INDUSTRY.co.id - JAKARTA — Industri pasar modal Indonesia mendapat suntikan instrumen baru melalui peluncuran Exchange-Traded Fund (ETF) Emas. Kehadiran produk berbasis emas ini berpotensi membuka ruang pertumbuhan baru bagi industri manajer investasi sekaligus memperlebar sumber likuiditas di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Peluncuran ETF Emas menjadi bagian dari agenda pemerintah untuk memperdalam pasar keuangan nasional. Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menilai diversifikasi instrumen menjadi salah satu kunci agar pasar modal Indonesia tidak hanya bertambah besar dari sisi jumlah investor, tetapi juga semakin likuid dan mampu bersaing dengan pasar regional maupun global.

"Pasar modal memegang peran strategis sebagai sumber pembiayaan swasta. Ia adalah jembatan yang menghubungkan kebutuhan pembiayaan korporasi dengan dana masyarakat. Ia adalah sumber pembiayaan yang efisien, transparan, dan berkeadilan," tegas Juda Agung dalam Peringatan HUT ke-49 Kebangkitan Pasar Modal Indonesia di BEI, Senin (10/8).

Momentum tersebut datang ketika basis investor domestik terus membesar. Sepanjang semester I 2026, penghimpunan dana melalui pasar modal telah menembus lebih dari Rp125 triliun, sementara jumlah investor pasar modal mencapai sekitar 28 juta investor.

Bagi industri manajer investasi, pertumbuhan basis investor tersebut menciptakan pasar yang semakin besar untuk produk investasi berbasis bursa. ETF Emas dapat menjadi alternatif untuk menjaring investor yang menginginkan eksposur terhadap emas tanpa harus melakukan pembelian dan penyimpanan emas fisik secara langsung.

Kehadiran instrumen tersebut juga berpotensi mengubah peta persaingan di industri pengelolaan investasi. Manajer investasi tidak lagi hanya dituntut menawarkan produk reksa dana konvensional, tetapi harus semakin agresif menghadirkan instrumen yang mudah diperdagangkan, transparan, dan sesuai dengan kebutuhan investor ritel.

Di sisi lain, bagi BEI, bertambahnya produk ETF dapat memperkaya aktivitas perdagangan di bursa. Semakin beragam instrumen yang tersedia, semakin besar pula peluang peningkatan transaksi dan kedalaman pasar, terutama jika ETF mampu menarik basis investor ritel yang selama ini menjadi salah satu motor pertumbuhan pasar modal domestik.

Juda mengatakan pemerintah memang mendorong agar pasar modal Indonesia memiliki instrumen yang lebih beragam sekaligus likuiditas yang lebih kuat.

“Kita perlu terus memperluas basis investor, menambah keragaman instrumennya, meningkatkan likuiditas, serta memperkuat tata kelola pasar modal Indonesia,” ujarnya.

Peluang pengembangan ETF Emas juga terbuka lebar jika melihat tren global. Juda mencatat aset kelolaan ETF emas global telah mencapai US$559 miliar pada 2025, dengan kepemilikan emas mencapai 4.025 ton.

Angka tersebut menunjukkan bahwa ETF berbasis emas bukan sekadar produk investasi alternatif, tetapi telah berkembang menjadi salah satu instrumen penting dalam ekosistem pasar keuangan global. Indonesia pun berpeluang menangkap pertumbuhan tersebut seiring meningkatnya jumlah investor domestik dan kebutuhan terhadap diversifikasi portofolio.

Meski begitu, ekspansi ETF Emas tidak bisa hanya mengejar pertumbuhan dana kelolaan dan volume transaksi. Karena memiliki underlying berupa emas fisik, kredibilitas produk sangat bergantung pada transparansi pengelolaan aset, mekanisme penyimpanan, valuasi, hingga akuntabilitas transaksi.

Juda menegaskan aspek integritas menjadi faktor penting untuk memastikan inovasi instrumen baru tidak mengorbankan kepercayaan investor.

"Inovasi membutuhkan integritas, dan integritas adalah fondasi dari kepercayaan (trust)," katanya.

Tantangan tersebut menjadi pekerjaan rumah bagi manajer investasi, BEI, OJK, maupun pelaku pendukung pasar lainnya. Jika tata kelola dan transparansi mampu dijaga, ETF Emas berpotensi menjadi pintu masuk baru bagi investor yang selama ini lebih memilih memegang emas fisik.

Sebaliknya, jika likuiditas rendah dan investor kesulitan melakukan transaksi secara efisien, produk baru tersebut berisiko hanya menjadi tambahan daftar instrumen tanpa memberikan dampak signifikan terhadap kedalaman pasar.

Karena itu, keberhasilan ETF Emas nantinya tidak semata diukur dari nilai dana yang dihimpun. Kemampuan produk tersebut menciptakan likuiditas, memperluas basis investor, meningkatkan aktivitas perdagangan di BEI, serta mendorong inovasi produk industri manajer investasi akan menjadi indikator penting keberhasilannya.

Pemerintah pun berharap inovasi tersebut menjadi bagian dari transformasi pasar modal Indonesia menuju pasar yang lebih besar sekaligus lebih berkualitas.

“Pasar yang dalam membutuhkan inovasi. Inovasi membutuhkan integritas. Integritas adalah fondasi dari kepercayaan. Mari kita bersama membangun dan menjaga kepercayaan tersebut,” pungkas Juda.