Framing Pencitraan dan Keterkinian

Oleh : Bintang Handayani | Sabtu, 29 April 2017 - 04:52 WIB

Bintang Handayani. (Foto: IST)
Bintang Handayani. (Foto: IST)

INDUSTRY.co.id - Pencitraan (Branding) dalam perspektif tatakelola merujuk pada aspek rasa yang mendekatkan sesama manusia namun juga membentangkan hubungan antara “kita” dan “mereka”. Aspek yang mendekatkan ataupun membentangkan hubungan atara  “kita” dan “mereka” ini merupakan pijakan dari paradoks sebagai basis.

Pembentangan hubungan antara  “kita” dan “mereka” di-framing dengan cantik oleh aspek teknologi dan pendidikan, terlebih kedua aspek tersebut menjadi lebih glamor nan Agung dengan kesuburan benih-benih yang melekat dengan konsepsi Pencitraan.

Pijakan argumen yang saya ingin bagi didasarkan pada aspek-aspek yang menurut saya perlu diulang-kaji, memfokuskan pada dimensi paradoks yang mengkukuhkannya, yaitu hal keterkinian yang patut untuk dipertimbangkan, antara lain: Handheld learning (HL), Autogogy, dan Generasi 3.0.

HL diartikan sebagai suatu horizon terkini proses pembelajaran, yang mana berpijak dari perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK), menitikberatkan pada: (1) Teknologi sebagai sistem pendukung dari proses Pendidikan, yang diasumsikan bukan hanya mengubah pola dan corak siapa yang diajar dan siapa yang mengajar; (2) generasi 3.0 sebagai partisipan aktif dalam proses pembelajaran. Kedua aspek ini diduga dapat membawa paradoks klasik Pendidikan sebagai institusi pemanusiaan Manusia.

Di sisi lain, dengan tidak mengklaim kebenaran hakiki, kedua aspek tersebut (mungkin) akan justru memperjelas paradoks dari pencitraan. Menariknya, paradoks pencitraan sebagaimana jenis fenomena sosial lainnya juga melekat dengan konsepsi populis keterkinian, yaitu korban pencitraan, Manusia sebagai subjek pembentuk pencitraan dan Manusia sebagai objek pencitraan (objek).

Saya ingat dengan jelas beberapa tahun lalu, salah seorang Profesor saya bertanya kepada saya motivasi saya untuk sambung studi. Sebelum sempat saya menjawab, beliau mengatakan hal yang sampai saat ini saya ingat yaitu tentang fenomena korban pencitraan. Dikatakan bahwa kami yang pada akhir pekan, yang memilih untuk duduk di kampus dan mendengarkan kuliahnya adalah manusia korban pencitraan. Sejak saat itu, saya berusaha menghadiri kuliah beliau dengan duduk dipojok kelas baris kelima dari depan di lecture hall, menghindari sejuknya hawa AC tepatnya, bukan menghindari beliau menunjuk saya untuk berbagi pemikiran di pagi cerah dibulan September. Apa yang menarik dari pengalaman kuliah dengan beliau, semoga bagian akhir dari tulisan ini secara implisit terpapar. Untuk itu, mari pergi kehorizon masa kini.

Pendidikan, yang mana diartikan sebagai proses pemanusiaan Manusia secara klasik telah banyak dieksplorasi dari berbagai sudut pandang, dari yang pro dan kontra, menyarankan argumen yang memberi cita rasa pada paradoks Pendidikan. Hal tersebut dapat dieksplorasi dari konsepsi Autogogy  yang dilahirkan dari ranah HL yang mana melekat dengan generasi 3.0 serta perkembangan TIK. 

HL dan  Autogogy diibaratkan seperti koin mata uang, diartikan sebagai model terkini proses pemanusiaan Manusia.  Dengan tidak melupakan hakekat aspek penting dari proses pemanusiaan Manusia, aspek Manusia disini diterjemahkan sebagai bukan hanya Manusia yang ingin di-Manusiakan (partisipan proses belajar-mengajar) oleh sekelompok Manusia lain (tenaga pendidik) yang dipercaya dapat memberi perubahan, menjadikan Manusia lebih humanis.

Dasar dari Autogogy yang berasal dari ranah HL menurut saya bukan hanya memperkukuh citarasa dari paradoks Pendidikan sebagai institusi pemanusiaan Manusia, namun juga dapat membuka cakrawala ketepatan strategi bangsa dalam membina anak bangsanya.  Secara teknis, Autogogy adalah aktif partisipan dalam horizon Pendidikan.

Aktif partisipan didalam konsep Autogogy memberikan penekanan pada tatakelola kemandirian belajar dan penetapkan tujuan dengan dukungan infrastruktur yang memadai dan jaringan orang-orang (people network). Partisipan berperan sebagai objek sekaligus sebagai subjek, sehingga fokus utamanya adalah knowledge sharing (Heutagogy).

Dikatakan bahwa sejarah Pendidikan melekat dengan peradaban. Pendidikan sebagai institusi dan dalam sejarah berdirinya Universitas, sekaranglah kondisi dimana Pendidikan sebagai institusi dan Universitas tidak lagi dapat dengan pasti memengaruhi (baca: mempersiapkan) masa depan generasi. Menarik namun tidak mengejutkan, TIK bukan hanya mengubah bagaimana Manusia dan masyarakat berindak tanduk, namun juga tendensi klasik institusi pendidikan dan Universitas telah dipaksa untuk mengikuti laju kerterkinian TIK yang sejoli bergerak dengan generasi 3.0 dan generasi selanjutnya.

Generasi 3.0 yang dalam abad ini (kebetulan) selari dengan Autogogy dipandang dapat mengakselarasi perubahan yang membentuk model terkini dari partisipan proses belajar-mengajar dengan tenaga pendidik. 

Keterkinian dari model ini mengfokuskan pada: (1) sharing, menyajikan linked documents, data, dsb; (2) contributing, mendayagunakan media sosial sebagai medium untuk komunikasi kelompok; (3) co-creating, jaringan yang memfasilitasi kerjasama kelompok, berdasarkan pada kesamaan tujuan.

Apa yang lebih, memekarnya konsep Autogogy yang sejalan dengan generasi 3.0 ini mengisyaratkan penekanan pada: (1) bukan hanya partisipan aktif dalam horizon pendidikan, namun juga lebih pada penekanan kebolehan (bebas) memilih program studi sesuai skup minat area studi yang diinginkan dan bagaimana teknis cara penguasaan bidang kaji (skup studi); (2) pemilihan program studi sesuai skup minat area studi yang diinginkan cenderung didasarkan pada pengaruh sosial dan literasi akan unsur keperluan. Nampak mengesankan, seagung strategi sebagai bagian integral dari proses pencitraan.

Oleh sebab itu, soalan reflektif yang patut dicermati kemudian adalah: (1) adakah konsepsi keterkinian generasi 3.0 yang selari dengan Autogogy mengakselarasi perubahan pada konsepsi Pemanusiaan Manusia? (2) Bagaimana kita yakin proses pemanusiaan Manusia bukanlah sekedar pencitraan? (3) Seberapa terkini konsepsi “keterkinian” dalam konteks generasi 3.0 dan Autogogy

Koreksi atas daya ingat, teringat dan mengingat, pencitraan yang dikategorikan ampuh dan betul adalah pencitraan yang dapat menstimulus daya ingat, menggugah orang untuk teringat dan mengingat. Nama saya Bintang, saya mengingat mu wahai Profesor yang mengatakan kepada saya bahwa beliau sering menyebut nama saya ketika memberi kuliah adalah karena nama saya mudah diingat. Hmm, terimakasih, Ibunda tercinta, begitu kata seorang anak dengan penuh kasih, walaupun dia begitu mengagumi Ayahandanya.

Untuk tidak menjadi egois, untuk mengingat dan teringat jika transendal menghampiri, untuk menjadi santun dan berdaya guna, untuk menunduk jika isi kepala telah menjadi berisi seperti padi, untuk bersama-sama jika pikulan terlalu berat, dan untuk dapat menertawakan kesilapan dan menambah-baiki kekurangan.  Untuk itu, generasi 3.0 dan Autogogy sepatutnya tidak dipandang sebagai keterkinian semata; karena sesungguhnya keterkinian adalah pengulangan atas masa lampau yang muncul kembali; karena generasi 3.0 pun juga akan menjadi tidak “terkini” ketika generasi 4.0 datang dengan suka hati melekat dengan kecanggihan citra dan identitas mengagumkan, diiringi oleh saduran dari Autogogy versi terkini. Tidak kalah tepat, yang membedakan pencitraan dan keterkinian (sepatutnya) adalah aspek humanis pemanusiaan Manusia itu sendiri, bukan?  

Bintang Handayani, Ph.D adalah Dosen dan Peneliti Senior di President University, Cikarang, Indonesia. Kajian penelitiannya berkisar pada Pencitraan Pariwisata Gelap, Penggunaan Teknologi pada situs kematian, Citra Merek Pelancongan dan Personifikasi Bangsa, serta studi Media & Komunikasi.  

 

 

 

 

Komentar Berita

Industri Hari Ini

FOTO LOW CARB

Sabtu, 20 April 2019 - 01:33 WIB

Indonesia Menjadi Tuan Rumah Untuk Seminar Pertama Yang Mengangkat Karbohidrat

April 2019 (Jakarta, Indonesia), Low Carb Indonesia (LCI) bekerjasama dengan Low Carb USA mengadakan Indonesia International Low Carb Conference (IILCC) 2019 yang akan berlangsung selama 2 hari…

Chatuchak Weekend Market (Foto Dok Industry.co.id)

Jumat, 19 April 2019 - 21:00 WIB

Penting Dicatat Para Shopaholic! Enam Destinasi Belanja di Seluruh Dunia

Ada banyak cara untuk mengangkat suasana hati seseorang, namun terapi ritel tidak diragukan lagi merupakan pilihan populer di antara banyak orang Indonesia, terutama ketika mereka bepergian.

Menristekdikti Mohamad Nasir (Foto Dok Humas)

Jumat, 19 April 2019 - 19:00 WIB

Menristekdikti: Revolusi Industri 4.0 Perlu Peningkatan Pendidikan Vokasi

Di era Revolusi Industri 4.0 ini, mutu dan relevansi pendidikan tinggi vokasi terhadap industri perlu ditingkatkan, agar Indonesia dapat memenuhi kebutuhan tenaga profesional dalam industri…

Rumah Gadang Minang Sumatera Barat (Foto Ist)

Jumat, 19 April 2019 - 17:00 WIB

Industri Pariwisata, Andalan PAD Kabupaten Agam Sumbar

Pemerintah Kabupaten Agam, Sumatera Barat menargetkan pendapatan asli daerah (PAD) sebesar Rp140 juta dari tiga objek wisata milik pemerintah setempat selama 2019.

CK Fong Presiden Direktur Treasure Bay Bintan (Foto Dok Industry.co.id)

Jumat, 19 April 2019 - 15:00 WIB

Setahun, Treasure Bay Bintan Dikunjungi 180 Ribu Wisatawan

Objek wisata Treasure Bay yang ada di kawasan wisata Lagoi, Bintan masih menjadi objek wisata unggulan di Pulau Bintan bahkan di Kepri. Pada 2018 saja, resort yang dibangun dilahan seluas 338…