INDUSTRY.co.id - JAKARTA, Indonesia punya peluang besar menjadi pusat industri amonia di Asia Tenggara.

PT Pupuk Indonesia (Persero) menyiapkan rencana pengembangan Ammonia Hub di Batam untuk mengoptimalkan potensi gas alam domestik, memperkuat infrastruktur distribusi, serta membuka peluang pemanfaatan amonia sebagai bahan bakar kapal rendah karbon dan bahan baku industri.

Langkah ini didukung kapasitas produksi amonia Pupuk Indonesia Grup yang mencapai 7,1 juta ton per tahun. Proyek tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong hilirisasi industri dan menciptakan nilai tambah sekaligus melayani pasar domestik dan internasional.

Apa Itu Ammonia Hub?

Ammonia Hub merupakan pusat kegiatan produksi, penyimpanan, distribusi, hingga perdagangan amonia.

Melalui rencana pengembangan di Batam, Pupuk Indonesia ingin mengoptimalkan potensi gas alam dari Natuna dan Grissik untuk menghasilkan produk bernilai tambah bagi pasar domestik maupun internasional.

Lokasi Batam dipilih dengan mempertimbangkan ketersediaan gas bumi, kesiapan infrastruktur, serta kedekatannya dengan jalur perdagangan internasional.

"Ini adalah bentuk dari kontribusi kita untuk Indonesia," ujar manajemen Pupuk Indonesia.

Ammonia Hub di Batam diarahkan untuk membangun industri hilir, membuka nilai tambah bagi ekonomi nasional, dan melayani pasar domestik maupun internasional.

Amonia Sebagai Bahan Bakar Kapal Rendah Karbon

Selain sebagai bahan baku industri pupuk dan kimia, Pupuk Indonesia tengah menjajaki pemanfaatan amonia sebagai bahan bakar alternatif yang lebih ramah lingkungan untuk kapal.

Peluang ini sejalan dengan tren dekarbonisasi sektor maritim global yang mencari bahan bakar rendah karbon untuk menekan emisi.

Pengembangan amonia sebagai bunker fuel diharapkan dapat menjadi sumber pertumbuhan baru bagi industri amonia nasional di tengah transisi energi.

Dari Resource Menjadi Value

Dengan kapasitas 7,1 juta ton per tahun, Pupuk Indonesia merupakan salah satu produsen amonia terbesar di Asia Tenggara.

Melalui Ammonia Hub, perusahaan ingin mengubah paradigma dari sekadar menjual resource gas alam menjadi produk bernilai tambah (value) berupa amonia dan turunannya.

Model bisnis hub ini tidak hanya berorientasi pada produksi, tetapi juga mencakup penyimpanan berskala besar, sistem distribusi yang terintegrasi, hingga perdagangan (trading hub) untuk melayani pembeli dari dalam dan luar negeri.

Proyek ini diharapkan dapat memperkuat ketahanan energi nasional, mendukung program hilirisasi pemerintah, dan memposisikan Indonesia sebagai pemain kunci rantai pasok amonia bersih di kawasan.