INDUSTRY.co.id - JAKARTA - Latar belakang pendidikan tidak selalu menjadi batas untuk bermimpi lebih tinggi. Hal itu dibuktikan Muhamad Yusuf Ismail, mahasiswa Program Studi International Relations angkatan 2024 President University (PresUniv).
Siapa sangka, pemuda yang sebelumnya menempuh pendidikan di SMK jurusan IT ini kini mengoleksi lebih dari 100 sertifikat nasional dan internasional, dari ajang kepemudaan Kemenpora hingga panggung inovasi di Korea Selatan, Malaysia, dan Amerika Serikat.
"Saya menempuh pendidikan di SMK dengan jurusan yang berfokus pada bidang IT. Namun saya menyadari, memahami teknologi saja tidak cukup. Kita juga perlu memahami bagaimana dunia bekerja, bagaimana membangun hubungan, serta bagaimana dinamika internasional memengaruhi kehidupan," ujar Yusuf dalam keterangannya Kamis (5/11/2026)
Kesadaran itulah yang membawanya membanting setir ke Hubungan Internasional. Ia memilih President University karena lingkungan pembelajarannya yang internasional.
"Program Studi International Relations memiliki kualitas pendidikan yang baik, dengan lingkungan yang sangat internasional. Ini kesempatan berharga untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggris, memperluas relasi, dan mempersiapkan diri berkarier di tingkat internasional," katanya.
Motivasi dan Dukungan Kampus
Selama dua tahun kuliah, Yusuf tidak hanya aktif di kelas. Ia mengaku ada dua hal yang mendongkrak prestasinya.
Pertama, motivasi untuk membanggakan orang tua. "Setiap pencapaian bukan hanya untuk diri sendiri, tapi cara untuk membalas dukungan dan pengorbanan orang tua," tuturnya.
Kedua, ekosistem suportif President University. Dosen, teman, hingga pihak kampus dinilai memberikan dukungan penuh terhadap kompetisi dan pengembangan diri yang ia ikuti.
"Prestasi tidak hanya datang dari kemampuan akademik, tetapi juga dari kemauan untuk terus belajar, keberanian mengambil kesempatan, dan konsistensi," ujarnya.

Deretan Prestasi Internasional
Dari lebih dari 100 sertifikat yang ia raih, sejumlah prestasi menjadi tonggak penting.
Di tahun pertama, ia terpilih sebagai Duta Inspirasi Indonesia Putra Jawa Barat, program kepemudaan di bawah naungan Kementerian Pemuda dan Olahraga RI.
Prestasi itu berlanjut. Ia dinobatkan sebagai The Most Outstanding Student President University dan mewakili kampusnya dalam ajang Pemilihan Mahasiswa Berprestasi tingkat LLDIKTI Wilayah IV Jawa Barat dan Banten.
Di kancah internasional, daftarnya semakin panjang. Gold Award dalam Korea International Youth Olympiad (KIYO) di Korea Selatan, Gold Medal dalam World Invention Competition and Exhibition (WICE) di Malaysia, hingga juara di International Science and Invention Competition di Universitas Indonesia.
Bersama timnya, ia juga meraih United Nations Special Award yang diberikan melalui World Intellectual Property Organization (WIPO) dalam ajang KIYO.
Tak berhenti di kompetisi, Yusuf juga menembus program student exchange di INTI International University Malaysia, Research Assistant di Naresuan University Thailand, hingga course program di Columbia University, Amerika Serikat.
"Bagi saya, setiap pencapaian bukan hanya tentang penghargaan, melainkan tentang proses belajar, orang-orang yang mendukung, dan kesempatan yang membantu saya berkembang," katanya.
Betah di President University
Ketika ditanya apa yang paling disukai dari President University, Yusuf menjawab lugas: lingkungan yang suportif.
Ia merasa dosen tidak hanya fokus mengajar di kelas, tetapi juga mendorong mahasiswa mengembangkan potensi di luar perkuliahan. Ditambah lingkungan mahasiswa yang multikultural dan penggunaan bahasa Inggris sehari-hari.
"President University memberikan ruang bagi mahasiswa untuk tidak hanya berkembang secara akademik, tetapi juga membangun kepercayaan diri, memperluas koneksi, dan berani mengambil kesempatan yang mungkin sebelumnya belum pernah terpikirkan," ujarnya.
Pesan untuk Mahasiswa Baru
Bagi mahasiswa baru yang ingin berprestasi, Yusuf punya pesan sederhana: jangan pernah meremehkan diri sendiri.
"Kita tidak harus menjadi ahli terlebih dahulu untuk mulai mencoba. Justru melalui proses mencoba itulah kita bisa belajar," kata dia.
Menurutnya, gagal adalah bagian dari proses. Jika tidak pernah mencoba, kesempatan untuk belajar dan berkembang akan hilang.
"Manfaatkan masa kuliah sebaik mungkin. Ikuti kompetisi, organisasi, pertukaran pelajar, atau penelitian sesuai minat. Tidak perlu membandingkan proses dengan orang lain, karena setiap orang memiliki perjalanannya masing-masing," pesannya.
Ia menutup dengan pesan untuk tetap rendah hati saat berhasil dan tidak mudah menyerah saat gagal.
"Yang terpenting bukan seberapa cepat kita meraih prestasi, tetapi bagaimana kita terus berproses menjadi pribadi yang lebih baik dan memberikan manfaat bagi orang di sekitar kita," tutupnya.