Paham Geopolitik Dibutuhkan untuk Samakan Persepsi Bangsa

Oleh : Anisa Triyuli | Senin, 21 Mei 2018 - 19:39 WIB

Kris Wijoyo Soepandji berikan orasi GETANKAS: Geopolitik, Ketahanan Nasional, dan Kemerdekaan Sejati (Foto: Jababeka)
Kris Wijoyo Soepandji berikan orasi GETANKAS: Geopolitik, Ketahanan Nasional, dan Kemerdekaan Sejati (Foto: Jababeka)

INDUSTRY.co.id - Jakarta - Pengajar Dasar-Dasar Ilmu Hukum di Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FHUI) Kris Wijoyo Soepandji, mengatakan bahwa dunia saat ini memasuki perang generasi keempat. Perang generasi keempat lebih mengutamakan upaya membangun konstruksi berpikir yang dapat diterima luas dalam kerangka legal dan etika.

Perang generasi keempat Berbeda dengan perang generasi pertama, kedua, dan ketiga yang masing-masing bertumpu pada kemampuan untuk memobilisasi kekuatan fisik terkonsentrasi, kemampuan senjata berbasis energi, dan level informasi sistem perang.

Hal itu dijelaskan Kris melalui orasi ilmiahnya dalam rangka hari ulang tahun Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia (Lemhannas RI) ke-53. Tambah Kris, lepasnya Timor Timur juga merupakan bentuk realita perang generasi keempat.

Dalam orasi ilmiah berjudul 'GETANKAS: Geopolitik, Ketahanan Nasional, dan Kemerdekaan Sejati', Kris menjelaskan bahwa perang generasi keempat lebih mengutamakan upaya membangun konstruksi berpikir yang dapat diterima luas dalam kerangka legal dan etika. Kekuatan yang dominan akan cenderung menggunakan faktor legal dan etika untuk kemudian diterima oleh masyarakat dunia guna mencapai supremasi di tingkat global.

"Ada dua simpul raksasa yang berperan membangun konstruksi berpikir pada perang generasi keempat, yaitu global multimedia networks dan global financial networks. Dalam hal ini, suatu pola dan cara pikir yang dibangun disebarkan melalui global multimedia networks," kata Kris dalam keterangan tertulisnya, Senin (21/5/2018).

Lepasnya Timor Timur juga tidak terlepas dari realita perang generasi keempat tersebut. Oleh karena itu, diperlukan suatu pemahaman geopolitik dalam mengantisipasi dinamika internal dan eksternal.

"Bung Karno mengingatkan bangsa Indonesia untuk memetakan kepentingan nasionalnya, serta menggunakan potensi nasionalnya secara tepat, sehingga tidak asal jiplak konsepsi dari negara-negara lain yang tidak cocok dengan bangsa Indonesia," jelas Kris.

Menurut Kris, Indonesia memliki nilai luhur dalam menghadapi dinamika geopolitik. Pada tahun 1956, Kepala Dinas Psikologi Angkatan Darat yang pertama dan pendiri Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran, Mayjen. TNI. Prof. Dr. Soemantri Hardjoprakoso, dalam disertasinya di Rijksuniversiteit Leiden, Kris telah membedah konsep hubungan Ilahi dengan manusia berdasarkan Sasangka Jati yang disampaikan oleh Soenarto Mertowardojo.

Dalam hal ini, Sasangka Jati pada tahun 1932 telah memberikan suatu gambaran yang jelas mengenai pentingnya mengendalikan perbuatan manusia, melalui jiwa dan pikiran berdasarkan keyakinan kepada Tuhan dan Utusan-Nya.

"Hanya dengan pendekatan ini, pengaruh global multimedia networks dan global financial networks terhadap bangsa Indonesiadapat dinetralisir untuk masuk ke dalam koridor kepentingan nasional, sehingga bangsa Indonesia memiliki pikiran dan perbuatan yang mencerminkan kemerdekaan yang sejati," tambah Kris.

Di kesempatan yang sama, Gubernur Lemhannas RI, Letjen TNI (Purn.) Agus Widjojo menegaskan, geopolitik Indonesia merupakan cara pandang dan sikap bangsa Indonesia terhadap diri serta lingkungan strategisnya yang dikenal dengan wawasan Nusantara. Maka menurutnya diperlukan kesamaan persepsi dari berbagai komponen bangsa di seluruh lapisan masyarakat untuk mencapai tujuan nasional.

"Dengan demikian, sebagai bangsa yang merdeka, geopolitik dan geostrategi Indonesia sangat diperlukan untuk menyamakan persepsi dari berbagai komponen bangsa di seluruh lapisan masyarakat untuk mencapai cita-cita dan tujuan nasional," kata Agus.

Untuk diketahui, gagasan pada orasi ilmiah ini telah disampaikan sebelumnya oleh Kris Wijoyo Soepandji pada saat peluncuran bukunya yang berjudul Ilmu Negara: Perspektif Geopolitik Masa Kini di President Lounge-Jababeka, Menara Batavia, Jakarta pada Desember 2017 lalu, dengan keynote speaker Jenderal TNI. (Purn.) Moeldoko.

Komentar Berita

Industri Hari Ini

PT Telkom Indonesia. (Foto: IST)

Jumat, 24 Mei 2019 - 17:17 WIB

Ririek Ferdiansyah Didapuk Jadi Dirut Telkom

Jakarta - PT Telkom Indonesia mendapuk Ririek Adriansyah sebagai Direktur Utama usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST).

Samsung Galaxy A2 Core

Jumat, 24 Mei 2019 - 16:14 WIB

Samsung Luncurkan Galaxy A2 Core, Smartphone 4G Harga Satu Jutaan

Samsung Galaxy A2 Core dibenamkan Exynos 7870 dan Android Go mengoptimalkan performa dan baterai tahan lebih lama

Beras (Foto/Rizki Meirino)

Jumat, 24 Mei 2019 - 15:21 WIB

Sediakan Pangan Murah, Launching TTI Center Disambut Gembira Warga Bogor

Bogor - Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Badan Ketahanan Pangan (BKP) terus memperluas jaringan Toko Tani Indonesia (TTI), sebagai pusat perbelanjaan yang menjual berbagai komoditas…

Bank Mandiri Syariah (Foto Ist)

Jumat, 24 Mei 2019 - 15:15 WIB

Mandiri Syariah Perluas Penggunaan Data Dukcapil

Jakarta — PT Bank Syariah Mandiri (Mandiri Syariah) memperluas pemanfaatan NIK data kependudukan dan KTP Elektronik Dukcapil.

PLN Hentikan 11 Proyek Pembangkit Listrik Kapasitas 147 MW

Jumat, 24 Mei 2019 - 13:27 WIB

Libur Lebaran, PLN Matikan 20 Pembangkit Listrik

PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Persero akan mematikan 20 pembangkit listrik miliknya menyusul adanya potensi penurunan daya listrik di Hari Raya Lebaran.