INDUSTRY.co.id - Jakarta, Transformasi perusahaan tidak semata-mata soal memangkas struktur organisasi. Lebih dari itu, transformasi diarahkan untuk membangun bisnis yang lebih fokus, sehat, efisien, dan mampu tumbuh secara berkelanjutan.
Arah tersebut tengah ditempuh PT Brantas Abipraya melalui proses streamlining Grup Brantas Abipraya. Perusahaan konstruksi pelat merah itu akan memangkas 29 entitas usaha dari total 30 entitas yang sebelumnya berada dalam grup.
Dengan demikian, setelah proses restrukturisasi rampung, Brantas Abipraya akan kembali dengan struktur yang lebih ramping dan berfokus pada satu bisnis utama, yakni kontraktor.
Dalam pertemuan dengan jajaran direksi Brantas Abipraya, Kepala BP BUMN sekaligus Chief Operating Officer Danantara Indonesia Dony Oskaria menegaskan pentingnya mengembalikan perusahaan kepada bisnis inti.
“Jadi saya harapkan setelah pembersihan ini semua, ke depannya betul-betul fokus kepada bisnis kontraktor,” ujar Dony.
Ia menilai pertumbuhan perusahaan tidak seharusnya hanya dilihat dari seberapa banyak proyek yang berhasil diperoleh. Kualitas proyek, disiplin pelaksanaan, serta kemampuan menghasilkan keuntungan yang sehat justru menjadi fondasi utama pertumbuhan perusahaan.
Karena itu, penguatan fundamental bisnis menjadi bagian penting dalam proses transformasi Brantas Abipraya. Pemilihan proyek harus semakin selektif, efisiensi ditingkatkan, kualitas pekerjaan dijaga, dan kemampuan eksekusi diperkuat.
Dalam proses tersebut, Brantas Abipraya diarahkan menjadi salah satu perusahaan yang lebih fokus dan sehat di lingkungan BUMN Karya.
“Jadi nanti kan habis semua anak-anaknya nih, tinggal Abipraya, tinggal induknya nih,” kata Dony.
Pernyataan tersebut menggambarkan arah restrukturisasi yang sedang dijalankan: menyederhanakan struktur grup agar sumber daya perusahaan tidak lagi tersebar pada berbagai entitas dan lini usaha, melainkan terkonsentrasi pada kapabilitas yang menjadi kekuatan utamanya.
“Dan Brantas ini termasuk perusahaan yang paling sehat,” lanjutnya.
Proses streamlining ini juga menjadi bagian dari agenda transformasi BUMN secara nasional. Danantara bersama BP BUMN mengawal agar perusahaan-perusahaan negara kembali memperkuat core business dan meninggalkan struktur usaha yang dinilai tidak lagi memberikan nilai optimal.
Bagi Brantas Abipraya, penyederhanaan tersebut bukan sekadar pengurangan jumlah entitas. Langkah ini menjadi momentum untuk memperbaiki fundamental perusahaan sekaligus membangun model bisnis yang lebih disiplin.
Dengan hanya menyisakan induk dan fokus pada bisnis kontraktor, Brantas Abipraya diharapkan dapat mengoptimalkan sumber daya, memperkuat profitabilitas, dan meningkatkan kualitas eksekusi proyek.
Transformasi itu pada akhirnya diarahkan bukan sekadar agar Brantas Abipraya menjadi perusahaan yang lebih kecil, melainkan menjadi perusahaan konstruksi yang lebih fokus, profesional, sehat, dan berkelanjutan dalam menghasilkan karya bagi pembangunan Indonesia.