Link & Match Dan Bonus Demografi

Oleh : George Hadi Santoso, Ketua Yayasan Pendidikan Universitas Presiden | Senin, 05 Desember 2016 - 13:01 WIB

George Hadi Santoso, Ketua Yayasan Pendidikan Universitas Presiden
George Hadi Santoso, Ketua Yayasan Pendidikan Universitas Presiden

INDUSTRY.co.id - Indonesia berpotensi menikmati bonus demografi pada 2020-2030. Selama kurun waktu tersebut, jumlah usia angkatan kerja (15-64 tahun) akan mencapai sekitar 70% dari seluruh jumlah penduduk. Sisanya, yang 30%, adalah penduduk usia tidak produktif. Ini karena usia mereka masih di bawah 14 tahun, atau di atas 65 tahun.

Struktur usia penduduk yang seperti ini sangat menguntungkan kita. Dengan penduduk usia produktif yang berlimpah, jika kita berhasil memanfaatkannya, Indonesia akan naik kelas kelas dari negara sedang berkembang menjadi negara maju.

Hanya persoalannya, betulkah penduduk kita yang berusia 15-64 tahun pada 2020-2030, yang jumlahnya hampir 180 juta jiwa, seluruhnya merupakan tenaga kerja yang produktif?

Saya tahu, kita punya banyak masalah di sini. Misalnya, jumlah lulusan perguruan (PT) yang menganggur terus meningkat. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2015, tingkat pengangguran terbuka mencapai 7,45 juta jiwa. Dari jumlah tersebut, 5,34%-nya lulusan PT. Bandingkan dengan tahun sebelumnya yang 4,31%.
Masih adanya lulusan PT yang menganggur adalah potret dari kualitas pendidikan tinggi kita, dan sekaligus kondisi makroekonomi.

Dari sisi makroekonomi, misalnya, tingkat pertumbuhan ekonomi kita pada 2015 hanya 4,79%, atau terendah selama enam tahun terakhir. Sementara, tahun 2014 kita masih tumbuh 5,01%. Kondisi ini tentu besar pengaruhnya terhadap penyerapan tenaga kerja.

Di sisi lain, dari sudut pandang PT, masih banyak lulusan yang kompetensi dan program studinya tak sesuai dengan kebutuhan pasar. Jadi belum link & match. Lalu, masih banyak perusahaan mencari tenaga kerja yang sudah berpengalaman. Ini tentu masalah bagi fresh graduate.

Apa pun alasannya, kondisi ini tentu harus dibenahi oleh PT dan stakeholder-nya. Kalau tidak, akan semakin banyak lulusan PT yang kurang berkualitas dan, seiring dengan era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), kalah bersaing dengan tenaga kerja asal negara-negara tetangga.

Apalagi era MEA juga membuka peluang bagi perusahaan-perusahaan yang ada di sini untuk memindahkan pabriknya ke negara lain. Mereka mencari lokasi-lokasi yang lebih kompetitif.

Intinya, keduanya akan berimbas pada kian banyaknya lulusan PT kita yang menganggur.
Baiklah, saya tak ingin hanya menyodorkan masalah. Lalu, apa solusinya? Setidak-tidaknya ada beberapa hal.
Pertama, perlunya PT menerapkan program magang yang berkualitas. Selama ini kesannya program magang hanya basa-basi. Durasinya hanya 2-3 bulan. Dengan durasi sependek itu, tak banyak yang bisa dipelajari mahasiswa. Maka, durasi magang perlu diperpanjang, Bisa 6 bulan hingga satu tahun.
 
Melalui program magang, mahasiswa bisa meningkatkan soft competence-nya. Misalnya, bagaimana cara melakukan presentasi yang baik, cara berinteraksi dengan sesama karyawan, disiplin, membangun sikap dan perilaku yang positif, dan masih banyak lagi. Dengan cara seperti ini, begitu selesai magang, lulusan PT bisa langsung siap bekerja.
 
Kedua, pererat kerja sama PT dengan industri. Kalau perlu libatkan industri dalam penyusunan kurikulum PT atau kerja sama riset. Atau, jadikan PT menjadi semacam corporate university.

Ketiga, saya berharap pemerintah bisa memberikan insentif bagi PT yang membuka program studi sesuai dengan kebutuhan industri. Insentifnya bisa berupa bantuan untuk PT, atau beasiswa untuk mahasiswanya.
 
Usulan lain, pemerintah perlu melakukan fasilitasi agar gagasan link & match betul-betul terealisasi. Misalnya, dengan membentuk gugus tugas link & match atau regulasi dan insentif yang mendorong PT dan perusahaan untuk bekerja sama.

Kalau ini bisa kita lakukan—dan kita masih punya cukup waktu untuk itu, akan banyak lulusan PT yang bakal diserap pasar. Dan, kita akan betul-betul menikmati bonus demografi tersebut.

 

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Chatuchak Weekend Market (Foto Dok Industry.co.id)

Jumat, 19 April 2019 - 21:00 WIB

Penting Dicatat Para Shopaholic! Enam Destinasi Belanja di Seluruh Dunia

Ada banyak cara untuk mengangkat suasana hati seseorang, namun terapi ritel tidak diragukan lagi merupakan pilihan populer di antara banyak orang Indonesia, terutama ketika mereka bepergian.

Menristekdikti Mohamad Nasir (Foto Dok Humas)

Jumat, 19 April 2019 - 19:00 WIB

Menristekdikti: Revolusi Industri 4.0 Perlu Peningkatan Pendidikan Vokasi

Di era Revolusi Industri 4.0 ini, mutu dan relevansi pendidikan tinggi vokasi terhadap industri perlu ditingkatkan, agar Indonesia dapat memenuhi kebutuhan tenaga profesional dalam industri…

Rumah Gadang Minang Sumatera Barat (Foto Ist)

Jumat, 19 April 2019 - 17:00 WIB

Industri Pariwisata, Andalan PAD Kabupaten Agam Sumbar

Pemerintah Kabupaten Agam, Sumatera Barat menargetkan pendapatan asli daerah (PAD) sebesar Rp140 juta dari tiga objek wisata milik pemerintah setempat selama 2019.

CK Fong Presiden Direktur Treasure Bay Bintan (Foto Dok Industry.co.id)

Jumat, 19 April 2019 - 15:00 WIB

Setahun, Treasure Bay Bintan Dikunjungi 180 Ribu Wisatawan

Objek wisata Treasure Bay yang ada di kawasan wisata Lagoi, Bintan masih menjadi objek wisata unggulan di Pulau Bintan bahkan di Kepri. Pada 2018 saja, resort yang dibangun dilahan seluas 338…

Kota Baru Meikarta Cikarang (Ist)

Jumat, 19 April 2019 - 14:00 WIB

Solusi Hunian Baru, Meikarta Pasarkan Unit Baru Seharga Rp280 Juta

Meikarta, hunian yang berlokasi di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat kembali memasarkan unit barunya dengan harga mulai Rp280 juta sebagai solusi bagi masyarakat yang ingin mencari hunian…