INDUSTRY.co.id - JAKARTA - Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) merupakan salah satu sektor strategis yang memiliki peran penting dalam perekonomian nasional, termasuk dalam mendukung pertumbuhan ekonomi, penyerapan tenaga kerja, dan kinerja ekspor.
"Tekstil Produk Tekstil ini, khususnya di tekstil itu terdiri dari hulu, antara, dan hilir. Sumbangan terhadap PDB itu sekitar mendekati 1 persen, 0,97 persen. Kemudian tenaga kerjanya di sektor Tekstil Produk Tekstil itu sekitar 4 juta orang. Dan ekspornya itu sekitar 12 miliar dolar. Kemudian ini menjadi salah satu sektor padat yang strategis," ujar Menko Airlangga dalam keterangan pers usai ratas yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto, Selasa (22/09).
Menko Airlangga menjelaskan industri TPT masih menunjukkan kinerja positif. Tingkat utilisasi pabrik tekstil masih di sekitar 75 persen, sehingga terdapat ruang untuk ekspansi.
Pada sisi perdagangan, sektor tekstil khususnya bahan baku, Indonesia masih net importer dengan impor sekitar USD8,4 miliar dan ekspor sekitar USD3,1 miliar. Sebaliknya, sektor pakaian jadi mencatatkan ekspor sekitar USD8,7 miliar, lebih tinggi dari impornya sekitar USD690 juta.
Pemerintah juga mendorong kemudahan masuknya bahan baku dan penataan kebijakan.
"Yang pertama tentu terkait dengan kemudahan bahan baku untuk masuk. Nah, Bapak Presiden tadi meminta kita untuk mereview terkait dengan Pertek dan yang lain. Kemudian yang kedua, khusus untuk di hilir, yaitu terkait dengan garmen. Di mana gangguan-gangguan melalui impor kiloan, ataupun impor yang Ball Press. Itu tadi juga diminta Pak Dirjen Bea Cukai untuk segera ditertibkan karena hal ini sangat mengganggu produsen-produsen garmen di dalam negeri," ungkap Menko Airlangga.
Presiden Prabowo menegaskan industri tekstil bukan merupakan sunset industry.
"Tadi juga disampaikan Bapak Presiden bahwa industri tekstil bukan industri yang dikategorikan sunset. Sehingga ini bisa mendorong untuk reinvestasi maupun penambahan daripada modal kerja," pungkas Menko Airlangga.