INDUSTRY.co.id - Jakarta- Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) meminta diberlakukannya kurikulum pelajaran untuk memperkuat pendidikan karakter bangsa yang majemuk guna mencegah berkembangnya radikalisme dan terorisme.
"Pelajaran etika karakter bangsa yang ditinggalkan, sekarang tolong masukkan kembali dengan metodologi yang berubah," kata Kepala BNPT Suhardi Alius ditemui awak media di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (10/4/2017)
Menurut Suhardi yang mengawali karier kepolisian tahun 1980-an menjabat Kapolsektif Cimahi, Jawa Barat, pelajaran karakter bangsa dapat dimasukkan bukan sebagai doktrin tapi pemahaman membangun empati bahwa Indonesia memiliki kekayaan suku dan budaya yang beragam.
BNPT meminta agar pelajaran-pelajaran yang masuk ke lembaga pendidikan dapat diverifikasi sehingga tidak bertentangan dengan sikap kebangsaan Indonesia.
Terkait tenaga pendidik yang dikhawatirkan mengajarkan paham radikalisme, Suhardi menjelaskan agar terdapat standar kompetensi yang mendukung penanggulangan paham radikalisme.
Suhardi juga menilai bahwa jaringan informasi internet juga berpengaruh besar dalam menyebarkan paham radikalisme yang dapat memicu tindak kejahatan teror.
Selain itu, BNPT juga meminta agar peran pemerintah daerah dapat lebih gencar dalam mendata WNI yang dideportasi dari luar negeri karena berniat pergi ke Suriah maupun mantan napi tindak pidana terorisme.
"Minimal ada 2 hal saya sampaikan, yang pertama kita tahu di mana mereka tinggal. Kita tidak bisa mengharapkan 'mind set' (cara berpikir-red)-nya berubah dalam tempo cepat. Hal yang kedua kemudian siapa yang bertanggung jawab di situ karena kebanyakan 'deportan' itu sudah menjual harta dan sebagainya," kata Suhardi terkait peran dari Pemda.
Dengan adanya pemantauan tersebut, dapat mempercepat informasi dan meningkatkan kewaspadaan dari pemerintah daerah.
Perlunya pemantauan itu karena proses deradikalisasi tidak bisa dilakukan secara instan dan perlu waktu berkesinambungan.
Suhardi menghadap kepada Presiden Jokowi untuk memaparkan kegiatan pemberantasan terorisme yang dilakukan pada akhir pekan lalu di Tuban, Jawa Timur.