INDUSTRY.co.id - JAKARTA – Harga minyak mentah bergerak terkonsolidasi pada penutupan pekan Jumat (18/9/2026), di tengah tarik-menarik sentimen geopolitik di Timur Tengah. Gangguan jalur pelayaran utama, ketegangan di Selat Hormuz, serta sinyal Amerika Serikat (AS) untuk kembali melancarkan serangan terhadap Iran menjadi katalis yang menopang harga minyak.
Namun, ruang penguatan harga masih tertahan oleh tekanan diplomatik China terhadap Iran untuk meredam eskalasi konflik antara Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman. Upaya tersebut berpotensi mengurangi risiko meluasnya konflik dan menjaga kelancaran pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.
Salah satu perkembangan yang menjadi perhatian pasar datang dari Selat Hormuz. Angkatan Laut Garda Revolusi Iran mengklaim telah menyerang sebuah kapal tanker minyak berbendera Togo karena melakukan pelayaran ilegal melintasi selat tersebut, menurut media resmi pemerintah Iran, IRNA, Jumat.
Aksi tersebut mengindikasikan semakin kuatnya posisi Iran dalam mengawasi lalu lintas kapal di Selat Hormuz. Iran disebut berupaya memungut biaya lintas bagi kapal-kapal yang melewati jalur tersebut sekaligus mengambil tindakan terhadap kapal yang dituding berusaha menghindari rute yang telah ditetapkan.
Ketegangan juga meningkat di kawasan Yaman. Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) melaporkan lebih dari 100.000 warga Yaman mengungsi pada Kamis setelah aksi saling serang terbaru antara Arab Saudi dan kelompok Houthi di wilayah perbatasan kedua negara.
Potensi meluasnya konflik Saudi-Houthi menjadi perhatian pasar minyak karena dapat meningkatkan risiko terhadap jalur alternatif pengiriman energi melalui Laut Merah. Kondisi ini semakin penting bagi pasar global di tengah keterbatasan lalu lintas kapal di Selat Hormuz.
Di sisi lain, risiko eskalasi kembali muncul dari Amerika Serikat. Presiden AS Donald Trump pada Kamis mengatakan akan segera mengambil keputusan besar terkait kemungkinan kembali melancarkan serangan militer besar terhadap Iran.
Konflik AS-Iran yang telah mendekati bulan ketujuh tanpa tanda-tanda penyelesaian membuat pasar energi tetap memasukkan risiko geopolitik sebagai salah satu faktor utama dalam pergerakan harga minyak.
Trump juga dijadwalkan bertemu dengan enam pemimpin negara Teluk, yakni Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Bahrain, Kuwait, dan Oman, pada Selasa pekan depan untuk membahas tahapan selanjutnya dari konflik tersebut.
Meski demikian, potensi eskalasi tersebut berhadapan dengan upaya diplomatik China. Tiga sumber dari Teheran mengatakan China secara pribadi meminta Iran membantu mengendalikan kelompok Houthi yang semakin intensif menyerang fasilitas energi Saudi setelah adanya permintaan langsung dari Riyadh.
Para pejabat China disebut tidak memberikan ancaman eksplisit ataupun mengisyaratkan akan memberikan tekanan ekonomi terhadap Teheran apabila Iran gagal menggunakan pengaruhnya terhadap Houthi. Namun, desakan tersebut menunjukkan adanya tekanan diplomatik yang dapat membatasi potensi perluasan konflik di kawasan.
Bagi pasar minyak, perkembangan tersebut menciptakan tarik-menarik antara risiko gangguan pasokan dan peluang meredanya eskalasi geopolitik. Ketegangan di titik-titik strategis seperti Selat Hormuz dan Laut Merah dapat memberikan dukungan terhadap harga, sementara langkah diplomatik untuk mengendalikan konflik berpotensi menahan kenaikan lebih lanjut.
Dari sisi teknikal, harga minyak berpotensi menguji level resistance terdekat di US$99 per barel. Sebaliknya, apabila muncul katalis negatif dari perkembangan geopolitik maupun sentimen pasar, harga minyak berpotensi kembali menuju level support US$94 per barel.