INDUSTRY.co.id - JAKARTA – Pasar properti Indonesia memasuki fase baru pada 2026. Persaingan tidak lagi bertumpu pada ekspansi proyek maupun perang harga, melainkan pada kualitas aset, efisiensi operasional, pengalaman pengguna, serta kemampuan memenuhi standar keberlanjutan atau Environmental, Social, and Governance (ESG).

Head of Marketing & Communications Colliers Indonesia, Yulia Miranti, mengatakan pelaku industri kini mulai mengalihkan strategi dari pembangunan proyek baru menuju optimalisasi aset yang telah dimiliki. Renovasi, reposisi aset, peningkatan kualitas bangunan, hingga pemanfaatan inventori yang tersedia menjadi fokus utama untuk menciptakan nilai jangka panjang.

"Pasar properti memasuki babak baru ketika kualitas kini menjadi faktor yang lebih menentukan dibandingkan kuantitas. Di hampir seluruh sektor, persaingan tidak lagi hanya ditentukan oleh ekspansi maupun harga, tetapi juga oleh kualitas aset, efisiensi operasional, pengalaman pengguna, serta kemampuan memenuhi tuntutan penerapan prinsip ESG," ujar Yulia Miranti dalam siaran pers, Senin (20/7).

Menurut Colliers, perubahan tersebut terlihat hampir di seluruh segmen properti, mulai dari perkantoran, apartemen, hunian ekspatriat, ritel, hotel hingga kawasan industri. Model bisnis pun bergeser dari sekadar mengejar volume transaksi menjadi menciptakan daya saing aset yang berkelanjutan.

Di sektor perkantoran Jakarta, pemulihan pasar masih berlangsung secara bertahap dengan aktivitas sewa yang didominasi relokasi, peningkatan kualitas ruang (upgrading), serta penyesuaian kebutuhan luas kantor (rightsizing). Penyewa kini lebih memilih ruang siap pakai, semi-fitted, maupun fully furnished untuk menekan belanja modal dan mempercepat proses relokasi.

Selain itu, akses menuju transportasi publik seperti MRT dan LRT serta sertifikasi bangunan hijau semakin menjadi pertimbangan utama, terutama bagi perusahaan multinasional yang menerapkan kebijakan ESG.

Colliers menilai pemilik gedung akan lebih kompetitif apabila menawarkan fleksibilitas dalam skema penyewaan, termasuk ruang fitted, periode bebas sewa, kontribusi biaya fit-out, hingga opsi penyesuaian luas ruang dibanding sekadar memangkas tarif sewa.

Di pasar apartemen strata-title Jakarta, pengembang juga lebih berhati-hati. Fokus diarahkan pada penjualan unit siap huni dibanding meluncurkan proyek baru, seiring tingginya suku bunga dan sikap pembeli yang lebih selektif. Insentif PPN Ditanggung Pemerintah (DTP) untuk unit yang telah selesai dibangun turut menopang aktivitas transaksi.

Colliers melihat kesenjangan antara pembeli investor dan pembeli untuk dihuni sendiri (owner-occupier) semakin menyempit, khususnya di segmen menengah. Keterjangkauan harga, kesiapan unit, dan kemudahan pembiayaan menjadi faktor utama dalam keputusan pembelian.

Sementara itu, pasar hunian ekspatriat menunjukkan prospek yang lebih positif. Masuknya investasi di sektor energi, pertambangan, teknologi, dan industri mendorong peningkatan permintaan hunian berkualitas. Namun, pasokan hunian modern yang telah direnovasi, fully furnished, dan siap ditempati masih terbatas sehingga memperkuat posisi pemilik properti dalam mempertahankan harga sewa.

Di sektor ritel, Colliers menilai keberhasilan pusat perbelanjaan kini semakin ditentukan oleh kemampuan menghadirkan pengalaman berbelanja yang berbeda, reposisi aset, serta pengelolaan bauran penyewa (tenant mix) yang lebih strategis. Peritel juga semakin selektif memilih lokasi dengan tingkat kunjungan dan daya beli yang kuat.

Adapun industri perhotelan Jakarta masih menghadapi tantangan akibat belum pulihnya permintaan dari segmen pemerintah. Operator hotel mulai memperluas pasar ke wisatawan bisnis, free independent travellers (FIT), family staycation, hingga penyelenggaraan acara sosial untuk mengurangi ketergantungan pada bisnis MICE pemerintah.

Di Bali, pasar hotel diperkirakan tetap tumbuh pada semester II 2026, meski persaingan dengan destinasi wisata regional semakin ketat. Hotel yang mampu menawarkan pengalaman autentik, konsep wellness, layanan personal, dan fasilitas ramah keluarga dinilai memiliki peluang lebih besar mempertahankan daya saing.

Sementara itu, kawasan industri Semarang Raya dinilai mulai berkembang menjadi koridor industri terintegrasi yang semakin menarik investasi. Penyerapan lahan industri pada semester I 2026 tercatat sekitar 51 hektare dengan permintaan yang mulai bergeser dari sektor tekstil menuju elektronik, farmasi, logistik, hingga pusat data.

"Strategi yang ditempuh tidak lagi sekadar menambah pasokan, tetapi lebih diarahkan pada renovasi, reposisi aset, peningkatan kualitas bangunan, serta pemanfaatan inventori yang tersedia secara lebih optimal. Pergeseran ini mencerminkan pasar yang semakin selektif, disiplin, dan berorientasi pada strategi jangka panjang," kata Yulia.

Colliers memperkirakan pelaku industri yang mampu meningkatkan kualitas aset, memperkuat efisiensi operasional, serta beradaptasi terhadap perubahan kebutuhan konsumen akan menjadi pihak yang paling diuntungkan dalam siklus pasar properti berikutnya.