Tekan Biaya Produksi, Ricky Putra Globalindo Relokasi Pabrik Ke Tegal

Oleh : Hariyanto | Selasa, 22 Agustus 2017 - 08:44 WIB

PT Ricky Putra Globalindo Tbk (Hariyanto/ INDUSTRY.co.id)
PT Ricky Putra Globalindo Tbk (Hariyanto/ INDUSTRY.co.id)

INDUSTRY.co.id - Jakarta - PT Ricky Putra Globalindo Tbk (RICY) terus berupaya menekan biaya produksi setelah sempat merumahkan sebanyak 200 karyawan akibat dari penurunan produksi. Salah satu langkah yang dilakukan perusahaan yang bergerak dibidang pembuatan pakaian dalam dan pakaian fashion ini adalah merelokasi pabrik mereka ke Tegal, Jawa Tengah.

Sebanyak 300 unit mesin dari pabrik yang berada di Bogor akan dipindahan untuk produksi celana dan pakaian dalam di Tegal.
Direktur RICY Tirta Heru Citta mengatakan, saat ini produksi masih pada tahap tes jalan atau trial karena jumlah sumber daya manusianya masih kurang.

"Kami berharap Oktober sudah bisa jalan, tapi trial kemungkinan bisa memakan waktu tiga sampai enam bulan," ujarnya di Jakarta, Senin (21/8/2017).

Tirta menambahkan, relokasi pabrik ini bertujuan untuk menekan biaya produksi, khususnya biaya gaji karyawan. Seperti diketahui, standar upah minimum regional (UMR) di Jawa Tengah memang lebih rendah daripada UMR di Bogor, Jawa Barat.

Menurut Tirta, tingginya UMR di Jabar sangat berpengaruh pada pengeluaran perusahaan. Biaya investasi untuk pengalihan produksi ini senilai Rp 2 miliar hingga Rp 3 miliar. Namun, ia masih belum bisa memprediksi kapasitas produksi yang dapat dihasilkan dari pabrik baru ini.

Saat ini, kapasitas produksi benang sudah diturunkan sebanyak 25% sejak 3 Juli tahun ini. "Awalnya produksi dapat mencapai 4.800-5.000 bales (1 bale = 181,44 kg) yarn per bulan. Sekarang hanya 3.000 bales yarn per bulan," ungkapnya.

Pabrik di Cicalengka, Bandung memiliki kapasitas produksi 60.000 bales yarn per tahun, sedangkan pabrik di Citerup, Bogor memproduksi 30.000 potong pakaian dalam pria. (tan)

 

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Direktur Enterprise & Business Service Telkom Dian Rachmawan (kedua dari kiri), President (ASEAN) Cisco Systems Naveen Menon (kedua dari kanan), Managing Director (ASEAN) Cisco Systems Dharmesh Malhotra (paling kanan) dan Vice President Enterprise Bu

Senin, 21 Mei 2018 - 22:42 WIB

Telkom dan Cisco Mendukung Transformasi Digital BUMN

INDUSTRY.co.id - Jakarta-PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) dan Cisco International Limited (Cisco) sepakat untuk mendukung transformasi digital BUMN. Kesepakatan dua perusahaan tersebut…

Tito Sulistio, Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (Foto Dok Industry.c.id)

Senin, 21 Mei 2018 - 21:46 WIB

MSCI Dikhawatirkan Bakal Turunkan Bobot Investasi Indonesia

Setelah mendepak beberapa saham Indonesia yang terdapat di MSCI Small Cap Indeks beberapa waktu lalu, Morgan Stanley kini mulai memasukkan 302 saham baru yang diambil dari indeks bursa saham…

PTAIA Financial (AIA),salah satu perusahaan asuransi jiwa di Indonesia, memperkenalkan produk baru untuk perlindungan jiwa khusus dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri, yaitu Asuransi Kecelakaan Gratis.

Senin, 21 Mei 2018 - 21:28 WIB

AIA Berikan Asuransi Jiwa Cuma-Cuma untuk Para Pemudik

PT AIA Financial, salah satu perusahaan asuransi jiwa terkemuka di Indonesia,memperkenalkan produk baru untuk perlindungan jiwa khusus dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri, yaitu Asuransi Kecelakaan…

Kris Wijoyo Soepandji berikan orasi GETANKAS: Geopolitik, Ketahanan Nasional, dan Kemerdekaan Sejati (Foto: Jababeka)

Senin, 21 Mei 2018 - 19:39 WIB

Paham Geopolitik Dibutuhkan untuk Samakan Persepsi Bangsa

Pengajar Dasar-Dasar Ilmu Hukum di Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FHUI) Kris Wijoyo Soepandji, mengatakan bahwa dunia saat ini memasuki perang generasi keempat. Perang generasi keempat…

Pengunjung mengamati papan elektronik yang memperlihatkan pergerakan IHSG di gedung BEI (Foto Rizki Meirino)

Senin, 21 Mei 2018 - 19:28 WIB

Penjualan Tunas Baru Lampung Ditargetkan Tumbuh 10-15% pada 2018

Penjualan PT Tunas Baru Lampung Tbk (TBLA) ditargetkan antara Rp9,87-10,31 triliun pada 2018, atau diharapkan tumbuh antara 10-15% dibandingkan dengan realisasi penjualan perseroan pada 2017…