INDUSTRY.co.id - CIKARANG - President University menjadi tuan rumah Opening Ceremony Konvensi Nasional XVII Asosiasi Ilmu Hubungan Internasional Indonesia (VENNAS XVII AIHII) 2026.
Forum yang mempertemukan sekitar 200 peserta dari 70 perguruan tinggi di seluruh Indonesia itu mengusung tema " Beyond Fragmentation: The Constellation of Power, Innovation, and the Future of Global Governance."
Konvensi ini menjadi ruang dialog bagi akademisi, praktisi, peneliti, mahasiswa, dan pemangku kepentingan untuk membahas dinamika geopolitik serta masa depan diplomasi dan tata kelola global.
AHY Soroti Paradoks Global
Kehadiran Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menjadi sorotan dalam pembukaan konvensi.
Dalam pidatonya, AHY menyoroti paradoks dunia modern. Di satu sisi, dunia semakin terhubung secara ekonomi dan teknologi. Di sisi lain, fragmentasi politik, rivalitas geopolitik, dan konflik antarnegara justru menguat. Kemajuan kecerdasan buatan (AI), robotika, dan teknologi digital, menurutnya, belum mampu mengatasi kesenjangan antarnegara.
“Perubahan lanskap global menuntut Indonesia memperkuat kapasitas nasional sekaligus mengembangkan diplomasi yang adaptif,” ujar AHY.
Ia menegaskan, kebijakan luar negeri tidak bisa dilepaskan dari kekuatan ekonomi, pertahanan, pembangunan infrastruktur, dan konektivitas. Diplomasi bukan hanya ranah diplomat, melainkan membutuhkan dukungan ekonom, ahli pertahanan, akademisi, dan pemangku kepentingan pembangunan.
Di tengah kecenderungan negara mengutamakan kepentingan nasional, AHY mengingatkan agar Indonesia tetap berpegang pada prinsip politik luar negeri bebas-aktif. Prinsip warisan pendiri bangsa itu dinilai tetap relevan agar Indonesia tidak terjebak dalam rivalitas kekuatan besar.
Indonesia, kata dia, juga perlu membangun kemandirian di sektor strategis seperti pangan dan energi, mendiversifikasi mitra investasi dan perdagangan, serta memperkuat suara negara-negara Global South agar tata kelola global lebih adil dan inklusif.
AHY turut menyinggung melemahnya kepercayaan terhadap institusi multilateral, termasuk kebuntuan di Dewan Keamanan PBB, yang menuntut pembaruan tata kelola agar lebih representatif. Ia juga mencatat kecenderungan minilateralism sebagai pendekatan praktis, yang harus berjalan seiring penguatan multilateralisme.
Perubahan karakter konflik modern akibat drone, perang siber, dan AI juga menjadi perhatian. Menurut AHY, kondisi ini menuntut Indonesia meningkatkan kesiapan pertahanan dan memastikan wilayahnya tidak menjadi arena persaingan kekuatan global.
Jembatan Akademisi dan Pemerintah
Rektor President University, Handa Satyanugraha Abidin, menyampaikan apresiasi atas kepercayaan AIHII kepada President University sebagai tuan rumah. Kehadiran peserta dari Sumatera hingga Papua, menurutnya, mencerminkan luasnya perkembangan ilmu hubungan internasional di Indonesia.
“VENNAS bukan sekadar pertemuan tahunan, melainkan forum intelektual untuk memperluas perspektif, mempertemukan beragam pemikiran, dan menghasilkan gagasan yang relevan bagi kepentingan nasional,” kata Handa.
Ia berharap keterlibatan akademisi dalam perumusan kebijakan luar negeri terus diperkuat. Pemerintah membutuhkan perspektif akademis yang mendalam, sementara kampus memerlukan ruang dialog dengan pengambil kebijakan. Sinergi itu diharapkan melahirkan kebijakan yang lebih terukur dan berjangka panjang.
Dukungan serupa disampaikan Direktur Pasifik dan Oseania Kementerian Luar Negeri RI, Adi Dzulfuat. Ia menegaskan diplomasi Indonesia membutuhkan landasan riset yang kuat agar kebijakan luar negeri presisi, adaptif, dan visioner.
“Kementerian Luar Negeri tidak dapat bekerja sendiri. Perspektif akademisi diperlukan untuk memperkaya analisis kebijakan,” ujarnya.
Adi menyatakan kesiapan Kemlu membangun dialog langsung dengan perguruan tinggi untuk membahas isu-isu strategis, mulai dari kawasan Pasifik hingga kebencanaan dan pariwisata.
AIHII Naungi 77 Prodi
Ketua Umum AIHII, Agus Haryanto, mengatakan VENNAS XVII menjadi momentum penguatan organisasi dan ekosistem pendidikan hubungan internasional.
Saat ini AIHII menaungi 77 program studi dengan estimasi 37.000 hingga 40.000 mahasiswa aktif pada periode 2021-2024. Tercatat 729 dosen telah terdaftar sebagai anggota dengan kartu ber-barcode untuk pemetaan bidang keahlian, mulai dari pertahanan dan politik hingga perdagangan internasional.
AIHII juga mendorong penguatan tata kelola prodi, termasuk penyamaan gelar sarjana hubungan internasional dan pengembangan sistem akreditasi melalui Lembaga Akreditasi Mandiri bidang sosial, politik, administrasi, dan komunikasi.
Tahun ini, VENNAS menghadirkan 12 sesi yang membahas pengembangan ekosistem akademik, isu keamanan, publikasi ilmiah, hingga agenda organisasi termasuk pemilihan Ketua Umum AIHII periode 2026-2029.
Perwakilan College of Sinology and Chinese Studies / Belt and Road Research Institute, Beijing Language and Culture University (BLCU), Prof. Xu Baofeng, mengapresiasi penyelenggaraan forum ini. Menurutnya, partisipasi lintas wilayah menjadi modal penting untuk memperluas pertukaran pengetahuan dan jejaring akademik.
Bagi President University, penyelenggaraan VENNAS XVII menegaskan peran perguruan tinggi sebagai ruang dialog yang mempertemukan pengetahuan akademik, pengalaman praktis, dan kebutuhan kebijakan publik.
Tema Beyond Fragmentation menjadi pengingat bahwa tantangan global tidak dapat diselesaikan oleh satu negara, satu institusi, atau satu disiplin ilmu. Diperlukan kolaborasi lintas sektor dan kemitraan internasional yang lebih luas untuk menghadapi perubahan tatanan dunia.