INDUSTRY.co.id - Jakarta tidak pernah benar-benar kehabisan ruang. Ketika permukaan tanah semakin padat oleh kendaraan, gedung, jalur kereta, dan berbagai infrastruktur kota, solusi konektivitas pun perlahan bergerak ke atas.
Di kawasan Dukuh Atas, Jakarta Pusat, gagasan itu akan diwujudkan dalam bentuk sebuah pedestrian deck melingkar yang oleh publik mulai dikenal sebagai “Jembatan Donat”.
Namanya terdengar ringan. Namun di balik bentuknya yang menyerupai cincin, tersimpan pekerjaan engineering yang jauh lebih rumit daripada sekadar membangun jembatan penyeberangan orang.
Pedestrian Deck Dukuh Atas dirancang memiliki diameter sekitar 100 meter dan berada sekitar 8 meter di atas permukaan Jalan Jenderal Sudirman. Struktur utamanya menggunakan baja dan dirancang untuk menyediakan ruang bebas yang panjang tanpa menempatkan kolom tambahan di tengah bentang.
Nilai proyeknya berada di kisaran Rp300 miliar hingga Rp361 miliar, dengan pendanaan dari PT MRT Jakarta di luar APBD DKI Jakarta.
Bukan Sekadar JPO
Jika JPO pada umumnya hanya berfungsi memindahkan pejalan kaki dari satu sisi jalan ke sisi lainnya, pedestrian deck Dukuh Atas memiliki ambisi yang berbeda.
Struktur ini dirancang menjadi simpul konektivitas pejalan kaki yang menghubungkan empat kuadran kawasan Dukuh Atas, yakni area GRHA BNI, The Landmark Center, Pertokoan Blora, dan kawasan MRT Dukuh Atas.
Lebih dari itu, deck tersebut ditujukan untuk mengintegrasikan enam moda transportasi yang bertemu di kawasan ini: MRT Jakarta, KRL Commuter Line, Kereta Bandara, TransJakarta, LRT Jabodebek, dan LRT Jakarta.
Dengan begitu, perjalanan antarmoda diharapkan tidak lagi terasa seperti berpindah-pindah pulau infrastruktur. Semuanya diarahkan untuk bertemu dalam satu jaringan pedestrian yang terintegrasi.
Lingkaran Baja di Atas Sudirman
Bagian paling menarik dari proyek ini justru berada pada struktur yang tidak terlihat dari permukaan.
Pedestrian deck dirancang memiliki bentang bebas sekitar 66 meter di atas Sungai Ciliwung dan sekitar 66 meter di atas Jalan Jenderal Sudirman, tanpa kolom tambahan di tengah bentang.
Keputusan tersebut bukan semata-mata persoalan estetika.
Di bawahnya terdapat arus lalu lintas yang harus tetap bergerak, sementara Sungai Ciliwung juga harus tetap berfungsi. Menempatkan kolom di tengah bentang akan menambah hambatan sekaligus memperumit konstruksi.
Karena itu, struktur harus mampu membawa bebannya sendiri dan beban pejalan kaki dengan jumlah tumpuan yang terbatas.
Di sinilah baja menjadi bagian penting dari strategi desain.
Kenapa Menggunakan Baja?
Struktur utama pedestrian deck menggunakan sistem baja, termasuk konsep steel box girder/struktur baja, untuk mendapatkan struktur yang relatif ringan sekaligus mampu mengakomodasi bentang panjang.
Secara material, baja memang memiliki berat jenis lebih tinggi dibandingkan beton. Baja berada di kisaran 7.850 kg/m³, sedangkan beton sekitar 2.400 kg/m³.
Namun perbandingan tidak berhenti pada berat jenis material.
Struktur baja dapat menggunakan penampang yang lebih tipis dan efisien sehingga kebutuhan material struktural dapat ditekan. Dalam konteks jembatan dengan bentang panjang dan lokasi yang sangat padat, pengurangan bobot struktur berarti beban yang harus diteruskan ke tumpuan dan pondasi juga dapat dikendalikan.
Itulah salah satu alasan mengapa baja menjadi pilihan yang logis untuk struktur seperti ini.
Dengan beban rencana sekitar 500 kg/m², struktur harus tetap mampu melayani pergerakan pejalan kaki dalam jumlah besar sekaligus memenuhi persyaratan keselamatan dan kenyamanan.
Tantangan Terbesar Justru Ada di Bawah Tanah
Bentuk cincin dan bentang panjang mungkin menjadi bagian proyek yang paling mudah dilihat. Tetapi bagi para engineer, tantangan yang jauh lebih serius justru berada di bawah permukaan.
Sebagian pondasi harus dibangun di kawasan yang berdekatan dengan terowongan MRT yang tetap beroperasi.
Artinya, pekerjaan konstruksi tidak berlangsung di atas lahan kosong.
Setiap pekerjaan pondasi harus mempertimbangkan keberadaan infrastruktur bawah tanah yang sudah aktif. Posisi tumpuan, metode konstruksi, urutan pekerjaan, hingga pengendalian getaran menjadi bagian dari persoalan yang harus diperhitungkan.
Di sisi selatan, terdapat persoalan lain: rumah pompa pengendali genangan di kawasan underpass Sudirman harus tetap beroperasi selama proses pembangunan.
Dengan kata lain, proyek ini harus tumbuh di tengah sistem kota yang tidak boleh berhenti.
Kereta tetap berjalan. Kendaraan tetap melintas. Sistem pengendalian genangan tetap bekerja. Dan enam moda transportasi di kawasan Dukuh Atas tetap harus melayani masyarakat.
Karena kondisi lapangan tersebut, desain proyek mengalami penyesuaian berdasarkan hasil kajian teknis dan kondisi eksisting di kawasan.
Kenapa Harus 8 Meter di Atas Jalan?
Dari permukaan Jalan Sudirman, pedestrian deck direncanakan berada sekitar 8 meter di atas jalan.
Ruang kosong tersebut bukan sekadar memberikan kesan bahwa jembatan “melayang” di atas jalan.
Ketinggian ruang bebas merupakan bagian dari persyaratan keselamatan dan operasional jalan, termasuk untuk memastikan kendaraan berukuran besar dan kendaraan darurat dapat melintas di bawah struktur.
Dengan demikian, ruang di bawah deck tetap menjadi bagian aktif dari sistem transportasi kota.
Dari Groundbreaking hingga 2028
Proyek Pedestrian Deck Dukuh Atas resmi dicanangkan dan dilakukan groundbreaking pada 21 Juni 2026 oleh Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, bertepatan dengan perayaan HUT ke-499 Kota Jakarta.
Memasuki Juli–Agustus 2026, proyek berada pada fase penyelesaian basic design dan proses tender untuk menentukan kontraktor pelaksana.
Jika tahapan berjalan sesuai rencana, kontraktor pemenang ditargetkan mulai masuk ke lapangan pada November 2026 untuk memulai pekerjaan konstruksi fisik.
Target akhirnya adalah akhir 2028, ketika pedestrian deck tersebut diharapkan sudah selesai dan dapat digunakan masyarakat.
Ikon Baru di Atas Simpul Tranportasi Jakarta
Jembatan “Donat” pada akhirnya bukan hanya soal bentuk lingkaran yang unik.
Di balik struktur baja sepanjang bentang puluhan meter itu terdapat persoalan klasik pembangunan infrastruktur perkotaan modern: bagaimana membangun sesuatu yang baru tanpa menghentikan sistem yang sudah berjalan.
Enam moda transportasi harus tetap bergerak. Jalan Sudirman harus tetap hidup. Sungai harus tetap mengalir. Rumah pompa harus tetap bekerja. Terowongan MRT harus tetap melayani penumpang.
Dan di tengah semua itu, sebuah cincin baja berdiameter sekitar 100 meter akan dibangun di atasnya.
Jika rampung sesuai target, Pedestrian Deck Dukuh Atas bukan hanya akan menjadi jalur bagi pejalan kaki, tetapi juga sebuah contoh bagaimana infrastruktur baru dapat disisipkan ke dalam kota yang ruangnya sudah sangat terbatas.
Sebuah “donat” raksasa dari baja, yang secara perlahan akan mengubah cara orang berpindah di salah satu simpul transportasi tersibuk Jakarta.