INDUSTRY.co.id - JAKARTA – Google memperkenalkan inisiatif “With Gemini, In Craft” yang memperlihatkan pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI) sebagai mitra kreatif bagi rumah mode, studio kreatif, hingga pelaku ekonomi kreatif di Indonesia.
Dalam inisiatif tersebut, Google menggandeng tiga label mode Indonesia, yaitu KRATON Auguste Soesastro, STELLARISSA by Stella Rissa, serta TWO STITCHES by Andy Tan & Jerome Kurnia. Kolaborasi ini mengeksplorasi penggunaan Gemini untuk riset budaya, pengembangan gagasan, produksi multimedia, hingga proses pengembangan produk fashion.
Country Director Google Indonesia Veronica Utami mengatakan teknologi akan memberi dampak terbaik ketika mampu memberdayakan imajinasi manusia.
“With Gemini, In Craft membuktikan sebuah kebenaran mendasar: teknologi mencapai potensi terbaiknya ketika memberdayakan imajinasi manusia,” ujar Veronica.
Ia menegaskan, Gemini tidak ditujukan untuk menggantikan kreativitas manusia. Sebaliknya, AI dirancang untuk membantu kreator menyederhanakan proses kerja yang kompleks, memperluas ruang eksplorasi, serta mendorong pertumbuhan usaha tanpa menghilangkan nilai seni dan keterampilan kriya.
Kolaborasi ini hadir di tengah peran besar industri mode dalam ekonomi kreatif nasional. Sektor fashion disebut menyumbang 58,55 persen dari total ekspor barang kreatif pada awal 2026. Bersama subsektor kuliner dan kriya, industri ini juga menjadi salah satu penyerap tenaga kerja terbesar dari 27,4 juta pekerja kreatif Indonesia pada tahun lalu.
KRATON Auguste Soesastro memanfaatkan Gemini Deep Research dalam merancang koleksi adibusana khusus untuk Kenya Kamalashila Soekarno, putri seniman Enrico Soekarno. Teknologi AI tersebut digunakan untuk menelusuri arsip internasional, menerjemahkan dokumen sejarah berbahasa asing, serta memverifikasi silsilah keluarga di enam wilayah leluhur.
Riset itu kemudian memperkuat narasi di balik karya bespoke couture yang dibuat Auguste Soesastro, lengkap dengan catatan terstruktur dan bibliografi yang komprehensif.
Sementara itu, STELLARISSA by Stella Rissa menggunakan Gemini untuk mengembangkan karakter lukisan tangan bernama Starlet. Karakter tersebut dieksplorasi melalui visualisasi 360 derajat dan pengepasan busana runway virtual, sebelum dikembangkan menjadi rencana serial animasi, podcast, hingga figur seni koleksi tiga dimensi.
Bagi Stella Rissa, pemanfaatan AI membuka peluang untuk memperluas semesta intellectual property atau IP tanpa menghilangkan kehangatan dari karya seni buatan tangan.
Berbeda lagi dengan TWO STITCHES by Andy Tan & Jerome Kurnia. Label streetwear avant-garde ini menggunakan Gemini untuk menghubungkan tim desain dan bisnis yang berada di Jakarta, Bali, serta Berlin dalam pengembangan koleksi terbaru bertajuk “MRTYNY”.
Melalui konversi sketsa menjadi simulasi jatuh kain 3D dan virtual fitting pada model digital, TWO STITCHES disebut mampu memangkas proses pembuatan sampel fisik dari hitungan bulan menjadi hitungan hari. Pendekatan itu turut dipadukan dengan analisis pasar prediktif dan tolok ukur harga untuk membantu menekan risiko produksi berlebih.
Google mencatat Indonesia kini masuk lima besar pasar global Gemini. Bahkan, satu dari dua prompt pengguna Gemini di Indonesia bersifat multimodal dengan memadukan teks, gambar, atau video. Pengguna di Tanah Air juga menghasilkan hampir 9 juta gambar melalui aplikasi Gemini setiap hari, tertinggi di Asia Tenggara.
Menurut Veronica, perkembangan tersebut menjadi peluang besar untuk memperkuat ekosistem kreatif lokal, khususnya bagi kreator dan usaha kecil.
“Google tetap berkomitmen untuk berkolaborasi dengan para kreator lokal, mendukung usaha kecil, merayakan warisan budaya, dan memastikan kreativitas manusia tetap menjadi pusatnya,” kata Veronica.