INDUSTRY.co.id - Jakarta, AIREI Sdn Bhd memperluas penerapan teknologi kecerdasan buatan (AI) di industri kelapa sawit dengan meresmikan pabrik kelapa sawit pintar berbasis AI keduanya di Perak Motor Co. (PMC Oil Mill), Teluk Intan, Perak.

Pabrik tersebut memiliki kapasitas pengolahan mencapai 60 ton tandan buah segar (TBS) per jam, lebih besar dibandingkan pabrik pertama AIREI yang berkapasitas 45 ton per jam.

Peresmian ini menjadi langkah penting bagi AIREI untuk membawa teknologi pabrik sawit berbasis AI dari tahap pembuktian konsep menuju penerapan pada skala industri. Kurang dari dua tahun setelah memperkenalkan pabrik kelapa sawit pintar berbasis AI pertamanya, perusahaan kini mengklaim telah menunjukkan bahwa sistem tersebut dapat diterapkan pada pabrik dengan kapasitas yang lebih besar.

Teknologi AIREI dikembangkan untuk memantau proses produksi, mengidentifikasi penyimpangan, menelusuri akar persoalan, serta membantu mengembalikan proses pengolahan ke parameter operasi yang telah ditetapkan.

Kehilangan Minyak Turun 13 Persen

Dalam penerapan di PMC Oil Mill, AIREI mencatat sejumlah hasil operasional. Salah satunya adalah penurunan kehilangan minyak mesokarp berbasis basah atau oil loss wet basis (OLWB) di stasiun press sebesar 13%.

Selain itu, oil extraction rate (OER) disebut meningkat sekitar 0,1% hingga 0,2%.

Penerapan sistem AI tersebut juga diklaim membuat penggunaan tenaga kerja lebih efisien. Ketergantungan terhadap operator asing turun 20% pada bulan pertama implementasi dan diproyeksikan mencapai 40%.

Menurut AIREI, teknologi tersebut juga membantu menjaga konsistensi parameter operasi dan prosedur standar yang telah ditetapkan. Dengan demikian, proses produksi tidak lagi terlalu bergantung pada penilaian individual operator.

Di tingkat manajemen, pusat kendali berbasis AI memberikan visibilitas yang lebih luas terhadap kinerja pabrik. Penyimpangan dan gangguan operasional dapat dipantau lebih cepat sehingga tindakan korektif bisa segera dilakukan.

“Ketika pertama kali menerapkan sistem ini, tujuan kami adalah membuktikan bahwa AI bisa bekerja di lantai pabrik kelapa sawit,” kata Surendran Kuranadan, Founder dan Chief Executive Officer AIREI Sdn Bhd.

Menurut Surendran, sistem AIREI mampu mengidentifikasi penyimpangan produksi, menelusuri akar masalah, melakukan perbaikan, dan mengambil keputusan agar proses tetap berada dalam parameter pengolahan.

“Hasilnya, kehilangan minyak di pabrik ini turun ke tingkat terendah yang pernah dicatat. Kami membuktikan bahwa sistem ini bisa diperbesar skalanya, dan bahwa ini adalah model yang dapat diadopsi negara penghasil kelapa sawit mana pun, bukan hanya Malaysia,” ujarnya.

Bidik Pasar Indonesia dan Amerika Latin

Perkembangan teknologi tersebut mulai menarik perhatian pelaku industri kelapa sawit di berbagai kawasan. AIREI menyebut produsen di negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia dan Thailand, turut mencermati penerapan model pabrik berbasis AI tersebut.

Perhatian serupa datang dari Amerika Latin, terutama Meksiko dan Kolombia, yang dalam beberapa tahun terakhir terus mengembangkan sektor perkebunan kelapa sawit.

Sejumlah pelaku di pasar tersebut disebut mulai menjajaki penerapan teknologi serupa, terutama karena potensi efisiensi operasional dan estimasi pengembalian investasi atau return on investment (ROI) dalam kisaran 18 hingga 20 bulan.

Besaran investasi, menurut AIREI, dapat disesuaikan dengan kapasitas masing-masing pabrik.

Bagi perusahaan, kemampuan menerapkan sistem pada pabrik dengan ukuran dan kondisi berbeda menjadi bagian penting dari strategi ekspansi globalnya.

AIREI ingin memosisikan teknologinya bukan sebagai solusi yang hanya dirancang untuk satu pasar, melainkan sebagai model operasional yang dapat diadaptasi oleh industri sawit di berbagai negara.

Tak Perlu Bangun Pabrik Baru

Salah satu pendekatan yang ditawarkan AIREI adalah penerapan teknologi pada fasilitas yang sudah beroperasi. Sistem tersebut tidak mengharuskan pemilik pabrik membongkar atau membangun ulang fasilitas produksi.

Teknologi AI diterapkan pada peralatan dan proses yang telah berjalan di lantai pabrik. Fokusnya adalah meningkatkan kinerja dari sistem yang sudah tersedia melalui pemantauan, analisis, dan pengambilan keputusan berbasis data.

Bagi pemilik pabrik, manfaat tersebut pada akhirnya akan diukur melalui indikator yang lebih konkret, seperti peningkatan ekstraksi minyak, penurunan kehilangan minyak, pengurangan downtime, efisiensi tenaga kerja, serta periode pengembalian investasi.

Dengan dua pabrik yang telah menerapkan teknologi tersebut, AIREI kini menargetkan perluasan model ke negara-negara produsen sawit lainnya.

“Fakta bahwa pasar kelapa sawit di seluruh dunia sudah menaruh perhatian menunjukkan kami berada di jalur yang tepat,” kata Surendran.

Perusahaan membuka peluang bagi pemilik pabrik dan grup perkebunan kelapa sawit di Indonesia, Thailand, Kolombia, serta negara produsen lainnya untuk menjajaki penerapan teknologi AI di fasilitas mereka.

AIREI menyatakan teknologi tersebut dirancang untuk membawa operasi pabrik sawit yang selama ini banyak bergantung pada proses manual menuju sistem yang lebih terstandar, terukur, dan berbasis AI.