanan gas Eropa yang lebih rendah dari rata-rata lima tahun. Harga minyak mentah Brent sendiri turun ke sekitar US$113,84 per barel di tengah harapan damai Amerika Serikat-Iran.

Harga LPG Internasional: Saudi Aramco CP

Saudi Aramco menetapkan Contract Price (CP) untuk Oktober 2026 lebih tinggi dari bulan sebelumnya, mencerminkan permintaan kuat dari sektor petrokimia Asia dan kenaikan harga minyak mentah. CP November 2026 belum diumumkan dan diperkirakan akan dirilis akhir Oktober 2026.

ProdukCP September 2026CP Oktober 2026Perubahan
Propana (C3)US$625/MTUS$680/MT+US$55 (+8,8%)
Butana (C4)US$660/MTUS$730/MT+US$70 (+10,6%)

Kenaikan CP Oktober didorong oleh permintaan kuat dari sektor petrokimia Asia, terutama China dan Korea Selatan, serta kenaikan harga minyak mentah Brent yang menjadi acuan pricing LPG. Butana naik lebih tinggi (+10,6%) dibanding propana (+8,8%) karena permintaan dari sektor gasoline blending yang meningkat menjelang akhir tahun. Dengan harga minyak mentah Brent yang turun ke sekitar US$113,84 per barel di tengah harapan damai AS-Iran, pasar menanti arah CP November yang akan diumumkan akhir Oktober.

Faktor yang Mempengaruhi Harga Gas Alam

Beberapa faktor utama yang menggerakkan harga gas alam global minggu ini:

  • Permintaan musim dingin Asia: Pembeli LNG Jepang, Korea Selatan, dan China masih agresif mengamankan kargo menjelang musim dingin. JKM memecahkan rekor lagi ke US$32,28 per MMBtu, naik 8,97% dalam sepekan, 24,71% dalam sebulan, dan 189,57% dibanding setahun lalu.
  • Musim dingin belahan bumi utara: Level penyimpanan gas Eropa yang lebih rendah dari rata-rata lima tahun mendorong TTF menguat ke €95,16 per MWh, tertinggi dalam 30 hari. Cuaca ekstrem tetap menjadi risiko utama pasar.
  • Perkembangan geopolitik Timur Tengah: Harapan damai Amerika Serikat-Iran menekan harga minyak mentah Brent ke sekitar US$113,84 per barel dan meredakan sebagian premium risiko pengiriman LNG, meski harga gas alam tetap didorong permintaan musim dingin.
  • Cuaca hangat dan shale gas AS: Prakiraan suhu ringan hingga akhir Oktober masih menekan permintaan gas pemanas Amerika Serikat; Henry Hub hanya memantul 3,35% ke US$2,69 per MMBtu setelah jatuh ke terendah sejak akhir April pekan lalu. Produksi shale gas yang melimpah di 111,4 bcfd menambah tekanan ke bawah.
  • Kebijakan energi Indonesia: Pemerintah tetap mempertahankan subsidi LPG 3 kg melalui APBN dan memastikan stok aman di atas standar minimum nasional, menjaga harga konsumen tetap terkendali meski harga internasional naik.

FAQ: Pertanyaan Umum tentang Harga LPG dan Gas Alam

Mengapa harga LPG subsidi 3 kg tidak pernah naik?

Harga LPG 3 kg disubsidi pemerintah melalui APBN dan penyaluran dijamin oleh Pertamina. Meski harga LPG internasional (Aramco CP) naik signifikan, harga di pangkalan tetap Rp19.000 karena perbedaan harga ditanggung oleh negara. Kementerian ESDM memastikan subsidi ini berlanjut hingga akhir 2026 dengan stok yang aman.

Mengapa harga Bright Gas tetap sama di Oktober?

Pertamina Patra Niaga belum melakukan penyesuaian harga Bright Gas setelah penyesuaian terakhir yang berlaku sejak awal Oktober 2026. Meski Aramco CP naik, dampaknya belum diteruskan ke harga ritel karena Pertamina masih menyerap kenaikan dari margin internal.

Mengapa harga JKM Asia tembus rekor tertinggi 12 bulan?

JKM memecahkan rekor lagi ke level tertinggi 12 bulan US$32,28/MMBtu pada penilaian 27 Oktober 2026, naik 2,48% dalam sehari, 8,97% dalam sepekan, 24,71% dalam sebulan, dan 189,57% dibanding setahun lalu. Harga melonjak karena kompetisi memperebutkan kargo LNG antara Asia dan Eropa menjelang musim dingin, ditambah level penyimpanan Eropa yang lebih rendah dari rata-rata lima tahun.

Apa bedanya Henry Hub, TTF, dan JKM?

Henry Hub adalah benchmark gas alam Amerika Utara, TTF untuk Eropa, dan JKM untuk Asia. Harga berbeda karena perbedaan pasokan, permintaan, dan biaya pengiriman LNG antar kawasan. Henry Hub lebih murah karena AS memiliki produksi shale gas yang melimpah, sementara Asia membayar premium tertinggi untuk kargo spot.

Apakah musim dingin 2026 akan membuat harga gas naik tajam?

Tergantung cuaca. Jika musim dingin lebih dingin dari normal, harga gas bisa naik 30-50%. Level penyimpanan Eropa saat ini di bawah rata-rata lima tahun membuat pasar sangat sensitif terhadap setiap sinyal cuaca dingin. Prediksi NOAA dan ECMWF menjadi acuan utama trader.

Key Takeaways

  • LPG 3 kg subsidi tetap Rp19.000 di pangkalan, dijamin tidak naik hingga akhir 2026 dengan stok aman
  • Bright Gas tidak berubah: Rp107.000 (5,5 kg) dan Rp230.000 (12 kg) untuk wilayah Jawa
  • Henry Hub memantul 3,35% ke US$2,69/MMBtu setelah jatuh ke terendah sejak akhir April pekan lalu
  • TTF menguat 0,32% ke €95,16/MWh (tertinggi 30 hari); JKM pecahkan rekor lagi ke US$32,28/MMBtu
  • Aramco CP Oktober tetap berlaku (propana US$680, butana US$730); CP November menunggu pengumuman akhir Oktober

Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual komoditas energi. Harga dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti kondisi pasar. Selalu verifikasi harga terkini dari sumber resmi sebelum melakukan transaksi.

Sumber data: Pertamina Patra Niaga, Kementerian ESDM, TradingEconomics, EnergyRiskIQ, Tindex, BMI Research, Reuters | Penulis: Dana Putra