INDUSTRY.co.id - JAKARTA — Pergerakan pasar valuta asing pada Selasa (4/8) cenderung dibayangi sikap hati-hati investor menjelang rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat atau Nonfarm Payrolls (NFP). Di tengah penantian tersebut, dolar Australia (AUD) menjadi salah satu mata uang dengan kinerja paling positif setelah ditopang data domestik yang menunjukkan ketahanan pasar tenaga kerja dan meningkatnya tekanan inflasi.
Pasangan AUD/USD menguat ke kisaran 0,7010 pada sesi Asia setelah mengakhiri pelemahan selama dua hari berturut-turut. Penguatan ini didorong oleh data ANZ–Indeed Job Ads yang naik 2% secara bulanan pada Juli. Kenaikan tersebut menjadi pertumbuhan bulanan keempat sepanjang tahun ini dan mencerminkan permintaan tenaga kerja yang masih kuat meskipun aktivitas ekonomi mulai melambat.
Sentimen positif juga datang dari meningkatnya tekanan inflasi. TD-MI Inflation Gauge tercatat naik 1% pada Juli setelah sebelumnya mengalami kontraksi pada Juni. Kondisi tersebut memperkuat ekspektasi bahwa Reserve Bank of Australia (RBA) belum memiliki ruang yang cukup untuk segera memangkas suku bunga.
"Pejabat RBA juga menegaskan bahwa inflasi inti masih berada di atas kisaran target 2–3%, sementara kondisi pasar tenaga kerja dinilai tetap solid. Kombinasi inflasi yang persisten dan pasar tenaga kerja yang tangguh memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral belum memiliki ruang yang cukup untuk segera menurunkan suku bunga," demikian berdasarkan kajian pasar.
Meski demikian, penguatan AUD diperkirakan masih terbatas karena dolar Amerika Serikat tetap memperoleh dukungan dari data ekonomi yang solid. Di sisi lain, optimisme terhadap kemungkinan dimulainya kembali perundingan antara Amerika Serikat dan Iran sedikit mengurangi permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven setelah Presiden Donald Trump menyatakan kesiapan melanjutkan jalur diplomatik.
Sementara itu, pasangan EUR/USD bergerak mendatar di kisaran 1,1514. Investor memilih menunggu rilis data NFP yang dinilai akan menjadi penentu arah kebijakan suku bunga Federal Reserve. Euro masih mendapat penopang dari ekspektasi bahwa Bank Sentral Eropa (ECB) berpeluang kembali menaikkan suku bunga pada September seiring inflasi yang masih tinggi di kawasan tersebut.
Di pasar Inggris, GBP/USD juga bergerak terbatas di kisaran 1,3431. Dolar AS memperoleh dukungan setelah indeks PMI Manufaktur ISM Amerika Serikat naik menjadi 55,6 pada Juli, melampaui ekspektasi pasar. Di sisi lain, keputusan Bank of England (BoE) mempertahankan suku bunga di level 3,75% membuat pergerakan poundsterling cenderung stabil.
"Pernyataan Gubernur Andrew Bailey yang menegaskan proses disinflasi masih berlangsung membuat ekspektasi pengetatan kebijakan menjadi lebih moderat," tulis laporan tersebut.
Tekanan juga masih membayangi dolar Selandia Baru. NZD/USD bergerak di kisaran 0,5865 setelah menguatnya data ekonomi AS meningkatkan optimisme terhadap prospek ekonomi Negeri Paman Sam. Fokus pelaku pasar kini beralih pada rilis data ketenagakerjaan Selandia Baru yang dijadwalkan berlangsung Rabu dan diperkirakan menjadi penentu arah kebijakan Reserve Bank of New Zealand (RBNZ).
Di Asia, USD/JPY menguat ke kisaran 157,47 setelah yen terkoreksi dari reli tajam sebelumnya yang dipicu intervensi bersama pemerintah Jepang dan Amerika Serikat di pasar valuta asing. Meski yen melemah, investor masih berhati-hati mengingat otoritas Jepang telah menegaskan kesiapan melakukan intervensi lanjutan apabila volatilitas nilai tukar kembali meningkat.
Adapun USD/CHF melemah ke kisaran 0,8098, namun penurunannya diperkirakan terbatas. Investor masih mencermati kombinasi data ekonomi AS yang kuat, ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah, serta prospek kebijakan Federal Reserve yang diperkirakan tetap ketat.
Di sisi lain, USDCAD turun ke kisaran 1,4044 seiring penguatan dolar Kanada yang ditopang kenaikan harga minyak dunia. Kekhawatiran terhadap pasokan energi global akibat ketidakpastian situasi di Timur Tengah menjaga harga minyak tetap tinggi dan memberikan dukungan bagi mata uang Kanada yang sensitif terhadap pergerakan komoditas energi.
Secara keseluruhan, pelaku pasar diperkirakan masih akan bergerak hati-hati hingga rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat pada akhir pekan. Data tersebut dinilai akan menjadi katalis utama dalam membentuk ekspektasi arah suku bunga Federal Reserve sekaligus menentukan arah pergerakan mayoritas mata uang global dalam jangka pendek.