INDUSTRY.co.id - JAKARTA – Perjalanan panjang bangsa Indonesia menuju kemerdekaan tidak hanya dapat dipelajari melalui buku sejarah modern. Jejak perjuangan masyarakat Nusantara juga tersimpan dalam naskah kuno, surat kabar, foto, hingga peta lama.

Hal itulah yang coba dihadirkan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) melalui pameran “Jejak Perlawanan, Akar Peradaban” yang berlangsung sepanjang Agustus 2026.

Pameran yang digelar dalam rangka menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tersebut menjadi ruang bagi masyarakat untuk melihat kembali berbagai peristiwa, tokoh, serta budaya perlawanan yang turut membentuk perjalanan sejarah Indonesia.

Naskah Kuno Jadi Saksi Perjalanan Bangsa
Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi Perpusnas, Suharyanto, mengatakan kemerdekaan Indonesia merupakan hasil dari proses sejarah yang panjang.

Menurutnya, keberanian, keteguhan, pengorbanan, dan semangat melawan ketidakadilan telah tumbuh di berbagai wilayah Nusantara jauh sebelum Indonesia menjadi sebuah negara merdeka.

Karena itu, berbagai koleksi yang tersimpan di Perpusnas memiliki peran penting dalam membantu masyarakat memahami akar sejarah tersebut.

Melalui pameran ini, pengunjung dapat melihat bagaimana perjalanan masyarakat Nusantara terekam dalam lembaran-lembaran naskah yang menjadi saksi perkembangan peradaban.

Salah satu koleksi yang ditampilkan adalah Babad Untung Surapati dengan kode KBG 432. Naskah tersebut merekam perjalanan dan perjuangan Untung Surapati dalam menghadapi VOC.

Selain itu, pengunjung juga dapat menemukan sejumlah koleksi lain seperti Kitab Sutasoma, Gebug Buleleng, Babad Giyanti, Babad Mataram, hingga naskah Jihad Aceh.

Tiga Perspektif untuk Memahami Perlawanan
Agar pengunjung memperoleh gambaran sejarah secara lebih utuh, Perpusnas mengelompokkan materi pameran ke dalam tiga subtema utama.

Subtema pertama adalah Sosok Perlawanan, yang memperkenalkan sejumlah tokoh dengan latar belakang berbeda dalam sejarah perjuangan masyarakat Nusantara. Beberapa di antaranya adalah Syekh Yusuf al-Makassari, Pangeran Diponegoro, dan Untung Surapati.

Berikutnya, Budaya Perlawanan mengangkat peran sastra, hikayat, kidung, doa, serta ajaran keagamaan dalam membentuk keberanian, solidaritas, identitas, dan nilai perjuangan masyarakat.

Sementara Peristiwa Perlawanan menghadirkan berbagai peristiwa penting yang mewarnai perjalanan sejarah bangsa, termasuk pertempuran, strategi diplomasi, perjanjian, serta kesaksian para pelaku sejarah.

Ketiga perspektif tersebut menunjukkan bahwa perlawanan tidak selalu hadir dalam bentuk peperangan. Kebudayaan, pengetahuan, keyakinan, hingga karya sastra juga menjadi bagian dari cara masyarakat mempertahankan identitas dan menghadapi ketidakadilan.

Lebih dari 50 Koleksi Bisa Dilihat Pengunjung
Pelaksana Tugas Kepala Pusat Jasa Informasi dan Pengelolaan Naskah Nusantara (Pujasintara), Yeri Nurita, menjelaskan bahwa koleksi yang dipamerkan terbagi menjadi tiga kelompok utama.

Ketiganya adalah Koleksi Naskah Nusantara, Koleksi Monograf Langka, dan Koleksi Monograf Mutakhir.
Total terdapat lebih dari 50 koleksi yang ditampilkan. Bentuknya pun beragam, mulai dari naskah kuno, surat kabar terjilid, foto terjilid, hingga peta lama.

Menariknya, penyajian pameran tidak hanya terpusat pada satu ruang. Koleksi juga ditampilkan di lantai 4 Ruang Pameran serta lantai 16 yang menjadi area Layanan Koleksi Foto, Peta, dan Lukisan.

Kehadiran berbagai jenis koleksi tersebut membuat pengunjung dapat melihat sejarah dari beragam sumber, bukan hanya melalui narasi tertulis dalam buku sejarah.

Pameran Jejak Perlawanan, Akar Peradaban juga dilengkapi dengan berbagai kegiatan pendukung yang berlangsung sepanjang Agustus 2026.

Perpusnas menghadirkan Puspa Pemustaka Seri 38 dan 39, kelas literasi anak, librarian talk, kelas literasi budaya Nusantara, serta kelas literasi aksara Jawa dan Lontara Bugis.

Rangkaian kegiatan tersebut diharapkan mampu memperluas keterlibatan masyarakat sekaligus membuat koleksi Perpusnas lebih mudah diakses dan dipahami oleh berbagai kalangan.

Pameran ini juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesadaran bahwa perjalanan kemerdekaan Indonesia tidak berlangsung secara instan. Ada proses panjang dan kontribusi banyak generasi yang membentuk perjalanan bangsa.