INDUSTRY.co.id - Jogja - Industri kerajinan Indonesia terus menunjukkan tren positif di pasar global. Berdasarkan data Pusat Data dan Informasi Kementerian Perindustrian, nilai ekspor industri kerajinan pada triwulan II 2026 mencapai USD909,95 juta, meningkat 6,54 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Capaian tersebut menjadi bukti bahwa produk kriya Indonesia semakin mendapatkan tempat dan apresiasi di pasar internasional.
Untuk terus mendorong pertumbuhan tersebut, Kementerian Perindustrian memperkuat pengembangan industri kecil dan menengah atau IKM melalui peningkatan akses pasar, promosi, dan kemitraan. Salah satu upaya strategisnya diwujudkan melalui penyelenggaraan Pameran Kerajinan Jogja Istimewa atau PKJI 2026 yang digelar pada 31 Agustus–3 September 2026 di Plasa Industri, Gedung Kementerian Perindustrian, Jakarta.
Memasuki tahun kedelapan, pameran mandiri yang diinisiasi Dewan Kerajinan Nasional Daerah atau Dekranasda DIY ini mengusung tema “Kerajinan Jogja: Harmoni Tradisi dan Inovasi”. Sebanyak 52 IKM dan perajin dari lima kabupaten/kota di DIY berpartisipasi menampilkan beragam produk unggulan seperti batik, lurik, fesyen, kriya, aksesori, dan kerajinan berbahan alam.
Wakil Ketua Harian I Dewan Kerajinan Nasional atau Dekranas Loemongga Agus Gumiwang mengatakan, PKJI 2026 merupakan bentuk nyata komitmen bersama dalam menjaga sekaligus mengembangkan kekayaan wastra dan produk kriya Indonesia. "Pameran ini juga bertujuan memperluas pengenalan beragam produk wastra dan kriya kepada masyarakat, sekaligus meningkatkan daya saingnya di pasar nasional hingga pada akhirnya mampu menembus pasar global," ujar Loemongga pada pembukaan PKJI 2026, Senin (31/8).
Menurut Loemongga, tren fesyen berkelanjutan atau slow fashion membuka peluang besar bagi wastra Nusantara. Keunikan motif, penggunaan bahan alami, teknik produksi tradisional, serta keterampilan para perajin menjadi nilai tambah yang membedakan produk kriya Indonesia dari produk massal. Ia juga menekankan pentingnya regenerasi perajin agar generasi muda tidak hanya melihat wastra dan kriya sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai industri kreatif yang memiliki prospek ekonomi.
Ketua Harian Dekranasda DIY GKBRAA Paku Alam menambahkan, tema tahun ini mencerminkan semangat menjaga tradisi Yogyakarta sekaligus mendorong inovasi sesuai perkembangan zaman dan kebutuhan pasar. Ia menilai penyelenggaraan PKJI di Jakarta sangat strategis karena menjadi pusat perdagangan dan jejaring nasional, sehingga produk lokal Yogyakarta dapat menunjukkan karakter yang modern, inovatif, berkualitas, dan kompetitif.
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka atau IKMA Kementerian Perindustrian Reni Yanita menegaskan, kekuatan utama IKM kerajinan terletak pada perpaduan nilai budaya dan kreativitas yang dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tambah. "Kerajinan memiliki keunggulan karena tidak hanya menawarkan produk, tetapi juga membawa cerita, identitas, dan nilai budaya dari daerah asalnya. Keunggulan tersebut perlu dipertahankan dan diterjemahkan melalui desain, kualitas, teknologi, serta inovasi," ungkap Reni.
Selain pameran produk, PKJI 2026 juga dirangkai dengan kegiatan business matching dan workshop industri kerajinan. Melalui kegiatan ini, Kementerian Perindustrian berharap produk unggulan IKM Yogyakarta semakin dikenal luas, sekaligus membuka peluang transaksi, kemitraan, dan kolaborasi untuk peningkatan kapasitas serta pengembangan usaha para perajin.