INDUSTRY.co.id - Jakarta, Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) berharap subsidi peremajaan mesin dari pemerintah khususnya Kementerian Perindustrian segera terealisasi pada awal tahun 2018 guna mengejar ketertinggalan produktivitas industri mebel dan kerajinan nasional.

Advertisement

Wakil Ketua Umum HIMKI, Abdul Sobur mengatakan, kami telah mengajukan permohohan alokasi dana guna kebutuhan restrukturisasi permesinan industri mebel dan kerajinan sejak Januari 2017 lalu ke Kementerian Perindustrian (Kemenperin).

"Saya dapat pastikan subsidi dari Kemenperin akan turun pada tahun depan. Namun, kami belum mengetahui pasti berapa nominal yang akan didapatkan," ujar Sobur kepada wartawan saat konferensi pers di Jakarta, Kamis (28/9/2017).

Advertisement

Ia menambahkan, dalam permohonan tersebut perusahaan yang tergabung dalam Himki ini akan diberikan sejumlah dana untuk membeli mesin baru secara impor. "Produktivitas Indonesia masih kalah dari China, mereka (China) bisa 5 kali lebih cepat dari kita," terangnya.

Menurutnya pada tahun depan diperkirakan dana subsidi dari Kemenperin dapat mencapai Rp50 miliar. Dia menambahkan jumlah tersebut akan terus meningkat hingga mencapai Rp100 miliar.

Advertisement

"Dana subsidi tersebut harus dihabiskan agar nilainya tidak menurun pada 2019. Dengan begitu semisal turun dana Rp100 miliar, maka akan ada pembelian sekitar Rp400 miliar untuk mesin baru demi menghabiskan anggaran tersebut. Jika subsidi terserap semua maka sudah dipastikan ada pertumbuhan karena produktivitas naik," imbuhnya.

Abdul mengatakan langkah dari Kemenperin memberikan subsidi tersebut guna meningkatkan daya saing produk lokal di pasar dunia. Dia mencatat jika sumber (source) industri furnitur Indonesia lebih banyak dibandingkan dengan China, namun tidak bisa lebih produktif daripada Negeri Tirai Bambu tersebut.

Advertisement

Abdul mengungkapkan dalam permohonan yang diajukan pada Januari 2017 lalu ditambahkan point mengenai Kemudahan Impor Tujuan Ekspor (KITE). Fasilitas pembebasan biaya ekspor tersebut dianggap dapat menjadi salah satu penunjang pertumbuhan ekspor produk mebel dan kerajinan.

Selain itu, lanjut Sobur, permodalan juga harus diperhatikan, bunga pinjaman di Indonesia saat ini seberar 12 persen lebih tinggi dibandingkan dengan China yang mencapai 4-5 persen dan Asia rata-rata 6-8 persen.

Sementara itu, Himki mengapresiasi program vokasi yang dikelola oleh Kemenperin guna meningkatkan kompetensi sumber daya manusia (SDM) di bidang furnitur. "Saat ini sudah tersedia sekolah guna memenuhi kebutuhan tenaga terampil di bidang ini melalui Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Kendal. Rencana ke depan akan semakin banyak SMK yang konsen pada bidang mebel dan kerajinan," imbuhnya.