Kalangan Industri Pilih Garam Impor karena Selisih Harga Hingga 10 Persen

Oleh : Herry Barus | Sabtu, 12 Agustus 2017 - 14:45 WIB

Ilustrasi Tambak Garam
Ilustrasi Tambak Garam

INDUSTRY.co.id

Jakarta - Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA) menyebutkan selisih harga garam impor dari Australia dan garam produksi petambak sebesar 10 persen sehingga banyak industri yang memilih impor.

Sekretaris Jenderal Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan Susan Herawati menjelaskan harga garam produksi petambak akan sulit bersaing, terutama saat musim kemarau basah sudah lewat dan garam impor terdistribusi.

"Selisih garam bisa 10 persen dari harga yang bisa kita produksi. Lumayan tinggi dan sangat jauh sekali perbedaannya dengan impor. Ketika kemarah basah lewat, garam kita akan babak belur di pasaran," kata Susan di Jakarta, Sabtu (12/8/2017)

KIARA pun mengusulkan pemerintah menetapkan harga pembelian pokok (HPP) sebesar Rp2.500 hingga Rp3.000 per kilogram agar petambak mendapatkan kepastian saat kemarau basah dan panen raya.

Menurut dia, anjloknya harga garam di wilayah penghasil seperti Lombok bisa berdampak pada alih profesi petambak garam menjadi petambak udang.

Susan menambahkan selain karena harga garam impor yang lebih murah, garam yang diproduksi petambak lokal tidak bisa memenuhi kadar Natrium Chlorida (NaCl) sebesar 97 persen seperti yang dibutuhkan industri.

Menurut Susan, kadar NaCl paling tinggi yang bisa diproduksi petambak lokal sebesar 94 persen, namun bisa ditingkatkan menjadi 97 persen jika didukung teknologi, seperti mesin iodisasi.

KIARA mencatat setidaknya sejak 1990 impor garam telah dilakukan sebanyak 349.042 ton dengan nilai 16,97 juta dolar AS untuk memenuhi kebutuhan industri serta kelangkaan stok garam akibat dampak dari anomali cuaca.

Seperti diketahui, pemerintah membuka keran impor 75 ribu ton garam konsumsi dari Australia yang akan dilakukan secara bertahap.

Sebanyak 27.500 ton garam impor dari Australia yang tiba di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya pada Jumat (11/2) akan disebar ke sejumlah Industri Kecil Menengah (IKM) di tiga wilayah yakni Jawa Timur, Jawa Tengah dan Kalimantan Barat.

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Tapai Ketan Kuliner Khas Kuningan (Foto:beritagar.id)

Sabtu, 20 Januari 2018 - 19:00 WIB

Berkunjung ke Kuningan, Jangan Lupa Icip Empat Kulinernya yang Melegenda

Berbicara tentang Kabupaten Kuningan, Jawa Barat terkenal akan wisata alamnya yaitu berupa curug, Taman Wisata Gunung Gunung Ceremai, Curug Putri, Cadas Gantung. Selain itu, Kuningan juga banyak…

Kementerian Pariwisata mendukung kegiatan Touring Manaqib ke Pantai Santolo Kabupaten Garut Jawa Barat (Foto: Kemenpar)

Sabtu, 20 Januari 2018 - 18:00 WIB

Mengenal Wisata Religi Lewat Touring Manaqib ke Pantai Santolo, Garut

Selain wisata budaya dan alam, Indonesia juga memiliki wisata religinya. Salah satunya yaitu Touring Manaqib yang berlangung pada hari ini, Sabtu (20/1/2018) dan Kementerian Pariwisata mendukung…

Pesawat AirAsia Tampilkan Logo Wonderful Indonesia (Foto: Chodijah Febriyani/Industry.co.id)

Sabtu, 20 Januari 2018 - 17:00 WIB

Oktober 2018 Mendatang, AirAsia Pastikan Buka Penerbangan dari Manado ke Malaysia

Bulan Oktober 2018 mendatang, maskapai penerbangan AirAsia memastika membuka rute penerbangan internasional dari Manado ke Malaysia.

Astra Otoparts Gandeng Pirelli Luncurkan Ban Sepeda Motor Underbone

Sabtu, 20 Januari 2018 - 16:05 WIB

Astra Otoparts Gandeng Pirelli Luncurkan Ban Sepeda Motor Underbone

PT Astra Otoparts Tbk (AUTO)melalui PT Evoluzione Tyres bekerja sama dengan Pirelli Tyre S.p.A menghadirkan Ban Diablo Rosso Corsa II yang dirancang khusus untuk sepeda motor underbone yang…

Taman Laut Tumbak, Manado, Sulawesi Utara (Foto:traviamgz.com)

Sabtu, 20 Januari 2018 - 16:00 WIB

Sriwijaya Air Optimis Jumlah Penumpang ke Manado Meningkat di Tahun 2018

Dengan dipermudahkannya akses menuju ke berbagai destinasi wisata di Indonesia, Sriwijaya Air Group mengatakan bahwa tahun ini jumlah penumpang dari dan menuju Kota Manado Provinsi Sulawesi…