INDUSTRY.co.id - Jakarta – Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) mulai mengubah lanskap dunia kerja, mulai dari proses operasional industri, kebutuhan keterampilan tenaga kerja, hingga peluang karier bagi generasi muda. Menghadapi perubahan tersebut, penguasaan teknologi dinilai tidak lagi cukup tanpa kemampuan memahami kebutuhan pasar dan menciptakan solusi yang memiliki nilai ekonomi.

CEO Rankpillar, Agung Dwi Sandi, mengatakan generasi muda perlu membangun kemampuan beradaptasi agar dapat memanfaatkan perkembangan AI sebagai peluang, bukan justru tertinggal oleh perubahan teknologi.

Hal tersebut disampaikan Agung saat membawakan materi bertajuk “AI & the Future of Work” dalam Seminar Artificial Intelligence di Universitas Nusa Mandiri (UNM) kampus Jatiwaringin, Jakarta Timur, Kamis (29/10).

Dalam pemaparannya, Agung menjelaskan bahwa setiap gelombang perkembangan teknologi selalu membawa perubahan terhadap kebutuhan tenaga kerja. Perubahan tersebut telah berlangsung sejak revolusi industri, perkembangan komputer pribadi, kemunculan internet, hingga adopsi AI dan Generative AI saat ini.

“Pola yang dapat dipelajari dari berbagai gelombang teknologi tersebut adalah perubahan kebutuhan tenaga kerja. Pekerjaan yang bersifat rutin semakin berpeluang untuk diotomatisasi, sedangkan kemampuan beradaptasi, berpikir kritis, dan menyelesaikan persoalan menjadi semakin relevan,” jelasnya.

Agung membagi perkembangan adopsi AI ke dalam tiga fase, yakni AI Application, Agentic AI, dan AI Native. Pada fase pertama, AI dimanfaatkan melalui berbagai aplikasi seperti ChatGPT, Perplexity, dan KOL.ID untuk membantu pekerjaan tertentu, termasuk aktivitas administratif dan pengolahan informasi.

Selanjutnya, fase Agentic AI memungkinkan sistem kecerdasan buatan menjalankan serangkaian tugas dan alur kerja secara lebih terintegrasi. Adapun fase AI Native menggambarkan kondisi ketika AI telah menjadi bagian mendasar dalam proses bisnis dan pengambilan keputusan.

Menurut Agung, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa penggunaan AI tidak lagi sebatas membantu pekerjaan manusia. Integrasi teknologi ini juga berpotensi mengubah struktur pekerjaan dan menggeser kebutuhan terhadap keterampilan konvensional yang bersifat monoton.

“Semakin tinggi adopsi AI, maka jenis pekerjaan konvensional yang monoton akan semakin tergeser. Oleh karena itu, generasi muda harus menjadi pengendali teknologi, bukan sekadar penonton,” ungkap Agung.

Selain penguasaan teknologi, Agung menekankan pentingnya kemampuan membaca kebutuhan pasar sebagai bekal memasuki dunia kerja maupun membangun usaha. Menurutnya, pendidikan akademik tetap penting, tetapi pengetahuan yang diperoleh harus mampu diterjemahkan menjadi kompetensi dan solusi atas persoalan nyata.

Pesan tersebut dirangkumnya melalui ungkapan “Books Don't Hire You, Markets Do”. Artinya, pengetahuan dari buku maupun ruang kelas tidak otomatis membuat seseorang dibutuhkan oleh dunia kerja apabila tidak disertai kemampuan menjawab kebutuhan pasar.

Agung juga memperkenalkan formula “AI + Market + Human = Your Edge” untuk menggambarkan kombinasi antara penguasaan teknologi, pemahaman pasar, dan kemampuan manusia sebagai keunggulan dalam menghadapi persaingan.

Melalui pendekatan tersebut, mahasiswa didorong untuk melihat peluang pemanfaatan AI di berbagai sektor, mulai dari pasar keuangan, industri hiburan, hingga pemrograman. Peluang bisnis dapat muncul ketika seseorang mampu mengidentifikasi persoalan yang belum terselesaikan atau menawarkan cara yang lebih efektif dalam memenuhi kebutuhan konsumen.

Salah satu peluang yang dapat dikembangkan adalah menciptakan produk berbasis AI. Agung menyarankan generasi muda memulai pengembangan produk melalui pendekatan Minimum Viable Product (MVP), yakni versi awal produk dengan fitur inti untuk menguji respons dan kebutuhan pengguna.

“Salah satu pendekatan yang dapat dicoba adalah mengembangkan produk berbasis AI. Anak muda dapat memulainya melalui Minimum Viable Product (MVP), yakni versi awal produk dengan fitur inti yang digunakan untuk menguji apakah solusi yang ditawarkan benar-benar dibutuhkan pengguna,” tegasnya.

Pendekatan MVP memungkinkan calon pengusaha menguji gagasan bisnis tanpa harus menunggu produk mencapai tahap sempurna. Masukan dari pengguna kemudian dapat dimanfaatkan untuk menyempurnakan produk agar lebih sesuai dengan kebutuhan pasar.

Dalam kesempatan tersebut, Agung juga memaparkan empat keterampilan yang perlu dibangun generasi muda, khususnya mereka yang berada pada rentang usia produktif 18-39 tahun. Keterampilan tersebut meliputi clarity skill, hard skill, ask for help skill, serta tanggung jawab dalam mengevaluasi diri.

Clarity skill berkaitan dengan kemampuan menentukan arah dan tujuan secara jelas sehingga seseorang dapat memilih keterampilan yang relevan untuk dikembangkan. Sementara itu, hard skill, terutama matematika dan logika, dibutuhkan untuk membangun pola pikir sistematis, menganalisis persoalan, serta mengevaluasi solusi yang dihasilkan teknologi.

Adapun ask for help skill menekankan pentingnya keberanian untuk bertanya, mencari masukan, dan membangun kolaborasi. Di tengah perkembangan teknologi yang cepat, kemampuan belajar dari orang lain menjadi salah satu faktor penting agar generasi muda dapat terus meningkatkan kompetensinya.

Keterampilan keempat adalah tanggung jawab untuk mengevaluasi diri. Agung menyampaikan pesan “Blame Yourself in Any Condition” sebagai dorongan agar generasi muda tidak terus-menerus menyalahkan keadaan, tetapi berani mengidentifikasi kekurangan dan memperbaiki keputusan maupun tindakan.

Menurut Agung, kesiapan menghadapi era AI tidak cukup hanya dengan kemampuan digital. Kejelasan tujuan, kemampuan berpikir logis, kemauan berkolaborasi, dan tanggung jawab pribadi juga menjadi faktor penting untuk memaksimalkan pemanfaatan teknologi.

Melalui seminar tersebut, Agung mendorong mahasiswa dan pelajar untuk mulai mempersiapkan diri menghadapi perubahan dunia kerja sejak dini. Penguasaan AI perlu berjalan beriringan dengan pemahaman terhadap kebutuhan pasar agar teknologi tidak hanya menjadi alat bantu, tetapi juga membuka peluang penciptaan produk, inovasi, dan lapangan usaha baru.

Di tengah semakin luasnya pemanfaatan AI, tantangan generasi muda bukan sekadar bersaing dengan mesin, melainkan kemampuan mengidentifikasi persoalan, merancang solusi yang relevan, dan memastikan gagasan yang dikembangkan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.