INDUSTRY.co.id - Jakarta - Tahun 2018, sebuah email masuk ke kotak surat Jhanghiz Syahrivar. Isinya singkat: ia diterima sebagai mahasiswa doktor di Corvinus University of Budapest, Hungaria.
Yang tidak tertulis di email itu adalah angka di baliknya. Untuk satu kursi program doktor bidang Manajemen Pemasaran di universitas terbaik Eropa Timur itu, ada 300 pelamar dari seluruh dunia. Dan dari 300 nama itu, hanya satu yang terpilih.
Delapan tahun kemudian, 21 April 2026, nama yang sama dikukuhkan sebagai Guru Besar di President University, Cikarang.
Di usia 38 tahun, Prof. Dr. Jhanghiz Syahrivar, S.E., M.M., Ph.D. menjadi salah satu Guru Besar termuda di lingkungan Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah IV yang menaungi Jawa Barat dan Banten, sekaligus Guru Besar termuda di bidang Ilmu Pemasaran di Indonesia.
Dari Dosen Part Time Hingga Beasiswa Hungaria
Perjalanan Prof. Jhanghiz, sapaan akrabnya, dimulai jauh sebelum Budapest. Tahun 2010, lulusan S1 President University angkatan 2005 ini mulai mengajar sebagai dosen part time.
Dua tahun berselang, setelah menuntaskan S2 di Universitas Tarumanagara, ia mengajar full time. Tepatnya pada 2014, namanya muncul di daftar lolos Sertifikasi Dosen. Hasil itu didapat lebih cepat dari beberapa seniornya di kampus.
Sebagai dosen, melanjutkan ke jenjang S3 adalah keharusan. Kesempatan datang pada 2018. Pemerintah Hungaria membuka beasiswa Stipendium Hungaricum. Prof. Jhanghiz mendaftar ke Corvinus University of Budapest. Dahulu kampus ini dikenal sebagai Karl Marx University, dan hingga kini masih menjadi rujukan utama ilmu ekonomi dan sosial di kawasan itu.
Proses seleksinya panjang dan ketat. Dari 300 kandidat internasional, hanya disediakan satu kursi. Pada akhirnya, kursi itu jatuh kepadanya. Ia pun tercatat sebagai mahasiswa doktor pertama asal Indonesia dalam sejarah universitas tersebut.
Lulus 2,5 Tahun, Ditahan Aturan 1 Tahun
Di Hungaria, Prof. Jhanghiz memulai kuliah pada September 2018. Ia bekerja cepat. Seluruh mata kuliah dan riset diselesaikan dalam 2,5 tahun.
Namun kelulusan tidak bisa dipercepat. Aturan di Hungaria mewajibkan masa studi doktor minimal 4 tahun. Ia pun harus menunggu. Barulah pada Januari 2022, atau 3,5 tahun setelah berangkat, gelar doktor itu resmi ia terima.
Kemudian, ia pulang ke Indonesia. Saat itu kondisi dunia sedang tidak baik-baik saja. Pandemi COVID-19 belum mereda. Beberapa minggu kemudian, perang Rusia-Ukraina meletus.
Dua Kali Gagal ke Lektor Kepala, Sekali Lolos Jadi Guru Besar
Sepulang ke tanah air, tantangan beralih ke jalur jabatan akademik. Jenjangnya runut, yaitu Asisten Ahli, Lektor, Lektor Kepala, Guru Besar.
Selama studi di Hungaria, Prof. Jhanghiz dua kali mengajukan kenaikan ke Lektor Kepala. Dua kali pula ditolak. Baru pada pengajuan ketiga setelah kembali, ia berhasil. Gelar Associate Professor ia sandang.
Untuk jabatan Guru Besar, ia hanya mengajukan sekali. Oktober 2025, pengajuan itu langsung dinyatakan lolos di bidang Manajemen Pemasaran. Sertifikatnya diantar langsung oleh Kepala LLDIKTI Wilayah IV, Dr. Lukman ke acara wisuda President University ke-21.
Pengukuhan resmi di tingkat universitas baru dilakukan 21 April 2026. Di podium itulah ia mengetahui satu fakta baru: dirinya adalah Guru Besar termuda di LLDIKTI Wilayah IV.
Saat ini President University memiliki 8 Guru Besar. Ia adalah Guru Besar ke-7 di kampus berstandar internasional yang berpusat di Kota Mandiri Jababeka, Cikarang, Bekasi tersebut.
Memaknai Pemasaran Lebih dari Sekadar Jualan
Sebagai Guru Besar, bidang keahlian Prof. Jhanghiz adalah Manajemen Pemasaran dengan konsentrasi Marketing Innovation and Consumer Ethics.
Ia tidak melihat pemasaran sebatas urusan penjualan dan profit. Secara mikro, ya, pemasaran adalah soal memenangkan pasar. Tapi secara makro, pemasaran adalah alat sosial.
Melalui pemasaran, sebuah masalah di masyarakat diidentifikasi. Dari situ lahir produk, jasa, dan kampanye yang mengubah cara hidup orang. Di era media sosial, pengaruhnya menjadi berlipat ganda.
Jejak risetnya mengikuti pandangan itu. Ia meneliti pemasaran hijau, pemasaran religius dan spiritual, hingga pemasaran berbasis teknologi. Artikel-artikelnya terbit di jurnal internasional seperti Asia Pacific Journal of Marketing & Logistics dan International Review on Public & Nonprofit Marketing. Ia juga penerima hibah riset dari U.S. Department of State, European Union, dan National Research Fund of Hungary.
Awal 2026, ia merilis penelitian terbaru di International Journal of Consumer Studies. Kajiannya tentang femvertising, iklan yang mengusung nilai pemberdayaan perempuan.
Berbeda dengan citra tradisional perempuan sebagai ibu rumah tangga di dapur, femvertising menampilkan perempuan yang kuat, mandiri, dan memimpin.
Dari 286 responden perempuan Generasi Y di Hungaria, riset itu menunjukkan iklan model ini mampu meningkatkan evaluasi merek dan niat beli, terutama pada konsumen yang mendukung kesetaraan gender.
Untuk memperdalam riset, ia kini dipercaya sebagai Visiting Professor di Corvinus Institute for Advanced Studies, Hungaria selama lima bulan sejak September 2026 hingga Februari 2027. Ia juga berafiliasi dengan Universiti Teknologi MARA, Malaysia.
“Bagi saya, Guru Besar bukan tujuan akhir. Ini gerbang untuk bekerja lebih global dan memberi dampak lebih luas bagi masyarakat,” ujarnya kepada redaksi INDUSTRY.co.id lewat sambungan telepon dari Budapest, Sabtu (5/9/2026).
Di Luar Ruang Kelas
Di luar akademik, Prof. Jhanghiz adalah ayah dari dua anak, yakni Eunoia Terahadin Syahrivar (putra) dan Bailunajia Tianshen Syahrivar (putri).
Keduanya kini bersekolah di Indonesia. Saat ia menempuh studi di Hungaria, anak-anaknya mengikuti pembelajaran secara daring.
Waktu senggangnya diisi membaca. Tak melulu soal jurnal, tapi juga buku filosofi, sejarah, seni, dan budaya. Ia juga gemar menonton film dan drama, khususnya yang bertema sejarah.
Untuk menjaga kebugarannya, ia aktif berolahraga basket. Baginya, basket melatih kerja sama tim. Satu hobi lagi yang tak pernah ia lepas adalah travelling. Kegemaran berpetualang ini dilakukan untuk mengenal budaya dan kearifan lokal.