- IHSG anjlok 2,04% ke level 6.022,36 pada perdagangan Selasa (29/9/2026), turun 125,50 poin dari pembukaan 6.118,81.
- Kebijakan baru BEI harga minimum saham Rp1 (sebelumnya Rp50) yang berlaku sejak Senin (28/9) menjadi sentimen negatif tambahan bagi pasar.
- Rupiah mendekati Rp18.000 per dolar AS di tengah kenaikan yield US Treasury dan pelemahan Wall Street.
- Net sell asing YTD tembus Rp104,83 triliun dengan IHSG sudah turun 28,90% sepanjang 2026.
- Volume perdagangan all market 113,84 juta lot dengan nilai transaksi Rp3,34 triliun.
IHSG hari ini, Selasa (29/09/2026), dibuka di zona merah dan langsung tertekan hingga anjlok lebih dari 2%. Berdasarkan data RTI Infokom, indeks dibuka di level 6.118,81 atau melemah 0,47% dari penutupan sebelumnya, lalu terus bergerak turun hingga menyentuh level terendah intraday di 6.013,08. Hingga sesi perdagangan berlangsung, IHSG tercatat di level 6.022,36, turun 125,50 poin atau 2,04%.
Data Perdagangan IHSG Hari Ini
Berikut ringkasan data perdagangan IHSG pada sesi hari ini berdasarkan data real-time:
| Indikator | Nilai |
|---|---|
| Pembukaan (Open) | 6.118,81 |
| Tertinggi (High) | 6.126,62 |
| Terendah (Low) | 6.013,08 |
| Level Terkini | 6.022,36 |
| Perubahan | -125,50 (-2,04%) |
Sumber: RTI Infokom, per 29 September 2026
Faktor-Faktor Penurunan IHSG
Pelemahan IHSG pada perdagangan hari ini dipengaruhi oleh kombinasi faktor domestik dan eksternal yang saling memperkuat tekanan jual:
- Kebijakan baru BEI harga minimum saham Rp1 — berlaku sejak Senin (28/9), menciptakan ketidakpastian di pasar terutama untuk saham-saham lapis kedua dan ketiga.
- Net sell investor asing berlanjut — secara year-to-date (YTD), akumulasi net foreign sell sudah mencapai Rp104,83 triliun, menunjukkan kepercayaan investor asing yang masih rendah terhadap pasar Indonesia.
- Rupiah mendekati Rp18.000 per dolar AS — pelemahan rupiah dipicu oleh kenaikan yield US Treasury dan penguatan dolar AS yang berkelanjutan.
- Wall Street melemah — bursa AS tertekan oleh kekhawatiran inflasi dan prospek suku bunga The Fed yang masih tinggi.
- Minyak mentah dunia melonjak — kenaikan harga minyak menambah tekanan terhadap defisit neraca berjalan Indonesia dan outlook rupiah.
Dampak Kebijakan Harga Minimum Saham Rp1
Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi menurunkan harga minimum saham dari Rp50 menjadi Rp1 per lembar di pasar reguler dan pasar tunai mulai Senin (28/9/2026). Kebijakan ini berdampak langsung pada mekanisme perdagangan:
- Untuk saham dengan harga Rp1-Rp10, batas Auto Rejection Atas (ARA) dan Auto Rejection Bawah (ARB) ditetapkan sebesar Rp1.
- ARB asimetris 15% masih berlaku untuk saham dengan harga di atas Rp10 hingga akhir 2026.
- BEI menyebut perubahan ini ditujukan untuk memperluas rentang perdagangan, meningkatkan kualitas price discovery, dan mendorong likuiditas.
Namun di pasar, kebijakan ini justru menciptakan tekanan jual tambahan terutama pada saham-saham eks gocap (Rp50) yang kini bisa bergerak lebih fleksibel ke bawah. BEI sendiri membantah bahwa aturan baru ini menjadi biang utama koreksi IHSG, dengan alasan saham eks Rp50 memiliki bobot kecil terhadap indeks.
Baca Juga: Analisa Makro dan Prediksi IHSG: Menguat ke 5.986, Ditopang Sentimen Domestik dan Wall Street
Rupiah dan Tekanan Eksternal
Nilai tukar rupiah terus tertekan dan mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar AS. Berdasarkan data JISDOR, rupiah pekan lalu sudah melemah ke level Rp17.916 per dolar AS. Tekanan terhadap rupiah berasal dari:
- Yield US Treasury yang tembus level tertinggi — menarik aliran dana kembali ke aset berdenominasi dolar AS.
- Kebijakan moneter The Fed — ekspektasi kenaikan suku bunga lebih lanjut memperkuat dolar.
- Harga minyak mentah dunia yang melonjak — meningkatkan kebutuhan devisa Indonesia untuk impor energi.
Pelemahan rupiah berdampak negatif terhadap sentimen investor asing yang sudah mencatatkan net sell Rp259,83 miliar pada perdagangan Senin kemarin. Secara kumulatif sepanjang 2026, net foreign sell sudah menembus Rp104,83 triliun — angka yang sangat signifikan dan menjadi salah satu pendorong utama pelemahan IHSG sebesar 28,90% secara year-to-date.
Volume dan Likuiditas Pasar
Meski IHSG tertekan, volume perdagangan tetap tinggi menunjukkan aktivitas pasar yang masih ramai:
| Metrik | All Market | Reguler |
|---|---|---|
| Volume (Lot) | 113,84 Juta | 110,70 Juta |
| Nilai Transaksi | Rp3,34 Triliun | Rp2,85 Triliun |
| Frekuensi | 461.800 | 460.140 |
Sumber: RTI Infokom, per 29 September 2026
Volume all market yang mencapai 113,84 juta lot dengan nilai transaksi Rp3,34 triliun menunjukkan bahwa meski pasar tertekan, aktivitas perdagangan masih cukup likuid. Sebagian besar volume terkonsentrasi di pasar reguler (97,3%), menandakan dominasi transaksi investor institusional dan ritel besar.
Outlook dan Strategi Pasar
Dengan IHSG yang sudah turun 28,90% secara YTD dan kini berada di sekitar level 6.000, beberapa analis melihat potensi namun tetap mengingatkan risiko:
- Support kunci di 6.000 — level psikologis ini menjadi pertahanan terakhir sebelum potensi penurunan lebih dalam ke 5.800-5.900.
- Resistance di 6.110-6.150 — untuk rebound, IHSG perlu menembus zona ini terlebih dahulu.
- Net sell asing masih berlanjut — selama aliran dana asing belum berbalik, tekanan pada IHSG akan tetap ada.
- Rupiah menjadi kunci — stabilisasi rupiah di bawah Rp18.000 bisa menjadi katalis positif bagi sentimen pasar.
Investor disarankan untuk tetap cautious dan memperhatikan perkembangan kebijakan BEI terbaru, pergerakan rupiah, serta sentimen global terutama dari Wall Street dan data ekonomi AS.
FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)
IHSG pada perdagangan Selasa (29/9/2026) berada di level 6.022,36, turun 125,50 poin atau 2,04% dari pembukaan 6.118,81.
Beberapa faktor utama: (1) kebijakan baru BEI harga minimum saham Rp1 yang menimbulkan ketidakpastian, (2) net sell asing yang berlanjut dengan akumulasi YTD Rp104,83 triliun, (3) rupiah yang mendekati Rp18.000 per dolar AS, dan (4) pelemahan Wall Street serta kenaikan yield US Treasury.
Mulai 28 September 2026, BEI menurunkan harga minimum saham dari Rp50 (gocap) menjadi Rp1 per lembar di pasar reguler dan tunai. Untuk saham Rp1-Rp10, ARA dan ARB ditetapkan Rp1. Kebijakan ini bertujuan memperluas rentang perdagangan dan meningkatkan likuiditas.
Rupiah mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar AS. Pelemahan dipicu oleh kenaikan yield US Treasury, penguatan dolar AS, dan kenaikan harga minyak mentah dunia yang meningkatkan kebutuhan devisa Indonesia.
Secara year-to-date (YTD), akumulasi net foreign sell sudah mencapai Rp104,83 triliun. Pada perdagangan Senin (28/9) saja, net foreign sell tercatat Rp259,83 miliar. IHSG sendiri sudah turun 28,90% sepanjang 2026.
- IHSG anjlok 2,04% ke 6.022,36 — dibuka di 6.118,81 lalu terus tertekan hingga low 6.013,08.
- Kebijakan BEI harga minimum Rp1 menjadi sentimen negatif baru, meski BEI bantah sebagai penyebab utama.
- Rupiah mendekati Rp18.000/USD — yield US Treasury tinggi dan harga minyak melonjak jadi pemicu.
- Net sell asing YTD Rp104,83 triliun — IHSG sudah turun 28,90% sepanjang 2026.
- Volume all market 113,84 juta lot — likuiditas masih terjaga meski pasar tertekan.
- Support kunci di 6.000 — level psikologis yang perlu dipertahankan untuk hindari penurunan lebih dalam.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham. Data perdagangan bersifat real-time dan dapat berubah sewaktu-waktu. Selalu lakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.
Sumber data: RTI Infokom, CNBC Indonesia, Liputan6, Kompas, Bisnis.com | Penulis: Candra Mata