Highlights
  • Riset Microsoft menilai ratusan jenis pekerjaan dari 200 ribu percakapan Copilot sepanjang Januari-September 2024.
  • Skor terendah jatuh pada pekerjaan fisik seperti operator kapal keruk, tukang atap, dan petugas kebersihan.
  • Anthropic mencatat 30% pekerja di AS belum tersentuh penggunaan Claude, termasuk juru masak dan bartender.
  • Kedua riset tidak menjamin pekerjaan itu kebal AI, dan tim Microsoft mengingatkan skor bukan ramalan PHK.
  • Riset ini mengukur AI generatif, bukan robot, dan datanya berasal dari Amerika Serikat.

Banyak daftar beredar soal pekerjaan yang konon tidak akan tergantikan kecerdasan buatan (AI), tetapi sebagian besar hanya berdasar opini. Dua riset dari Microsoft dan Anthropic memberi gambaran yang lebih terukur, karena keduanya memakai data penggunaan AI yang sebenarnya.

Hasilnya sejalan: pekerjaan yang menuntut kerja tangan, kehadiran fisik, dan tatap muka paling sedikit tersentuh AI. Namun kedua tim peneliti tidak pernah menyatakan ada pekerjaan yang pasti aman selamanya, dan batasan itu perlu dibaca sebelum memakai daftarnya sebagai panduan karier.

Jawaban cepat: Menurut riset Microsoft dan Anthropic, pekerjaan yang paling sedikit tersentuh AI adalah pekerjaan fisik dan tatap muka, seperti operator alat berat, tukang atap, petugas kebersihan, pengambil darah, juru masak, dan bartender. Tidak ada riset yang memastikan suatu pekerjaan tidak akan pernah tergantikan AI.

Daftar Pekerjaan dengan Skor AI Terendah Versi Microsoft

Makalah berjudul Working with AI itu ditulis Kiran Tomlinson, Sonia Jaffe, Will Wang, Scott Counts, dan Siddharth Suri dari Microsoft. Versi pertamanya terbit Juli 2025, dan revisi terakhirnya bertanggal 23 Oktober 2026.

Tim ini menganalisis 200 ribu percakapan anonim pengguna Copilot di Amerika Serikat sepanjang Januari hingga September 2024. Setiap percakapan dicocokkan dengan aktivitas kerja di basis data pekerjaan O*NET milik pemerintah AS, lalu dirangkum menjadi skor penerapan AI untuk tiap pekerjaan.

Skor itu menangkap apakah AI cukup sering dipakai dan berhasil menyelesaikan aktivitas yang relevan dengan suatu pekerjaan. Semakin rendah skornya, semakin sedikit tugas pekerjaan itu yang muncul dalam penggunaan AI. Berikut sebagian pekerjaan dari daftar 40 skor terendah.

PekerjaanSkor AIJumlah pekerja di AS
Operator kapal keruk0,000940
Penjaga jembatan dan pintu air0,0003.460
Operator pemancang tiang0,0003.010
Tukang amplas dan finishing lantai0,0005.070
Operator instalasi air dan air limbah0,000120.710
Petugas pembantu perawatan rumah sakit (orderly)0,00048.710
Petugas kebersihan dan housekeeping0,008836.230
Tukang atap0,009135.140
Penyelia pemadam kebakaran0,00984.120
Terapis pijat0,01292.650
Asisten bedah0,01218.780
Operator forklift dan traktor industri0,013778.920
Tukang semen dan beton0,015203.560
Pencuci piring0,018463.940
Petugas pengambil darah (flebotomis)0,022137.080
Dokter bedah mulut0,0264.160

Sumber: Tomlinson dkk., Working with AI, tabel 40 pekerjaan dengan skor terendah. Nama pekerjaan diterjemahkan redaksi. Sebagai pembanding, skor tertinggi dipegang penerjemah dan juru bahasa, yaitu 0,492.

Tiga Pola Pekerjaan yang Sulit Disentuh AI

Pola pertama adalah pekerjaan yang inti tugasnya menggerakkan benda di dunia nyata. Tukang atap, tukang beton, dan operator alat berat masuk kelompok ini, begitu pula pekerja konstruksi jalan dan pekerja ladang minyak.

Pola kedua adalah pekerjaan yang menyentuh tubuh manusia secara langsung. Pengambil darah, terapis pijat, asisten bedah, dan dokter bedah mulut bekerja dengan tangan dan berhadapan langsung dengan pasien atau klien.

Pola ketiga adalah pekerjaan yang menuntut orang berada di lokasi untuk menjaga sistem tetap berjalan. Operator instalasi air, penjaga jembatan, dan insinyur kapal termasuk di sini. Chatbot bisa membantu mencari informasi, tetapi tidak bisa hadir di lokasi untuk menjalankan tugas itu.

Temuan Anthropic: 30 Persen Pekerja Belum Tersentuh

Anthropic sampai pada kesimpulan serupa lewat jalur berbeda. Makalah ekonom Maxim Massenkoff dan Peter McCrory yang terbit 5 Maret 2026 memperkenalkan ukuran bernama observed exposure, yakni seberapa banyak tugas yang secara teori bisa dipercepat model bahasa benar-benar dikerjakan secara otomatis di lingkungan profesional.

Hasilnya, 30% pekerja memiliki cakupan nol karena tugas mereka terlalu jarang muncul dalam data penggunaan Claude. Contoh yang disebut adalah juru masak, mekanik sepeda motor, penjaga pantai, bartender, pencuci piring, dan petugas kamar pas.

Di ujung lain, pemrogram komputer memiliki cakupan tertinggi yaitu 75%, dan petugas entri data 67%. Pencuci piring menjadi contoh yang muncul di kedua riset sebagai pekerjaan dengan paparan AI sangat rendah.

Kenapa Skor Rendah Bukan Berarti Kebal AI

Tim Microsoft secara tegas menyebut keliru bila skor tinggi langsung disimpulkan sebagai kehilangan pekerjaan. Mereka menulis bahwa dampak AI pada lapangan kerja dan upah bergantung pada keputusan bisnis yang sulit diprediksi serta munculnya jenis pekerjaan baru. Logika yang sama berlaku sebaliknya, sehingga skor rendah juga bukan jaminan keamanan.

Ada beberapa batasan lain. Data Microsoft berasal dari 2024, dan penulisnya mengakui model AI sudah jauh membaik sejak itu. Skornya juga hanya mencerminkan satu produk, dan perbandingan antarpekerjaan lebih bermakna daripada angka mutlaknya. Data Anthropic juga hanya berasal dari penggunaan Claude.

Kedua riset terutama melihat AI generatif seperti chatbot, bukan robot atau mesin otomatis. Artinya, operator forklift atau operator mesin pengemas yang skornya rendah di sini tetap bisa terdampak otomasi gudang dan pabrik, yang tidak diukur dalam kedua riset ini. Pembaca juga perlu ingat bahwa Microsoft dan Anthropic sama-sama menjual produk AI dan memakai data produk mereka sendiri.

Semua angka tersebut berlaku untuk Amerika Serikat. Kedua riset tidak memuat skor untuk pasar kerja Indonesia, yang komposisi pekerjaan dan tingkat adopsi teknologinya berbeda.

Yang Sudah Terjadi di Pasar Kerja

Sejauh ini Anthropic tidak menemukan kenaikan pengangguran yang sistematis pada pekerja dengan paparan AI tinggi sejak akhir 2022. Sinyal yang muncul baru pada pekerja muda, ketika tingkat diterima kerja usia 22-25 tahun di pekerjaan yang paling terpapar turun sekitar 14% dibanding 2022. Penulisnya menyebut temuan ini masih sugestif, dan angkanya hanya tipis melewati batas signifikansi statistik.

Pekerjaan bergaji tinggi juga tidak otomatis lebih aman. Anthropic mencatat kelompok paling terpapar justru berpenghasilan rata-rata 47% lebih tinggi daripada kelompok yang tidak terpapar, dan lebih banyak yang bergelar pascasarjana. Microsoft menemukan hubungan skor dengan upah hanya lemah, dengan korelasi 0,13.

Proyeksi Forum Ekonomi Dunia (WEF) dalam Future of Jobs Report 2025 mengarah ke hal serupa. Survei terhadap lebih dari 1.000 pemberi kerja itu memperkirakan 170 juta pekerjaan baru dan 92 juta pekerjaan tergeser hingga 2030. Pertumbuhan terbesar secara jumlah ada pada pekerjaan lapangan seperti pekerja pertanian, pengemudi pengantaran, dan pekerja konstruksi.

FAQ

1. Pekerjaan apa yang tidak akan tergantikan AI?

Tidak ada riset yang memastikan hal itu. Riset Microsoft dan Anthropic hanya menunjukkan pekerjaan fisik dan tatap muka, seperti tukang atap, pengambil darah, juru masak, dan bartender, paling sedikit tersentuh AI saat ini.

2. Apa pekerjaan dengan skor AI terendah versi Microsoft?

Delapan pekerjaan mencatat skor 0,000, antara lain operator kapal keruk, operator pemancang tiang, penjaga jembatan dan pintu air, serta operator instalasi air dan air limbah.

3. Apa pekerjaan yang paling terpapar AI?

Di riset Microsoft, skor tertinggi dipegang penerjemah dan juru bahasa (0,492), disusul sejarawan serta penulis. Di riset Anthropic, cakupan tertinggi ada pada pemrogram komputer (75%).

4. Apakah pekerjaan bergaji tinggi lebih aman dari AI?

Tidak otomatis. Menurut Anthropic, kelompok paling terpapar justru berpenghasilan rata-rata 47% lebih tinggi, sedangkan Microsoft hanya menemukan hubungan lemah antara skor AI dan upah.

5. Apakah hasil riset ini berlaku di Indonesia?

Tidak bisa langsung diterapkan. Kedua riset memakai data pekerjaan dan penggunaan AI di Amerika Serikat, sehingga hanya bisa dibaca sebagai gambaran arah, bukan angka untuk Indonesia.

Kesimpulan

Kedua riset menunjukkan hal yang sama: saat ini AI generatif paling banyak menyentuh pekerjaan di depan layar, bukan pekerjaan di lapangan. Namun gambaran itu bisa berubah seiring AI dan robot berkembang, sehingga daftar ini lebih tepat dibaca sebagai potret hari ini daripada jaminan untuk masa depan.