INDUSTRY.co.id - JAKARTA — Harga emas kembali bergerak melemah tipis pada awal perdagangan Senin (10/8), dengan harga berada di level US$4.340 per troy ons. Pergerakan emas masih dibayangi arah kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed) serta perkembangan geopolitik yang berpotensi memengaruhi inflasi global.

Pelemahan harga emas terjadi di tengah menurunnya ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed. Data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang menunjukkan pelemahan membuat imbal hasil obligasi AS turun, sehingga meningkatkan daya tarik emas sebagai aset safe haven yang tidak memberikan imbal hasil.

Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September berada di sekitar 44%. Dengan demikian, tekanan dari sisi kebijakan moneter terhadap harga emas relatif mereda.

Namun, ruang penguatan emas masih menghadapi sejumlah risiko. Dari sisi geopolitik, ketidakpastian mengenai Selat Hormuz kembali menjadi perhatian pasar setelah Iran belum memberikan kepastian terkait pembukaan kembali jalur pelayaran tersebut.

Situasi tersebut turut mendorong harga minyak kembali menguat. Kenaikan harga energi berpotensi meningkatkan kembali tekanan inflasi global. Jika tekanan inflasi meningkat, The Fed berpotensi mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama, yang pada akhirnya dapat membatasi ruang penguatan harga emas.

Perhatian investor dalam jangka pendek kini beralih ke data inflasi AS, khususnya Consumer Price Index (CPI) Juli yang dijadwalkan dirilis pekan ini. Data tersebut akan menjadi salah satu indikator penting bagi pasar dalam membaca arah kebijakan The Fed ke depan.

Konsensus pasar memperkirakan inflasi AS akan meningkat tipis. Jika realisasi CPI berada di atas ekspektasi, dolar AS berpotensi kembali menguat dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dapat meningkat. Kondisi tersebut berpotensi menekan harga emas.

Sebaliknya, apabila data inflasi berada di bawah perkiraan pasar, tekanan terhadap The Fed untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat akan berkurang. Kondisi itu dapat membuka ruang bagi penguatan emas karena imbal hasil obligasi dan dolar AS berpotensi melemah.

Dari sisi teknikal, harga emas saat ini menghadapi sejumlah level penting yang perlu diperhatikan investor. Level support terdekat berada di kisaran US$4.256 hingga US$4.172 per troy ons. Jika tekanan jual semakin kuat, support berikutnya berada di area US$4.030.

Sementara itu, level resistance terdekat berada di kisaran US$4.398 hingga US$4.456. Apabila mampu menembus area tersebut, harga emas berpeluang menguji resistance jangka menengah di sekitar US$4.598 per troy ons.

Dengan demikian, pergerakan harga emas dalam waktu dekat akan sangat ditentukan oleh kombinasi data inflasi AS, arah imbal hasil obligasi, pergerakan dolar AS, serta perkembangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.