INDUSTRY.co.id - Jakarta - Bagaimana sebuah negara mengubah daerah yang kosong, tertinggal, atau kurang produktif menjadi pusat pertumbuhan ekonomi?
Kita dapat belajar dari dua pengalaman besar dalam sejarah pembangunan: Amerika Serikat dalam perjalanan sekitar 250 tahun dan China dalam sekitar 40 tahun terakhir.
Keduanya memiliki sejarah, sistem pemerintahan, dan cara pembangunan yang sangat berbeda. Namun ada satu pelajaran yang dapat kita ambil: pusat pertumbuhan baru tidak muncul dengan sendirinya.
Infrastruktur, kegiatan ekonomi, investasi, dan manusia harus dipertemukan sampai tercipta critical mass yang kemudian dapat berkembang menjadi kota.
Pelajaran dari Amerika Serikat
Ketika Amerika Serikat berdiri pada 1776, penduduk dan kegiatan ekonominya masih terkonsentrasi terutama di bagian timur.
Dalam perjalanan panjang berikutnya, pembangunan bergerak semakin luas.
Jalan, kanal, kereta api, pelabuhan, listrik, dan kemudian jalan raya membuka wilayah-wilayah baru.
Di sepanjang jaringan tersebut tumbuh pusat perdagangan, pertanian, pertambangan, industri, universitas, dan akhirnya kota-kota.
Chicago berkembang karena posisinya sebagai pusat transportasi dan perdagangan. Kota-kota di California berkembang bersama pelabuhan, perdagangan, pertanian, industri, dan kemudian teknologi.
Banyak kota lainnya tumbuh mengikuti kegiatan ekonomi yang menciptakan pekerjaan.
Pelajarannya sederhana: infrastruktur membuka daerah, tetapi lapangan kerja membuat manusia datang dan kota bertahan.
Setelah pekerjaan tersedia, orang membutuhkan rumah, sekolah, rumah sakit, perdagangan, hiburan, dan pelayanan publik.
Ekosistem kota kemudian terbentuk. Amerika membangun proses ini selama beberapa generasi.
China Mempercepatnya dalam Sekitar 40 Tahun
China memberikan contoh berbeda. Sejak reformasi ekonomi dan kebijakan keterbukaan dimulai pada akhir 1970-an, China membangun kawasan industri, Special Economic Zones, pelabuhan, jalan tol, pembangkit listrik, jaringan kereta api, bandara, dan kemudian jaringan kereta cepat dalam skala yang sangat besar.
Shenzhen mungkin merupakan contoh yang paling mudah dipahami.
Dari wilayah yang relatif kecil dibanding kota-kota utama China ketika reformasi dimulai, Shenzhen berkembang menjadi salah satu pusat manufaktur, perdagangan, teknologi, dan inovasi terpenting di dunia.
Mengapa?
Karena China tidak hanya mengatakan kepada investor: “Silakan datang.”
Mereka menyiapkan tempat agar investor bisa datang dan langsung bekerja.
Tanah tersedia. Infrastruktur dibangun. Listrik tersedia. Pelabuhan berkembang. Rantai pasok terbentuk. Tenaga kerja datang. Pemerintah mempermudah kegiatan ekonomi.
Ketika ribuan perusahaan berkumpul, terbentuk critical mass.
Pabrik membutuhkan pemasok. Pemasok membutuhkan logistik. Pekerja membutuhkan rumah. Keluarga membutuhkan sekolah. Kota membutuhkan rumah sakit, pusat perdagangan, universitas, restoran, taman, dan hiburan. Kawasan industri berubah menjadi kota.
Apa yang Dapat Dipelajari Indonesia?
Indonesia tidak perlu menjadi Amerika dan tidak perlu menjadi China. Kita mempunyai sistem, budaya, geografi, dan kebutuhan sendiri.
Tetapi kita dapat belajar dari pengalaman keduanya.
Indonesia adalah negara kepulauan yang sangat besar. Kita tidak dapat membiarkan seluruh kesempatan kerja dan kegiatan ekonomi terus terkonsentrasi hanya di beberapa kota besar.
Kalau kita ingin membangun daerah tertinggal, langkah pertama bukan membangun sebanyak-banyaknya rumah.
Ciptakan dahulu alasan ekonomi bagi orang untuk tinggal di sana.
Bangun infrastruktur berkelas dunia. Datangkan investasi. Bantu investor yang belum memahami liku-liku perizinan dan berusaha di Indonesia.
Berikan pelayanan yang cepat dan profesional. Sediakan listrik dan air yang andal, pengolahan limbah, telekomunikasi, dan logistik.
Jamin keamanan 24 jam. Jaga agar lingkungannya hijau, bersih, dan semakin baik. Kemudian ciptakan lapangan kerja sebanyak mungkin.
Pengalaman Jababeka di Cikarang
Prinsip itulah yang mulai kami praktikkan ketika membangun Jababeka di Cikarang sejak 1989.
Pada waktu itu, pertanyaannya bukan bagaimana menjual sebanyak mungkin tanah.
Pertanyaannya adalah:
Bagaimana membuat perusahaan dari Jepang, Korea, Eropa, Amerika, China, dan berbagai negara lainnya merasa aman dan nyaman membangun pabrik di Cikarang?
Jawabannya adalah infrastruktur dan pelayanan.
Investor yang datang ke Indonesia mungkin memahami bagaimana membuat mobil, elektronik, makanan, obat-obatan, atau mesin.
Tetapi mereka belum tentu memahami bagaimana mendapatkan berbagai perizinan, listrik, air, tenaga kerja, keamanan, dan menyelesaikan berbagai persoalan sehari-hari di Indonesia.
Karena itu pengembang kawasan tidak boleh berhenti setelah tanah terjual. Keberhasilan investor harus menjadi keberhasilan kita.
Ketika satu perusahaan berhasil, perusahaan lain datang. Kemudian pemasok datang. Logistik berkembang. Pekerja datang.
Perumahan, sekolah, universitas, rumah sakit, hotel, pusat perdagangan, dan berbagai fasilitas kehidupan mengikuti.
Itulah bagaimana sebuah kawasan industri perlahan-lahan menjadi kota.
Hari ini Kota Jababeka berkembang di kawasan sekitar 5.600 hektare dengan lebih dari 2.000 perusahaan.
Tetapi bagi saya, angka terpenting bukan luas tanah atau jumlah gedung. Yang paling penting adalah berapa banyak lapangan kerja dan kehidupan baru yang dapat tercipta dari pembangunan tersebut.
Membangun Daerah, Bukan Sekadar Membangun Properti
Pengalaman Amerika membutuhkan perjalanan sekitar 250 tahun. China menunjukkan bahwa dengan infrastruktur, investasi, industrialisasi, dan eksekusi yang cepat, transformasi dapat berlangsung jauh lebih cepat.
Indonesia harus menemukan jalannya sendiri. Kita mempunyai ratusan kota dan kabupaten dengan potensi yang belum sepenuhnya berkembang.
Ada daerah pertanian, daerah pesisir, pulau-pulau, kawasan pariwisata, bahkan lahan bekas tambang yang dapat memperoleh kehidupan ekonomi baru.
Lahan bekas tambang batu bara pun seharusnya dapat direhabilitasi menjadi kota hijau. Bukan hanya menutup bekas tambangnya, tetapi menciptakan ekonomi baru di atasnya: pekerjaan, pendidikan, kesehatan, perumahan, ruang hijau, dan kehidupan masyarakat.
Pembangunan harus memperbaiki lingkungan, bukan mewariskan kerusakan kepada generasi berikutnya.
Dari Cikarang Menuju Kota-Kota Baru Indonesia
Pengalaman Cikarang tidak boleh berhenti di Cikarang. Jababeka kemudian ikut mengembangkan Kawasan Industri Kendal di Jawa Tengah, KEK Tanjung Lesung di Banten, dan KEK Morotai di Maluku Utara.
Setiap daerah mempunyai keunggulan berbeda. Karena itu kita tidak boleh sekadar menyalin Cikarang.
Yang harus direplikasi adalah cara berpikirnya:
Infrastructure first.
Investment follows.
Jobs are created.
People come.
The ecosystem grows.
A city is born.
Indonesia tidak kekurangan tanah dan tidak kekurangan manusia. Yang kita perlukan adalah kemampuan menghubungkan infrastruktur, investasi, industri, pendidikan, teknologi, lingkungan, dan lapangan kerja dalam satu rencana jangka panjang.
Membangun Kota Berarti Membangun Manusia
Pada akhirnya tujuan membangun kota bukan membangun sebanyak mungkin gedung. Tujuannya adalah memberikan kesempatan kepada manusia.
Kesempatan mendapatkan pekerjaan. Kesempatan memperoleh pendidikan. Kesempatan membangun usaha. Kesempatan hidup di lingkungan yang aman, hijau, sehat, dan nyaman.
Amerika memberikan pelajaran dari perjalanan sekitar 250 tahun. China menunjukkan percepatan pembangunan dalam sekitar 40 tahun.
Indonesia dapat belajar dari keduanya, tetapi harus membangun modelnya sendiri. Kita tidak harus menunggu 250 tahun. Dan kita tidak perlu meniru China sepenuhnya.
Kita harus menggunakan pengalaman Indonesia sendiri untuk mempercepat pembangunan daerah dan menciptakan pusat-pusat pertumbuhan baru.
Setelah lebih dari tiga dekade membangun Jababeka, saya semakin percaya pada satu prinsip sederhana:
Jangan hanya membangun kawasan. Bangun lapangan kerja.
Jangan hanya membangun gedung. Bangun ekosistem.
Jangan hanya membangun kota. Bangun manusia.
Karena pada akhirnya, ukuran keberhasilan pembangunan bukan seberapa banyak tanah yang kita jual, tetapi berapa banyak kehidupan yang menjadi lebih baik karena kita membangunnya.