- NDRC menyatakan China akan mempercepat undang-undang AI yang menyeluruh dalam konferensi pers 3 November 2026.
- Aturannya mencakup data, daya komputasi, dan algoritma, ditambah standar keamanan untuk seluruh siklus hidup AI.
- Industri akan diminta mengungkap risiko, insiden, dan celah keamanan, dengan masa transisi dan regulatory sandbox per sektor.
- Pengguna AI generatif di China sudah lebih dari 700 juta orang per akhir Juni 2026, menurut CNNIC.
- Status saat ini masih komitmen: belum ada draf, tenggat, atau sanksi yang diumumkan.
China bersiap menyusun undang-undang AI yang menyeluruh, bukan lagi aturan terpisah per jenis teknologi. Rencana ini muncul saat pengguna AI generatif di negara itu sudah melewati 700 juta orang.
Pernyataan tersebut disampaikan Wang Ruomeng, wakil direktur Departemen Inovasi dan Teknologi Tinggi di Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional (NDRC), dalam konferensi pers pada 3 November 2026, seperti dilaporkan Caixin.
China selama ini mengandalkan aturan sempit untuk kasus tertentu. Kini Beijing ingin membangun fondasi hukum yang lebih luas, meski naskahnya belum tersedia.
Apa Saja yang Akan Diatur?
Wang menyebut China akan mempercepat legislasi untuk mendukung data, daya komputasi, dan algoritma, sekaligus mengatur skenario penerapan utama. Standar keamanan dan pedoman etika juga akan berlaku di seluruh siklus hidup AI, menurut kutipan yang dimuat The Edge.
DailyAI, yang merujuk konferensi pers NDRC dan laporan Beijing Daily, merangkum rencana tersebut ke dalam empat bidang kerja untuk periode lima tahunan 2026-2030.
| Bidang kerja | Isi rencana |
|---|---|
| Kepatuhan | Masa transisi, panduan per sektor, dan regulatory sandbox |
| Keamanan | Mengungkap risiko serta melaporkan insiden dan celah keamanan |
| Ketenagakerjaan | Memantau dampak pada pekerjaan, peringatan dini, dan jaring pengaman sosial |
| Perlindungan pengguna | Mencegah diskriminasi algoritma, deepfake, kebocoran privasi, dan ketergantungan pada chatbot |
Disusun dari laporan The Edge dan DailyAI atas konferensi pers NDRC 3 November 2026.
Perlindungan tambahan disebut akan diberikan kepada lansia dan anak-anak. Sementara itu, China juga berencana menambahkan pelatih model dan pelabel data ke daftar pekerjaan resmi negara tersebut.
Mengapa China Bergerak Sekarang?
Skala pemakaian menjadi salah satu latar belakangnya. China Internet Network Information Center (CNNIC) mencatat pengguna AI generatif di China melewati 700 juta orang pada akhir Juni 2026, atau lebih dari separuh populasi.
Selama ini Beijing memakai aturan yang lebih sempit untuk kegunaan tertentu, seperti chatbot dan deepfake. Rencana undang-undang AI sendiri bukan gagasan baru, karena draf undang-undang AI pernah masuk rencana legislasi Dewan Negara pada Juni 2023.
Wang mengatakan China akan memakai pengalaman mengatur AI selama ini untuk membangun legislasi dasar yang menyeluruh. Isu ini juga punya sisi global. The Edge mencatat China dan Amerika Serikat sepakat pada September untuk mengembangkan pemahaman bersama tentang AI, dan AI menjadi salah satu topik pertemuan Trump dan Xi di Washington.
Masih Komitmen, Belum Jadi Aturan
Pembaca perlu membedakan rencana ini dengan undang-undang yang sudah berlaku. DailyAI menegaskan belum ada naskah draf, tenggat, maupun rezim sanksi. Panjang masa transisinya pun belum dijelaskan.
Hal yang sudah terlihat baru arahnya. Beijing ingin mengurangi beban kepatuhan lewat masa transisi dan sandbox, sambil tetap mendorong pengembangan AI terbuka selama Rencana Lima Tahun ke-15 yang berakhir pada 2030.
Kombinasi ini menunjukkan China tidak sekadar mengetatkan aturan. Regulasi disusun berdampingan dengan dukungan untuk data, komputasi, dan algoritma, yaitu tiga bahan utama industri AI.
Apa Artinya bagi Pengguna di Indonesia?
Belum ada dampak langsung, karena aturannya belum ada dan cakupan untuk layanan di luar China belum dijelaskan. Namun banyak model China, seperti DeepSeek, Qwen, dan Kimi, juga dipakai di luar negeri, sehingga perkembangan ini layak dipantau.
Hal yang patut dicermati adalah kewajiban mengungkap risiko dan insiden. Kalau naskahnya nanti rinci, publik bisa mendapat gambaran lebih jelas tentang keamanan model yang mereka pakai. Bagi pelaku usaha yang membangun produk di atas model China, naskah final akan menjadi dokumen penting untuk dibaca.
FAQ
1. Apakah China sudah punya undang-undang AI?
Belum ada undang-undang AI nasional yang menyeluruh. China selama ini memakai aturan yang lebih sempit untuk kegunaan tertentu, seperti chatbot dan deepfake.
2. Siapa yang mengumumkan rencana ini?
Wang Ruomeng, wakil direktur Departemen Inovasi dan Teknologi Tinggi NDRC, dalam konferensi pers 3 November 2026.
3. Kapan undang-undang AI China berlaku?
Belum diketahui. Sampai laporan terakhir, belum ada draf, tenggat, atau aturan sanksi yang diumumkan.
4. Berapa jumlah pengguna AI generatif di China?
Lebih dari 700 juta orang per akhir Juni 2026 menurut CNNIC, atau lebih dari separuh populasi.
5. Apakah rencana ini mengatur soal pekerjaan?
Ya. Rencananya mencakup pemantauan dampak AI pada pekerjaan, peringatan dini soal kehilangan kerja, dan jaring pengaman sosial.
Kesimpulan
China sudah menyatakan arah, tetapi belum menunjukkan naskahnya. Janji kali ini penting karena datang dari lembaga perencana ekonomi utama dan menyentuh keamanan, pekerjaan, serta perlindungan pengguna sekaligus.
Ukuran berikutnya adalah terbitnya draf. Dari sana publik bisa menilai seberapa ketat kewajiban pelaporan dan seberapa panjang masa transisi bagi perusahaan AI.
- NDRC berjanji mempercepat undang-undang AI menyeluruh pada 3 November 2026.
- Cakupannya data, komputasi, algoritma, dan aplikasi utama.
- Industri akan diminta mengungkap risiko, insiden, dan celah keamanan.
- Pengguna AI generatif di China melewati 700 juta orang.
- Belum ada draf, tenggat, atau sanksi.