INDUSTRY.co.id, JAKARTA—Perekonomian Indonesia tumbuh 5,47 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada triwulan III-2026. Capaian tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan triwulan II-2026 sebesar 5,29 persen dan melampaui perkiraan sejumlah ekonom. Namun, tantangan menjaga daya beli masyarakat dan memastikan pertumbuhan ekonomi berdampak pada penciptaan lapangan kerja masih membayangi perekonomian nasional.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pertumbuhan ekonomi pada Juli-September 2026 terutama ditopang konsumsi rumah tangga, investasi, dan belanja pemerintah. Konsumsi rumah tangga tumbuh 5,04 persen, sedangkan pembentukan modal tetap bruto (PMTB) atau investasi meningkat 6,06 persen.

Sementara itu, konsumsi pemerintah tumbuh 8,95 persen. Dari sisi lapangan usaha, industri pengolahan, pertanian, perdagangan, konstruksi, dan pertambangan menjadi sejumlah sektor yang berkontribusi terhadap perekonomian nasional.

Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Moh. Edy Mahmud menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan III-2026 mencapai 5,47 persen secara tahunan.

Capaian tersebut berada di atas perkiraan pasar. Sebelumnya, median proyeksi ekonom dalam sejumlah survei berada di kisaran 5,2 persen.

Meski demikian, pertumbuhan ekonomi yang relatif kuat belum serta-merta menghilangkan persoalan mendasar dalam perekonomian domestik. Konsumsi rumah tangga yang masih menjadi kontributor terbesar produk domestik bruto (PDB) perlu dijaga agar pertumbuhan dapat berlangsung secara berkelanjutan.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede, sebagaimana dikutip CNBC Indonesia, menilai bahwa tantangan perekonomian tidak semata-mata terletak pada kemampuan mencatatkan pertumbuhan di atas 5 persen. Hal yang juga penting adalah peningkatan pendapatan riil masyarakat, penciptaan lapangan kerja formal, dan pemulihan sektor-sektor padat karya.

Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa kualitas pertumbuhan menjadi perhatian penting di tengah capaian pertumbuhan ekonomi nasional.

Sebelumnya, Kepala Ekonom Maybank Indonesia Juniman juga menyoroti tekanan biaya hidup yang berpotensi membatasi konsumsi rumah tangga. Sementara itu, Kepala Ekonom BCA David E. Sumual melihat ekspor dan aktivitas manufaktur sebagai salah satu penopang ekonomi pada triwulan III-2026.

Pemerintah sendiri mempertahankan target pertumbuhan ekonomi 2026 sebesar 5,4 persen. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa momentum pertumbuhan diharapkan berlanjut pada triwulan IV-2026 dengan menjaga konsumsi domestik dan investasi.

Tantangannya, pertumbuhan ekonomi pada penghujung tahun tidak hanya perlu ditopang belanja pemerintah dan stimulus, tetapi juga penguatan aktivitas ekonomi masyarakat serta peningkatan produktivitas sektor usaha.

Dengan demikian, capaian pertumbuhan 5,47 persen menjadi modal positif bagi perekonomian nasional. Namun, keberlanjutan pertumbuhan akan sangat ditentukan oleh kemampuan ekonomi menciptakan pekerjaan, meningkatkan pendapatan, dan memperluas manfaat pembangunan bagi masyarakat.