INDUSTRY.co.id - GENEVA, SWITZERLAND – Sebanyak 50 delegasi muda dari enam negara berkumpul di Geneva, Swiss, untuk mengikuti Asia Youth International Model United Nations (AYIMUN) 23rd pada 25–30 Oktober 2026. 

Menghadirkan pengalaman diplomasi internasional di lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), konferensi ini menjadi wadah bagi generasi muda untuk mengembangkan keterampilan diplomasi, kepemimpinan, negosiasi, serta memperluas wawasan mengenai berbagai tantangan global.

Mengusung tema “United in Diversity: Fostering Inclusion, Equity and Cultural Understanding”, AYIMUN 23rd mempertemukan delegasi dari Australia, Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Tunisia. 
Melalui forum internasional ini, para peserta diajak bertukar perspektif, membangun pemahaman lintas budaya, serta merumuskan gagasan dan solusi terhadap berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat dunia.

Salah satu keistimewaan AYIMUN 23rd adalah penyelenggaraan rangkaian kegiatan di Palais des Nations, Geneva, yang merupakan kantor pusat United Nations Office at Geneva (UNOG). Lokasi bersejarah tersebut dikenal sebagai salah satu pusat diplomasi multilateral dunia, tempat berbagai pertemuan dan negosiasi internasional berlangsung.

Kesempatan mengikuti konferensi di lingkungan diplomasi PBB memberikan pengalaman tersendiri bagi para delegasi. Mereka dapat mengenal lebih dekat atmosfer diplomasi internasional sekaligus memahami bagaimana dialog, negosiasi, dan kerja sama antarnegara berperan dalam menghadapi tantangan global.

AYIMUN 23rd diselenggarakan oleh International Global Network (IGN) melalui kolaborasi dengan UNITAR (United Nations Institute for Training and Research), lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa yang berbasis di Geneva dan berfokus pada pengembangan kapasitas serta pembelajaran bagi individu maupun institusi.

Konferensi ini secara resmi dibuka oleh Muhammad Fahrizal, selaku President of International Global Network (IGN). Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi kepada UNITAR atas terjalinnya kolaborasi yang memberikan kesempatan pembelajaran internasional bagi generasi muda.

“International Global Network terus berkomitmen untuk membuka kesempatan bagi generasi muda dalam mengembangkan potensi diri, memperluas wawasan, dan membangun koneksi lintas negara agar mereka dapat tumbuh menjadi individu yang kompeten dan mampu memberikan kontribusi positif di masa depan,” ujar Muhammad Fahrizal.

Sementara itu, Julian Caletti, Associate Programme Officer, Division for Multilateral Diplomacy (DMD), UNITAR, memperkenalkan Geneva sebagai salah satu kota penting dalam ekosistem diplomasi internasional.

Menurutnya, meskipun secara geografis merupakan kota yang relatif kecil, Geneva menjadi rumah bagi berbagai organisasi internasional, termasuk World Health Organization (WHO), International Labour Organization (ILO), serta sejumlah institusi yang berperan dalam kerja sama multilateral.

Keberadaan organisasi-organisasi tersebut menjadikan Geneva sebagai lingkungan pembelajaran yang unik bagi generasi muda untuk mengenal praktik diplomasi dan hubungan internasional secara lebih dekat.

Julian juga menjelaskan bahwa UNITAR memiliki peran dalam meningkatkan kapasitas individu dan institusi melalui berbagai program pendidikan dan pengembangan keterampilan untuk menghadapi tantangan global.

“AYIMUN 23rd menjadi kolaborasi pertama antara UNITAR dan IGN, yang diwujudkan melalui sinergi keahlian dan pengalaman kedua institusi dalam menghadirkan pengalaman pembelajaran yang relevan dan bermakna bagi para delegasi,” ungkap Julian Caletti.

Dalam konferensi AYIMUN 23rd, para delegasi tergabung dalam United Nations Development Programme (UNDP) Council dengan mengangkat topik “Resilient Living: Fostering Urban Infrastructures to Anticipate Against Natural Disasters”.

Topik tersebut berfokus pada tantangan pembangunan infrastruktur perkotaan yang tangguh dalam menghadapi bencana alam. Para peserta diajak mengeksplorasi berbagai pendekatan kebijakan untuk meningkatkan kesiapsiagaan, memperkuat ketahanan masyarakat, serta mengembangkan infrastruktur yang mampu menghadapi risiko bencana.

Pembahasan ini menjadi relevan mengingat berbagai kota di dunia menghadapi tantangan yang semakin kompleks, mulai dari perubahan iklim, banjir, gempa bumi, hingga risiko bencana lainnya yang dapat mengganggu kehidupan masyarakat dan pembangunan perkotaan.

Selama persidangan, para delegasi dipandu oleh Board of Dais yang terdiri dari Pablo Guyanes asal Spanyol dan Sofia Milo asal Portugal, dengan Elliot Bonfils asal Prancis sebagai Secretary-General.

Para peserta menjalani berbagai tahapan simulasi sidang PBB, mulai dari penyampaian pandangan negara, diskusi, negosiasi, hingga penyusunan dokumen resolusi. Dokumen tersebut menjadi bentuk rekomendasi kebijakan yang dirumuskan berdasarkan hasil pembahasan bersama.