INDUSTRY.co.id - JAKARTA, Pasar Gen Z tak bisa dipandang sebelah mata. Industri makanan dan minuman (mamin) yang merupakan salah satu sektor paling diminati investor pun sebagian membidik pasar Gen Z.
Ketua GAPMMI (Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia) Adhi S Lukman mengatakan, industri mamin terus berkembang dan investasi di sektor ini sangat menarik karena berperan dalam ketahanan pangan sekaligus memberikan kontribusi terhadap perekonomian.
"Industri makanan dan minuman (mamin) terus berkembang. Investasi di industri makanan dan minuman sangat menarik karena ada banyak peran yang bisa kita jalankan. Intinya, kita berperan dalam ketahanan pangan sekaligus memberikan kontribusi terhadap perekonomian kita," kata Adhi dalam diskusi yang digelar di pameran Krista Interfood Expo 2026 di NICE, PIK 2, Kabupaten Tangerang, Banten, Rabu (4/11/2026).
Menurut Adhi, Indonesia menuju negara berpendapatan tinggi, dengan proporsi generasi muda lebih banyak dan memiliki karakteristik tersendiri.
Bappenas memprediksi, jumlah penduduk Indonesia pada 2045 mencapai 318,9 juta dengan 233 juta adalah kelas berpendapatan menengah. Jumlah itu terdiri dari generasi Post Gen Z sebesar 10,88 persen, Gen Z sebesar 27,94 persen, dan Milenial 25,87 persen. Artinya, Gen Z dan Milenial nantinya yang akan menguasai pasar.
Terkait Gen Z, Adhi menilai mereka memiliki karakteristik unik. Sebagai konsumen, mereka tidak mencari produk murah, tetapi produk yang lebih baik, variasi lebih banyak, nilai tambah lebih tinggi, dan makanan lebih fungsional.
"Menurut saya, salah satu karakter mereka adalah selalu menginginkan sesuatu yang cepat. Mereka juga ingin mendapatkan informasi atau bukti berbasis sains (scientific-based evidence) sebelum mengambil keputusan. Mereka ingin tampil, mencoba hal-hal baru, serta menyukai tantangan, perubahan, dan pengalaman yang berbeda," ungkap Adhi.
Karakter tersebut, kata Adhi, menjadi peluang bagi industri mamin, termasuk bagi pelaku usaha yang baru memulai bisnis. Ketika ada produk baru, Gen Z cenderung ingin mencobanya.
"Jadi, tidak perlu takut bersaing dengan produk-produk yang sudah lama eksis. Kita bisa melihat bahwa banyak sekali produk makanan dan minuman yang menjadi viral, bahkan sampai membuat orang rela mengantre untuk membelinya," tambahnya.
Jenis produknya pun beragam, termasuk functional food atau pangan fungsional yang sedang menjadi tren. Semakin banyak produk yang difortifikasi, misalnya dengan penambahan vitamin, mineral, hingga kolagen.
Permintaan Investasi Mamin Terus Berkembang
Adhi menegaskan, peran industri mamin sangat besar bagi perekonomian, sehingga pemerintah memberikan perhatian besar terhadap sektor ini.
Salah satu indikator ekonomi industri bergerak naik adalah aktivitas industri mamin dalam mempersiapkan diri menjelang Hari Besar Nasional (HBN). Mulai dari Natal, bulan puasa hingga Lebaran, ada siklus persiapan yang dilakukan industri. Produksi meningkat, begitu pula pembelian bahan baku.
"Kondisi tersebut turut mendorong perbaikan indeks PMI (Purchasing Managers' Index) kita. Pada Oktober, indeks industri kita dapat mencapai 53,7. Salah satu sektor yang berkontribusi terhadap peningkatan tersebut adalah industri makanan dan minuman," ujar Adhi.
Dalam diskusi yang sama, Direktur Pengembangan Promosi Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Rakhmat Yulianto, mengatakan permintaan investasi pada mamin akan terus berkembang.
"Kalau kita kembali lagi pada demand atau permintaan, kita sudah merasakan bahwa permintaan investasi pada mamin akan terus berkembang seiring dengan waktu. Pada momentum ini, tentu perlu ada kesiapan dari sisi penyediaan atau supply," kata Rakhmat.
Khusus untuk industri mamin, investasi domestik terus meningkat. Pada 2024, nilainya terus bertumbuh, meskipun masih berada di bawah investasi asing.
Jika melihat data Januari-September, total investasi pada 2026 akan lebih besar dibandingkan keseluruhan investasi pada 2025. Sepanjang Januari sampai September 2026 investasi pada mamin mencapai Rp85,5 triliun, berada di peringkat 7 top investasi.
"Hal ini menunjukkan bahwa kepercayaan investor asing mulai meningkat. Tahun lalu, mungkin para investor masih melihat dan mempelajari potensi serta situasi pasar. Namun, sekarang mereka semakin yakin bahwa industri makanan dan minuman merupakan salah satu sektor yang paling diminati investor," kata Rakhmat.
Bahkan, banyak pelaku usaha dari sektor lain yang mulai masuk ke industri mamin. Contohnya, pelaku usaha dari sektor logam dan sektor lainnya mulai merambah industri ini.
"Kalau kita lihat berdasarkan negara asal investasi, Singapura masih berada di posisi pertama untuk investasi di industri makanan dan minuman, yaitu sebesar 29,6 persen atau US$14 miliar, disusul Hong Kong 27 persen atau US$12,8 miliar, Cina 10,5 persen atau US$5 miliar, USA 7,1 persen atau US$3,4 miliar, Jepang 5,5 persen atau US$2,6 miliar, Korea Selatan, dan negara lainnya," papar Rakhmat.