INDUSTRY.co.id, JAKARTA-Di balik kesibukan stasiun yang saban hari menelan ribuan penumpang, tersimpan kisah orang-orang Flores yang tercerabut dari tanah kelahirannya. Mereka datang ke Batavia dalam bayang-bayang perdagangan manusia pada masa kolonial. Nama kampung halaman mereka kemudian hidup di Jakarta. Sebuah nama yang bertahan, sementara kisah pemiliknya perlahan menghilang.

Pagi di Manggarai selalu dimulai dengan ketergesaan. Kereta datang, pintu terbuka, penumpang berhamburan. Ada yang berlari mengejar sambungan perjalanan, ada yang berdiri menunggu di peron, ada pula yang berjalan cepat sambil menatap layar telepon genggam. Pengumuman keberangkatan bersahutan dengan derit roda besi dan percakapan orang-orang yang tak saling mengenal.

Di luar stasiun, pedagang mulai membuka lapak. Kendaraan merayap di jalan. Pasar bergerak mengikuti irama kota. Di antara gedung, rel, dan permukiman yang kian rapat, Manggarai tumbuh menjadi salah satu simpul kehidupan Jakarta.

Setiap hari, ribuan orang menyebut namanya. Manggarai menjadi tujuan, tempat transit, atau sekadar titik yang harus dilewati sebelum sampai ke tempat kerja. Tak banyak yang berhenti sejenak untuk bertanya dari mana nama itu berasal.

Padahal, jauh sebelum kawasan ini dikenal sebagai pusat pergerakan kereta api, Manggarai menyimpan kisah tentang manusia yang dipindahkan dari tanah kelahirannya. Mereka datang dari Flores, Nusa Tenggara Timur. Sebagian menjadi bagian dari sistem perbudakan yang menopang kehidupan ekonomi Batavia pada masa kolonial.

Nama Manggarai di Jakarta diduga berasal dari nama daerah di Flores Barat, tempat asal kelompok penghuni awal kawasan tersebut. Nama itu bukan sekadar penanda geografis. Ia menyimpan kemungkinan sebuah kerinduan: ingatan terhadap tanah yang pernah ditinggalkan, kampung yang jauh, dan kehidupan yang tak selalu bisa dipilih sendiri.

Di tengah kota yang terus berubah, nama itu tetap bertahan. Sementara cerita manusia yang membawanya masih menyisakan banyak bagian yang belum terungkap.

Nama Yang Dibawa Dari Tanah Seberang

Dalam buku Asal Usul Nama Tempat di Jakarta, budayawan Rachmat Ruchiat menulis bahwa nama Manggarai kemungkinan diberikan oleh kelompok penghuni awal yang berasal dari Flores Barat. Mereka menamai permukiman barunya dengan nama daerah asal, sebagai pengikat kenangan terhadap kampung halaman yang ditinggalkan.

Rachmat memperkirakan penamaan itu berlangsung sekitar 1770. Keterangan tersebut kembali dimuat dalam tulisannya di situs Sejarah Jakarta pada 8 April 2019.

Ada sesuatu yang menyentuh dalam penamaan semacam itu. Di tanah yang jauh dari tempat kelahirannya, seseorang membawa nama kampung halaman untuk menandai keberadaannya. Nama menjadi semacam rumah yang dapat dibawa ke mana-mana, ketika rumah yang sesungguhnya telah hilang dari jangkauan.

Namun, sejarah Manggarai tidak sesederhana kisah sekelompok orang yang merantau lalu mendirikan permukiman baru.

Buku Penulisan Sejarah Kebudayaan Betawi: Toponimi Nama Kelurahan di Jakarta, yang diterbitkan Dinas Kebudayaan DKI Jakarta pada 2022, mencatat bahwa kawasan Manggarai sudah dikenal sejak abad ke-17 sebagai tempat konsentrasi budak dari Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur.

Buku yang ditulis Yahya Andi Saputra, Imbong Hasbullah, Fadjriah Nurdiasih, Rudy Haryanto, dan Ismail itu juga mengingatkan bahwa kawasan tersebut sejatinya merupakan kampung tua yang telah dihuni masyarakat Betawi.

Dua keterangan itu memberi gambaran bahwa sejarah Manggarai memiliki lapisan yang berbeda. Ada masyarakat yang telah lebih dahulu mendiami kawasan tersebut, ada orang-orang Flores yang kemudian hadir dalam sejarah permukimannya, dan ada kekuasaan kolonial yang mengatur tanah serta manusia di dalamnya.

Penamaan sekitar 1770 pun perlu dibaca sebagai perkiraan terbentuknya identitas permukiman, bukan sebagai tanggal pasti kedatangan pertama orang Flores ke Batavia.

Sejarah sebuah nama kadang lebih mudah diwariskan daripada sejarah manusia yang menghidupkannya.

Ketika manusia menjadi komoditas

Untuk memahami bagaimana orang-orang Flores sampai ke Batavia, perjalanan sejarah perlu ditarik ke abad ke-17. Saat itu, Batavia bukan hanya pusat pemerintahan VOC, melainkan juga kota perdagangan yang tumbuh dengan sistem ekonomi kolonial.

Di balik benteng, gudang, pelabuhan, dan rumah-rumah besar milik orang Eropa, terdapat kehidupan manusia yang tidak setara. Perbudakan menjadi bagian dari susunan sosial masyarakat kolonial. Memiliki budak merupakan penanda kedudukan dan kekayaan.

Dalam laporan berjudul Jejak Kelam Perbudakan di Manggarai yang terbit di Media Indonesia pada 7 Agustus 2017, Deni Aryanto menguraikan bagaimana para pemilik perkebunan di sekitar Batavia menggunakan tenaga budak untuk menggarap tanah partikelir.

Tanah-tanah itu umumnya luas. Di atasnya berdiri rumah utama milik tuan tanah yang disebut landhuis. Dari tempat itulah perkebunan dikelola dan hasil bumi dipasarkan.

VOC membutuhkan tenaga manusia untuk menopang kegiatan ekonomi tersebut. Orang-orang didatangkan dari berbagai wilayah Nusantara, termasuk Nusa Tenggara Timur, Jawa, dan Bali. Sebagian dari mereka diambil secara paksa dari daerah yang berada dalam jangkauan kekuasaan kolonial.

Di selatan Batavia, perkebunan tebu berkembang. Kebutuhan tenaga kerja mendorong pengerahan manusia dalam jumlah besar. Mereka dikelompokkan berdasarkan daerah asal.

Sejarawan Restu Gunawan, sebagaimana dikutip Media Indonesia, menjelaskan hubungan kedatangan tenaga kerja dari Nusa Tenggara Timur dengan penamaan Manggarai. Ia membandingkannya dengan keberadaan Kampung Jawa dan Kampung Bali di kawasan lain Jakarta.

Sementara itu, Rachmat Ruchiat menghubungkan nama Manggarai dengan kelompok orang Flores Barat yang menjadi penghuni awal permukiman tersebut.

Dua keterangan itu memperlihatkan bagaimana sejarah perpindahan manusia berkaitan dengan pembentukan nama tempat. Namun, di balik perpindahan tersebut terdapat persoalan yang jauh lebih gelap: tidak semua orang datang karena memilih untuk meninggalkan kampung halaman.

Dalam sistem perbudakan, manusia dapat dimiliki dan diperjualbelikan. Mereka kehilangan kebebasan untuk menentukan tempat tinggal, pekerjaan, bahkan kehidupan keluarga. Tubuh mereka berada di bawah kekuasaan orang lain.

Perbudakan berbeda dengan kerja paksa atau kerja rodi. Perbudakan menjadikan manusia sebagai milik yang dapat dipindahtangankan, sedangkan kerja paksa merupakan pengerahan tenaga tanpa kebebasan atau persetujuan yang layak. Keduanya merupakan bentuk eksploitasi, tetapi tidak boleh dicampuradukkan.

Karena itu, sejarah Manggarai lebih tepat ditelusuri melalui catatan perdagangan manusia dan konsentrasi budak dari Flores, sembari tetap membuka penelitian tentang bentuk-bentuk kerja paksa lainnya di kawasan Batavia.

Berapa banyak orang Flores yang dibawa ke sana? Dari kampung mana mereka berasal? Siapa yang menguasai mereka? Pertanyaan-pertanyaan itu belum seluruhnya terjawab.

Pasar Yang Pernah Memperdagangkan Manusia

Salah satu bagian paling kelam dari sejarah Manggarai berkaitan dengan kawasan yang kini dikenal sebagai Pasar Rumput.

Dalam laporan Media Indonesia, Restu Gunawan menjelaskan bahwa perdagangan budak di selatan Batavia berkaitan dengan pasar tenaga kerja untuk kebutuhan rumah tangga dan perkebunan. Budak-budak didatangkan melalui mekanisme jual beli dan kemudian ditempatkan sesuai kebutuhan para pemiliknya.

Budayawan Betawi Ridwan Saidi, dalam laporan yang sama, menyebut kawasan yang kini dikenal sebagai Pasar Rumput sebagai salah satu pusat perbudakan pada masa itu.

Ada ironi dalam perubahan nama tempat tersebut. Pasar yang dalam catatan sejarah dikaitkan dengan perdagangan manusia kemudian dikenal sebagai pusat penjualan rumput untuk pakan kuda.

Pada masa ketika kuda dan delman masih menjadi bagian penting transportasi kota, rumput merupakan barang dagangan yang dibutuhkan. Pasar itu berkembang sebagai tempat para pemilik kuda dan penarik delman mendapatkan pakan ternak.

Perubahan fungsi tersebut menggambarkan bagaimana sebuah kawasan dapat mengalami pergantian wajah. Aktivitas ekonomi berubah, orang-orang datang dan pergi, tetapi jejak masa lalu tidak serta-merta terhapus.

Kini Pasar Rumput dikenal sebagai bagian dari kesibukan Jakarta Selatan. Orang datang untuk berbelanja, bekerja, atau sekadar melintas. Sulit membayangkan bahwa kawasan di sekitarnya pernah menjadi bagian dari sejarah perdagangan manusia.

Tidak ada lagi transaksi yang menjadikan tubuh manusia sebagai barang dagangan. Namun, sejarahnya masih tertulis dalam sejumlah catatan.

Tanah yang dikuasai, manusia yang dipekerjakan

Perbudakan di Batavia tidak dapat dipisahkan dari sejarah penguasaan tanah.

Dalam buku Penulisan Sejarah Kebudayaan Betawi: Toponimi Nama Kelurahan di Jakarta, kawasan Manggarai disebut pernah menjadi tanah partikelir dengan hasil utama kelapa. Pemilik atau tuan tanahnya adalah perusahaan swasta bernama Eurazie I.

Keterangan itu merujuk pada buku G. de Beus, Plaatselijk Woordenboek van Java en Madoera, yang diterbitkan di Amsterdam pada 1912.

Tanah partikelir merupakan lahan luas yang dikuasai pihak swasta. Para tuan tanah memiliki kewenangan besar dalam mengelola wilayahnya, termasuk mendatangkan pekerja dan penggarap dari luar kawasan.

Di Batavia, tanah bukan hanya sumber penghasilan. Ia juga menjadi alat kekuasaan. Siapa yang menguasai tanah dapat mengatur kegiatan ekonomi dan kehidupan orang-orang yang tinggal atau bekerja di atasnya.

Kawasan selatan Batavia berkembang melalui perkebunan, permukiman, dan jaringan perdagangan. Hasil bumi dikirim ke pusat kota, sementara tenaga manusia menjadi penopang kegiatan produksi.

Dalam struktur seperti itu, orang-orang yang diperbudak berada pada posisi paling rentan. Mereka bekerja bukan untuk membangun kehidupan yang mereka tentukan sendiri, melainkan untuk menghasilkan keuntungan bagi orang lain.

Tetapi sejarah Manggarai juga harus dibaca dengan hati-hati. Tidak semua penduduk kawasan itu berasal dari Flores, tidak semua pekerja merupakan budak, dan tidak semua warga sekarang memiliki hubungan keturunan dengan orang-orang yang diperbudak.

Kampung tua Betawi telah lebih dahulu menjadi bagian dari sejarah kawasan tersebut. Kehadiran orang Flores kemudian menambah lapisan sosial dan kebudayaan yang membentuk Manggarai.

Lenggo: Kebudayaan Yang Menyeberangi Laut

Di tengah kisah perbudakan dan pemindahan manusia, ada satu jejak lain yang lebih lembut: kesenian.

Rachmat Ruchiat mencatat bahwa sebelum Perang Dunia II, di Manggarai berkembang sebuah tarian bernama lenggo. Tarian itu diiringi orkes yang antara lain menggunakan tiga rebana biang.

Ahli etnomusikologi Jaap Kunst pernah mendokumentasikan tarian tersebut dalam bukunya Music in Java. Dalam perkembangannya, lenggo dikenal pula sebagai belenggo dan menjadi bagian dari tradisi kesenian Betawi.

Rachmat mengutip keterangan H. Abdurahman, mantan Kepala Jawatan Kebudayaan Provinsi Nusa Tenggara Timur, yang menyebut bahwa tarian sejenis juga dikenal di Bima dengan nama lenggo.

Ada kemungkinan tari belenggo Betawi berkembang dari tradisi lenggo yang dibawa oleh orang-orang Flores Barat. Hubungan ini menjadi salah satu petunjuk penting mengenai perjumpaan kebudayaan antara masyarakat dari wilayah timur Nusantara dan penduduk Batavia.

Kebudayaan tidak selalu berpindah melalui perjalanan yang sukarela. Ia juga dapat ikut terbawa dalam perjalanan orang-orang yang tercerabut dari tempat asalnya.

Gerak tubuh, irama musik, dan tradisi menjadi cara untuk mempertahankan ingatan. Di tempat yang baru, kebudayaan itu beradaptasi, berbaur, dan menemukan bentuk lain.

Jika nama Manggarai menjadi penanda asal-usul geografis, lenggo menjadi jejak kebudayaan yang mungkin mempertemukan dua wilayah yang berjauhan.

Di sana, sejarah tidak hanya berbicara tentang kehilangan. Ia juga berbicara tentang daya tahan manusia.

Ketika Rel Kereta Mengambil Alih Lanskap

Memasuki abad ke-20, Manggarai mulai memperoleh wajah baru. Rel kereta api perlahan mengubah kawasan tersebut menjadi bagian penting dari jaringan transportasi Batavia.

Menurut catatan sejarah PT Kereta Api Indonesia, setelah mengambil alih jalur Jakarta-Bogor dari perusahaan swasta Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij pada 1913, Staatsspoorwegen melakukan penataan jaringan perkeretaapian di Jakarta.

Pembangunan Stasiun Manggarai diperkirakan dimulai pada 1914. Proyek itu mencakup stasiun, bengkel kereta, dan perumahan pegawai.

Arsitek Belanda Ir. J. Van Gendt terlibat dalam rancangan bangunan stasiun. Pembangunan menghadapi kendala pasokan besi dari Eropa akibat Perang Dunia I. Sejumlah bagian konstruksi yang semula direncanakan menggunakan besi akhirnya diganti dengan material kayu.

Stasiun Manggarai resmi beroperasi pada 1 Mei 1918.

Sejak itu, kawasan ini semakin terhubung dengan pusat-pusat kegiatan ekonomi dan pemerintahan. Kereta membawa penumpang dan barang, sementara permukiman di sekitarnya terus berkembang.

Manggarai pun memasuki babak baru. Dari kawasan yang memiliki sejarah perkebunan dan perdagangan manusia, ia tumbuh menjadi simpul transportasi yang menghubungkan berbagai wilayah.

Pada 3 Januari 1946, stasiun ini juga menjadi saksi perjalanan sejarah Republik. Kereta Api Luar Biasa mengangkut Presiden Sukarno dan rombongan menuju Yogyakarta ketika Jakarta tidak lagi aman sebagai pusat pemerintahan.

Sejarah kawasan ini seolah bertumpuk dalam beberapa lapisan: perbudakan kolonial, perkebunan, perkembangan perkeretaapian, revolusi kemerdekaan, hingga kehidupan metropolitan.

Rel kereta melintasi kawasan yang pernah menyimpan cerita tentang manusia-manusia yang dipindahkan secara paksa. Perjalanan yang dahulu tidak dapat mereka pilih kini menjadi bagian dari kehidupan jutaan orang.

Nama Yang Lebih Panjang Daripada Ingatan

Menjelang sore, Manggarai kembali dipenuhi manusia. Penumpang bergerak dari satu peron ke peron lain. Pedagang menawarkan dagangan. Kendaraan memenuhi jalan. Kota menjalankan rutinitasnya seperti tidak pernah mengenal masa lalu.

Bagi sebagian orang, Manggarai hanyalah tempat transit. Sebuah nama yang harus disebut ketika membeli tiket atau menentukan arah perjalanan.

Tetapi bagi sejarah Jakarta, nama itu memiliki arti yang lebih panjang.

Buku sejarah toponimi yang diterbitkan Dinas Kebudayaan DKI Jakarta mencatat bahwa nama kawasan ini kemungkinan diberikan oleh kelompok orang Flores Barat yang menetap di sana. Mereka membawa nama tanah asal untuk mengikat ingatan terhadap kampung halaman yang ditinggalkan.

Di balik penamaan itu terdapat pertanyaan tentang manusia-manusia yang pernah datang ke Batavia. Apakah mereka memiliki keluarga yang tertinggal di Flores? Apakah mereka sempat mengirim kabar? Apakah ada yang kembali? Atau justru nama Manggarai menjadi satu-satunya peninggalan dari perjalanan yang tidak pernah mereka inginkan?

Arsip VOC yang tersimpan di Arsip Nasional Republik Indonesia mungkin dapat membantu menjawab sebagian pertanyaan tersebut. Arsip itu mencakup dokumen pemerintahan dan kegiatan operasional VOC di Asia, termasuk Batavia. Di dalamnya terdapat catatan tentang kehidupan sosial, ekonomi, dan administrasi kolonial.

Namun, penelusuran lebih jauh masih diperlukan untuk menemukan nama-nama orang Flores yang diperbudak, jalur kedatangan mereka, serta hubungan langsung dokumen tersebut dengan permukiman Manggarai.

Sejarah perbudakan selama ini lebih sering mencatat nama pemilik tanah, pejabat kolonial, dan perusahaan dagang. Sementara manusia yang diperdagangkan kerap muncul sebagai angka atau kelompok tanpa identitas.

Mereka hadir dalam catatan sebagai tenaga kerja, budak, atau penduduk dari suatu daerah. Padahal, di balik sebutan itu, ada manusia yang pernah memiliki keluarga, bahasa, rumah, dan kehidupan.

Mungkin itulah yang membuat nama Manggarai terasa berbeda ketika dibaca melalui sejarahnya. Ia bukan hanya nama sebuah kawasan di Jakarta Selatan. Ia juga menjadi pintu untuk mengingat manusia-manusia yang pernah kehilangan kebebasan.

Mereka mungkin telah lama tiada. Rumah-rumah mereka di Flores mungkin telah berganti penghuni. Nama-nama mereka mungkin tidak pernah masuk ke buku sejarah.

Tetapi Nama Tanah Asal Mereka Masih Hidup Di Jakarta.

Setiap kereta yang berangkat dari Stasiun Manggarai membawa orang-orang menuju tempat yang mereka pilih sendiri. Mereka bekerja, belajar, mencari penghidupan, lalu pulang. Sebuah kebebasan yang bagi sebagian orang pada masa kolonial bukanlah sesuatu yang mudah dimiliki.

Di antara suara kereta dan langkah penumpang, Manggarai menyimpan sebuah ironi sejarah: tempat yang kini menjadi persimpangan perjalanan manusia pernah berkaitan dengan nasib orang-orang yang tidak diberi kebebasan untuk menentukan perjalanan hidupnya.

Kota boleh berubah. Rel boleh bertambah. Bangunan lama boleh berganti rupa. Tetapi sebuah nama kadang menyimpan ingatan yang jauh lebih panjang daripada usia manusia yang pertama kali membawanya.

Manggarai tetap ada. Orang-orang yang meninggalkan nama itu telah lama menghilang dari pandangan. Sejarah merekalah yang kini perlu dicari kembali.