INDUSTRY.co.id, Jakarta-Penguatan aktivitas industri manufaktur Indonesia belum sepenuhnya diikuti keberanian dunia usaha untuk memperbesar investasi. Di tengah peningkatan permintaan dan produksi, sebagian besar pengusaha masih menahan rencana ekspansi karena berbagai tantangan biaya dan ketidakpastian usaha.
Indeks Manajer Pembelian (Purchasing Managers' Index/PMI) manufaktur Indonesia meningkat menjadi 54,0 pada Oktober 2026, dari 52,4 pada September. Posisi tersebut merupakan tingkat ekspansi tertinggi sejak Maret 2024.
Kenaikan PMI menunjukkan aktivitas manufaktur terus membaik. Peningkatan terutama ditopang pertumbuhan pesanan baru, termasuk permintaan ekspor, yang mendorong perusahaan meningkatkan produksi dan pembelian bahan baku.
Namun, penguatan indikator tersebut belum sepenuhnya mencerminkan membaiknya kepercayaan pengusaha terhadap prospek investasi.
Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mencatat sekitar 67 persen pelaku usaha masih menahan rencana investasi baru dalam 12 bulan ke depan. Kondisi ini menunjukkan dunia usaha masih berhati-hati meskipun aktivitas produksi mulai meningkat.
Tantangan biaya produksi, ketergantungan terhadap bahan baku impor, serta ketidakpastian perekonomian global menjadi sejumlah faktor yang perlu dicermati.
Di sisi lain, perkembangan industri juga menghadapi persoalan penyerapan tenaga kerja. Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) memperkirakan jumlah pekerja yang terdampak pemutusan hubungan kerja (PHK) dapat mencapai 90.000 orang hingga akhir 2026.
Industri padat karya, terutama tekstil, garmen, dan alas kaki, disebut masih menghadapi tekanan. Perkembangan ini memperlihatkan bahwa peningkatan aktivitas manufaktur belum tentu langsung diikuti perbaikan kondisi ketenagakerjaan.
Pertumbuhan ekonomi diuji
Persoalan tersebut menjadi perhatian menjelang pengumuman pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III-2026 oleh Badan Pusat Statistik (BPS).
Konsensus 15 lembaga memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh 5,20 persen secara tahunan pada periode tersebut. Angka ini akan menjadi salah satu indikator penting untuk mengukur daya tahan perekonomian nasional.
Sebelumnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,61 persen pada kuartal I-2026, kemudian melambat menjadi 5,29 persen pada kuartal II-2026.
Di tengah tantangan konsumsi domestik, investasi menjadi salah satu penopang yang diharapkan mampu menjaga momentum pertumbuhan.
Realisasi investasi kuartal III-2026 tercatat mencapai Rp 528,7 triliun, meningkat 7,6 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Investasi tersebut juga menyerap 745.634 tenaga kerja berdasarkan data Kementerian Investasi dan Hilirisasi.
Dengan demikian, tantangan pemerintah bukan hanya menjaga agar industri tetap tumbuh, melainkan memastikan peningkatan aktivitas produksi diikuti perluasan investasi dan penciptaan lapangan kerja.
Penguatan manufaktur perlu diterjemahkan menjadi peningkatan kapasitas industri nasional, bertambahnya kesempatan kerja, serta meningkatnya daya saing produk dalam negeri.
Tanpa perbaikan iklim usaha dan kepastian investasi, ekspansi industri berisiko hanya tercermin dalam indikator produksi, belum sepenuhnya memberikan dampak terhadap kesejahteraan pekerja dan masyarakat.