INDUSTRY.co.id - JAKARTA, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong penguatan peran Industri Kecil dan Menengah (IKM) pangan agar semakin terintegrasi dalam rantai pasok industri nasional.
Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan Indonesia Food Innovation (IFI) 2026 yang berkolaborasi dengan pameran Krista InterFood 2026 di Nusantara International Convention Exhibition (NICE) PIK 2, Tangerang, Selasa (4/11/2026).
Selain menghadirkan pameran produk unggulan IKM pangan, kegiatan ini juga dilengkapi dengan talkshow bertema "Kemitraan IKM dan Industri Besar: Memperkuat Rantai Pasok Pangan".
Talkshow menjadi wadah diskusi dan berbagi perspektif antara pelaku IKM, asosiasi industri, penyelenggara pameran, serta pemerintah mengenai peluang dan tantangan dalam membangun kemitraan yang berkelanjutan.
Kesiapan IKM Jadi Kunci Kemitraan
Dalam diskusi tersebut, salah satu peserta IFI 2023 kategori Intermediate Product, Eko Pratama dari PT Rasaprima Sukses Makmur, berbagi pengalaman mengenai proses pendampingan yang telah dijalani, manfaat yang diperoleh, serta tantangan dalam meningkatkan kapasitas dan kesiapan usaha untuk menjalin kemitraan dengan industri yang lebih besar.
Program IFI dinilai menjadi sarana untuk mendorong IKM meningkatkan kualitas produk, kapasitas produksi, manajemen usaha, serta daya saing agar mampu memenuhi kebutuhan pasar.
Dari perspektif industri, Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) menyampaikan pentingnya kesiapan IKM sebagai calon mitra industri besar.
Kesiapan tersebut tidak hanya dilihat dari kualitas dan konsistensi produk, tetapi juga mencakup kapasitas produksi, pemenuhan standar keamanan pangan, kontinuitas pasokan, serta profesionalisme dalam menjalankan usaha.
Sementara itu, perwakilan Krista sebagai penyelenggara pameran menyoroti pentingnya keikutsertaan IKM dalam berbagai ajang pameran, termasuk pameran berskala internasional.
Pameran tidak hanya menjadi sarana promosi produk, tetapi juga membuka peluang perluasan jejaring bisnis, penjajakan kerja sama, serta akses terhadap calon pembeli dan mitra usaha potensial, baik dari dalam maupun luar negeri.
Dukungan Pemerintah: Subsidi Mesin hingga Pasar Haji
Kementerian Perindustrian, diwakili oleh Indra Akbar Dilana dari Direktorat IKM Pangan, Furnitur dan Bahan Bangunan, menegaskan bahwa pemerintah terus memberikan dukungan terhadap pengembangan IKM pangan melalui berbagai program pembinaan.
Dukungan tersebut meliputi program Indonesia Food Innovation (IFI), peningkatan kapasitas, fasilitasi standardisasi dan sertifikasi, promosi, restrukturisasi mesin dan peralatan, hingga perluasan akses pasar dan kemitraan.
"Kami memiliki program yang disebut program bantuan pembelian mesin dan peralatan. Dalam program ini, apabila pelaku IKM membeli mesin produksi dalam negeri, pemerintah akan memberikan penggantian sebesar 40 persen. Sementara itu, untuk mesin yang diimpor, penggantian yang diberikan sekitar 20 persen," kata Indra.
Ia menjelaskan, ada empat aspek yang terus didorong, yaitu ketersediaan bahan baku, standardisasi, mesin dan teknologi produksi, serta akses pasar.
"Jadi, ada empat aspek yang terus kita dorong, yaitu ketersediaan bahan baku, standardisasi, serta mesin dan teknologi produksi, dan tentu saja, akses sosial dan akses untuk bertemu dengan pasar. Nah, ini yang juga penting. Bagaimana caranya agar para pelaku IKM bisa bertemu dengan pasar yang tepat melalui business matching," tegas Indra.
Terkadang, kata Indra, produk yang dimiliki memang bagus, tetapi pada saat itu pasarnya belum membutuhkan produk tersebut. Karena itu, melalui business matching, IFI berupaya mencari IKM yang produknya dibutuhkan oleh industri besar, sektor Horeka, maupun berbagai entitas lain yang membutuhkan produk IKM.
Selain itu, Kemenperin juga bekerja sama dengan Kementerian Koordinator Bidang Pangan serta Kementerian Haji dan Umrah untuk mencari produk-produk IKM yang berpotensi memasok kebutuhan konsumsi jemaah haji Indonesia.
"Permintaannya tentu sangat besar. Misalnya, Pak Eko mampu memproduksi nasi rendang siap santap. Produk seperti itu nantinya berpotensi menjadi salah satu pilihan makanan bagi jemaah haji Indonesia, sehingga mereka bisa langsung mengonsumsinya ketika menjalankan ibadah haji," ujar Indra.
Kemitraan yang terjalin diharapkan tidak hanya memberikan manfaat bagi peningkatan skala usaha IKM, tetapi juga memperkuat struktur industri pangan nasional melalui rantai pasok yang lebih inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan.