INDUSTRY.co.id - JAKARTA – Lonjakan biaya komputasi dan kebutuhan kepatuhan regulasi mulai menjadi tantangan serius bagi perusahaan dalam memperluas penggunaan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Laporan terbaru Cloudera mengungkapkan, sebanyak 89% perusahaan global telah membatasi atau merancang ulang penggunaan AI akibat meningkatnya konsumsi token.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa ekspansi AI di lingkungan korporasi tidak lagi sekadar ditentukan oleh kemampuan teknologi, tetapi juga perhitungan efisiensi biaya, tata kelola data, dan kepatuhan terhadap regulasi.

Dalam laporan bertajuk The State of Enterprise AI 2026: The New Rules of Scale yang dirilis pada 4 November 2026, Cloudera menyoroti perubahan strategi perusahaan dalam mengoperasikan AI seiring meningkatnya biaya dan kompleksitas penerapan teknologi tersebut.

Laporan yang disusun berdasarkan survei Wakefield Research terhadap 1.500 pemimpin dan pengambil keputusan teknologi informasi (TI) di berbagai negara pada September 2026 itu juga menemukan bahwa 84% responden menyebut persyaratan lokasi penyimpanan data, kedaulatan data, dan yurisdiksi memengaruhi penempatan beban kerja AI.

Chief Technology Officer (CTO) Applied AI Cloudera Brian Martin mengatakan, peningkatan skala penggunaan AI membuat perusahaan harus lebih cermat mengevaluasi kelayakan ekonomi dan operasional teknologi tersebut.

“Skala mengungkapkan realitas baru bagi AI di perusahaan: apa yang berfungsi saat ini mungkin tidak lagi masuk akal secara ekonomi atau operasional di masa mendatang,” ujar Brian Martin.

Menurut dia, perubahan biaya, perkembangan model AI, hingga pergeseran regulasi membuat perusahaan membutuhkan strategi yang lebih fleksibel dalam menentukan lokasi pengoperasian teknologi tersebut.

“Para pemimpin membutuhkan strategi AI yang dirancang untuk menghadapi realitas tersebut, yaitu strategi yang memberi mereka kebebasan untuk beradaptasi tanpa kehilangan kendali atas data, tata kelola, atau pengeluaran mereka,” katanya.

Di Indonesia, momentum investasi AI justru masih menunjukkan tren ekspansif. Sebanyak 88% perusahaan meningkatkan investasi AI secara tahunan. Bahkan, 70% perusahaan mengalokasikan dana sedikitnya US$500.000 per tahun untuk teknologi tersebut.

Namun, peningkatan belanja teknologi belum sepenuhnya diikuti kesiapan operasional. Cloudera mencatat, tantangan terbesar perusahaan di Indonesia berasal dari aspek tata kelola dan kepatuhan atau governance and compliance sebesar 65%.

Hambatan lainnya meliputi kekurangan keterampilan teknis sebesar 55%, tantangan integrasi data 45%, serta mandat kedaulatan data atau data sovereignty sebesar 45%.

Persoalan kedaulatan data juga semakin menentukan strategi infrastruktur perusahaan. Sebanyak 88% organisasi di Indonesia mengaku persyaratan lokasi penyimpanan dan yurisdiksi data memengaruhi penempatan beban kerja AI.

Untuk mengantisipasi tantangan tersebut, sekitar 53% perusahaan di Indonesia telah mengadopsi arsitektur multi-environment. Strategi ini digunakan untuk menjaga kedaulatan data, meningkatkan ketahanan sistem, serta mengoptimalkan biaya infrastruktur dan proses inferensi AI.

Country Manager Cloudera Indonesia Sherlie Karnidta mengatakan, perusahaan di dalam negeri tengah mempercepat investasi AI, tetapi masih menghadapi kendala dalam mengoperasikan teknologi tersebut secara efisien.

“Perusahaan-perusahaan di Indonesia sedang mempercepat investasi AI dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya, namun kompleksitas governance, kesenjangan keterampilan teknis, dan fluktuasi biaya inference tetap menjadi kendala utama dalam operasional mereka,” ujar Sherlie.

Menurut dia, pendekatan hybrid dapat membantu perusahaan menjalankan beban kerja AI sesuai lokasi dan kebutuhan pengelolaan data, baik melalui infrastruktur internal atau on-premises, sovereign cloud, maupun lingkungan multi-cloud.

“Pendekatan ini juga untuk memastikan kepatuhan terhadap mandat data residency Indonesia, sekaligus memberikan agility yang diperlukan untuk mengubah biaya untuk AI menjadi ROI bisnis yang berkelanjutan,” katanya.

Secara global, tantangan implementasi AI juga terlihat dari tingginya tingkat penyesuaian proyek. Sebanyak 98% responden mengaku pernah mengurangi atau menghentikan penerapan AI akibat kegagalan, halusinasi, maupun perilaku sistem yang tidak terduga.

Selain itu, 75% perusahaan menyebut tata kelola dan kepatuhan sebagai penghambat ekspansi AI. Sebanyak 55% responden bahkan melaporkan biaya untuk memenuhi kebutuhan tata kelola dan kepatuhan meningkat lebih cepat dibandingkan perkiraan awal.

Tekanan biaya juga mendorong perubahan strategi infrastruktur. Sekitar 45% perusahaan global telah memindahkan beban kerja AI untuk merespons kenaikan biaya atau volatilitas pengeluaran. Sementara itu, 58% menyebut pemindahan beban kerja membutuhkan perancangan ulang infrastruktur dalam skala menengah hingga besar.

Menariknya, laporan tersebut juga menunjukkan bahwa perusahaan mulai menyadari pentingnya membangun fondasi AI sejak tahap awal. Jika diberi kesempatan mengulang perjalanan implementasi AI, sebanyak 49% responden akan memperkuat tata kelola sejak awal, 46% memprioritaskan kualitas data, dan 45% mempercepat modernisasi infrastruktur.

Sebanyak 45% responden lainnya menyatakan akan meningkatkan investasi pada pelatihan karyawan.

Bagi Cloudera, perubahan tersebut membuka kebutuhan terhadap platform data yang mampu menjalankan AI di berbagai lingkungan tanpa mengorbankan kendali dan tata kelola. Perusahaan menawarkan pendekatan yang memungkinkan organisasi membawa sumber daya komputasi ke lokasi data berada, sehingga perusahaan tidak harus memindahkan seluruh data untuk menjalankan aplikasi AI.

Dengan demikian, perusahaan dapat menentukan lokasi pengoperasian AI berdasarkan pertimbangan biaya, kinerja, keamanan, kedaulatan data, dan kebutuhan bisnis.

Tren ini sekaligus menandai pergeseran fokus investasi AI korporasi. Setelah berlomba mengadopsi teknologi, perusahaan kini menghadapi pekerjaan yang lebih kompleks, yakni memastikan investasi AI mampu menghasilkan keuntungan bisnis tanpa menambah beban biaya dan risiko kepatuhan secara berlebihan.