Perlu Kemauan Kuat Pemerintah untuk Jadikan Sawit Sebagai Tanaman Hutan

Oleh : Abraham Sihombing | Senin, 23 April 2018 - 09:14 WIB

Kebun Kelapa Sawit (Ist)
Kebun Kelapa Sawit (Ist)

INDUSTRY.co.id - Jakarta – Pemerintah harus berkemauan kuat untuk secara politis melobi FAO (Food Agricultural Oranization), agar badan dunia yang berada di bawah naungan PBB dalam urusan pangan tersebut mau memasukkan sawit sebagai tanaman hutan.

“Perlu kemauan dan lobi politis yang kuat dari pemerintah untuk memasukkan sawit sebagai tanamanan hutan sesuai dengan kriteria FAO,” ujar Prof Dr Ir Dodik Nurrochmat MSc di Jakarta pada akhir pekan lalu.

Dodik mengemukakan, keputusan FAO yangn tidak memasukan sawit sebagai tanaman hutan, merupakan hegemoni tafsir dari kelompok negara-negara pesaing sawit yang berkepentingan terhadap kelangsungan industri minyak nabatinya.

Menurut Dodiek, saat ini, semua jenis tanaman kelapa, kecuali sawit masuk kategori  FAO, sebagai tanaman hutan. Sawit sebenarnya memikiki kriteria yang dipersyaratkan FAO yakni mempunyai tinggi batang minimal 5 m, memiliki tutupan kawasan 10% -20%, luasan kawasan minimal 0,5 m dan lebar jalur diatas 20 M.

Dari banyak kasus, kita memahami betapa kuatnya diplomasi politik negara-negara penghasil minyak nabati seperti biji bunga matahari dan lainnya untuk memproteksi komoditas andalan mereka.

Karena itu, kata Dodiek, perlunya kemauan politis yang kuat untuk memperjuangkan sawit sebagai tanaman hutan agar otoritas kehutanan dan pertanian tidak selalu kalah dalam diplomasi di forum internasional termasuk forum FAO.

Indonesia, kata Dodiek perlu belajar dari Cina yang mempunyai kemauan politik kuat untuk memasukan bambu sebagai tanaman hutan. “Sejak lama, Bambu telah termasuk dalam kategori tanaman hutan versi FAO karena perjuangan dan kemauan politik pemerintah Cina untuk mendorong komoditas andalannya.”

Sawit sebagai tanaman hutan, pernah dilansir MS Kaban yang menjabat sebagai Menteri Kehutanan. Melalui peraturan Menteri terkait pedoman pembangunan Hutan Tanaman Industri (HTI)  dan izin usaha pemanfaatan  hasil hutan kayu pada HTI atau IUPHHK-HTI sawit dimasukkan sebagai salah satu tanaman tahunan berkayu yang dapat digunakan untuk HTI.

Sayangnya kebijakan itu tidak berlangsung lama, karena lobby dan kepentingan sejumlah pihak yang menyudutkan sawit sebagai komoditas yang tidak memiliki aspek kelestarian dan ekologis.

Sementara itu, Seperti dikutip dari situs resmi https://www.ipb.ac.id , Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB) akan menyusun naskah akademik sebagai dasar pertimbangan dan usulan untuk menjadikan sawit sebagai salah satu tanaman hutan.

Penyusunan naskah akademik  tersebut merupakan lanjutan atas saran dan masukan para pemangku kepentingan dalam Forum Discussion Group (FGD) bertema “Sawit dan Deforestasi Hutan Tropika” di Bogor, pekan lalu.

Guru Besar Fakultas Kehutanan IPB sekaligus Pembina Pusat Kajian Advokasi dan Konservasi Alam  Prof. Dr. Yanto Santoso  di Jakarta mengatakan, dorongan yang kuat untuk menyusun naskah akademik tersebut agar kedepan sawit bisa ditanami pada kawasan Hutan Tanaman Rakyat (HTR) dan Hutan Tanaman Industri (HTI).

Hal itu, kata Yanto, sesuai pengaturan tata ruang mikro hutan tanaman yakni hutan tanaman sawit yang  merupakan lanskap mozaik dengan jenis-jenis tanaman lain.
Penyusunan naskah akademik itu bertujuan untuk menjaga dan mengawal perkembangan perkebunan sawit sebagai komoditas strategis nasional sekaligus menepis isu sawit sebagai penyebab deforestasi.

Dari sisi hukum, deforestasi merupakan alih fungsi kawasan hutan menjadi peruntukan non hutan. Sementara itu, banyak studi mengungkapkan sawit bukan merupakan penyebab deforestasi karena perkebunan sawit tidak berasal dari kawasan hutan. “Melalui penyusunan naskah akademik itu nantinya masyarakat memahami bahwa keberadaan sawit justru menambah luasan tutupan hutan,” ujar Yanto.

Pendapat senada dikemukakan Dekan Fakultas Kehutanan, Dr. Ir. Rinekso Soekmadi, MSc. Rinekso berpendapat, naskah akademik diperlukan karena sawit merupakan komoditas andalan dari pendapatan nasional dan devisa negara Indonesia.

Perkebunan sawit layak diperjuangkan karena memberi pemasukan dan nilai ekonomi yang tinggi dan berarti bagi masyarakat Indonesia. Selain  efisien dari segi hasil untuk lahan yang terbatas, saat ini ada kekhawatiran untuk menstigmatisasi seluruh tanaman. “Padahal bukan tanamannya yang menjadi masalah, tetapi di mana kita menanamnya,” ujar Rinekso.

Masyarakat banyak beralih ke kebun sawit karena tanaman itu mampu menghasilkan nilai ekonomi yang menguntungkan dan dapat memberikan kehidupan yang layak.  “Harapan kedepan adalah mengembangkan perkebunan sawit dengan baik berbasis lanskap,” imbuh Rinekso. (Abraham Sihombing)

 

 

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Pedagang daging ayam di sebuah pasar tradisional

Senin, 09 Desember 2019 - 08:35 WIB

Timor Leste Tujuan Ekspor Pakan dan Daging Olahan

Surabaya - Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) terus melipatgandakan ekspor produk pertanian termasuk peternakan hingga meningkat tiga kali lipat. Langkah nyata yang ditempuh…

Pengunjung mengamati papan elektronik yang memperlihatkan pergerakan IHSG di gedung BEI (Foto Rizki Meirino)

Senin, 09 Desember 2019 - 08:23 WIB

IHSG Berpola Naik Cermati Saham-saham Pilihan

Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada di level 6089 - 6261 pada perdagangan Senin (9/12/2019). Cermati saham-saham yang direkomondasikan.

Industri Es Krim Tumbuhan di Atas 10 Persen Lima Tahun ke Depan

Senin, 09 Desember 2019 - 08:00 WIB

Industri Es Krim Tumbuhan di Atas 10 Persen Lima Tahun ke Depan

Tetra Pak® Indonesia Indonesia memaparkan tren kunci global dan regional dalam industri es krim pada tahun 2019 di seminar eksklusif konsumen bagi para pemain kunci industri es krim di Jakarta…

Garuda Indonesia

Senin, 09 Desember 2019 - 07:30 WIB

IPW Nilai Pihak Terlibat Kasus Garuda Terlibat KKN

Pihak pihak tertentu jangan berusaha melindungi rombongan Ari Arkhara dengan Undang Undang Kepabeanan. Sebab apa yang dilakukan Dirut PT Garuda dan rombongannya itu adalah penyalahgunaan wewenang,…

Pengunjung mengamati papan elektronik yang memperlihatkan pergerakan IHSG di gedung BEI (Foto Rizki Meirino)

Senin, 09 Desember 2019 - 07:17 WIB

Awal Pekan IHSG Diprediksi Menguat

Jakarta - Secara teknikal pergerakan IHSG break out Moving Average MA50 di level 6144 sebagai konfirmasi penguatan menguji upper bollinger bands di kisaran 6200. Indikator stochastic bergerak…