Reshuffle Inspektorat Kementerian dan Instansi Pemerintah

Oleh : Emrus Sihombing | Minggu, 13 Agustus 2017 - 22:34 WIB

Dr. Emrus Sihombing. (Foto: IST)
Dr. Emrus Sihombing. (Foto: IST)

RESHUFFLE, tampaknya  akan terwujud dalam waktu tidak terlalu lama. Sebab, perbincangan tentang reshuffle menghangat kembali pekan ini. Bahkan media masa menggali dari berbagai sumber, termasuk dari dalam Istana, tentang issu reshuffle.

Sayangnya, perbincangan reshuffle hanya terjebak pada pergantian atau rotasi menteri. Padahal, bisa jadi ada potensi "penyakit" kronis tersebunyi di kementerian dan instansi pemerintah lainnya yang selama ini seolah kita biarkan.

Itulah sebabnya bongkar pasang menteri, tidak pernah menyelesaikan persoalan perilaku korupsi dan pungli di kementerian dan instansi pemerintahan lainnya, selama ini

Sebab, ada salah satu organ di kementerian dan instansi pemerintah yang seharusnya bisa mencegah dan memberantas korupsi dan pungli. Namun, tampaknya tidak berfungsi, sehingga menimbulkan terjadinya penyimpangan. Lihat saja, sampai sekarang belum ada kementerian yang berani memproklamirkan bahwa instansi mereka dijamin tidak ada korupsi dan pungutan liar (pungli).

Karena itu, persoalan korupsi dan pungli menjadi patologi di kementerian dan instansi pemerintah lainnya yang belum tertuntaskan dari dulu hingga kini.

Pertanyaan kritis muncul, mengapa kementerian dan instansi pemerintah lainnya belum bisa move on dari perilaku korupsi dan pungli?

Jawabannya sangat sederhana dan kasat mata yaitu, inspektorat di lembaga tersebut seolah tidak memiliki "taring" bagi orang kuat di instansi yang bersangkutan. Buktinya, sudah ada menteri melakukan korupsi.

Sebaliknya bisa saja inspektorat berubah menjadi "mandor"  yang kebagian "basah" dari oknum yang bisa diajak berkolaborasi atau dikendalikan. Padahal, seharusnya inspektorat ini menjadi "KPK mini" di instansinya.

Untuk itu, menurut hemat saya, inspektorat dikementerian dan instansi pemerintah lainnya, sebaiknya segera "diamputasi" (ditiadakan). Jangan sampai inspektorat semacam itu tumbuh menjadi "tumor" ganas di kementerian dan instansi pemerintah lainnya yang berpotensi besar menggerogoti kinerja lembaga pemerintah dan dana APBN.

Sebab, sesungguhnya inspektorat kementerian dan lembaga pemerintah lainnya sangat-sangat sulit melakukan fungsi pengawasan di kementeriannya sendiri, karena unit ini bagian integral yang tak terpisahkan dari sistem yang terjadi di internal kementerian atau instansi pemerintah lainnya, termasuk terjadinya perilaku korupsi dan pungli di kementerian dan instansi pemerintah lainnya.

Sebab, pembiayaan dan nasib para pegawai di inpektorat sangat tergantung dengan unit kerja lain yang ada di kementerian atau instansi pemerintah lainnya. Belum lagi bila mana menteri, sebagai atasan dari inspektorat, tidak memberi sinyal dukungan kuat kepada inspektorat melakukan pengawasan secara ketat dan profesional, sehingga inspektorat menjadi disfungsi. Buktinya, sudah beberapa menteri kita terjerat korupsi di KPK dan telah meyandang status terpidana yang memiliki hukum tetap.

Untuk itu, bila presiden Jokowi melakukan reshuffle, sebaiknya inspektorat "dijabut" dari semua kementerian dan instansi pemerintah dengan membentuk kementerian baru. Misalnya, KEMENTERIAN PEMBERANTASAN KORUPSI DAN PUNGLI DI INTERNAL PEMERINTAHAN. Atau apapun namanya, yang bertugas meniadakan korupsi dan pungli di kementerian, badan, lembaga dan instansi pemerintahan lainnya.

Pembentukan kementerian ini sesungguhnya sama sekali tidak menambah beban APBN, karena dana tersebut sudah ada selama ini di masing-masing kementerian dan instansi pemerintahan.

Dr. Emrus Sihombing adalah Direktur Emrus Center, Dosen Universitas Pelita Harapan

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Pusdiklat Mahkamah Agung Republik Indonesia dan Lembaga Sertifikasi Profesi London School of Public Relations Jakarta (LSP LSPR), menggelar workshop dan uji kompetensi untuk profesi Humas.

Senin, 16 September 2019 - 21:22 WIB

Pusdiklat Mahkamah Agung RI Gandeng LSP LSPR Gelar Uji Kompetensi Humas

Kredibiltas dan kompetensi profesi Humas merupakan salah satu kunci dalam membangun persepsi publik yang akan tercipta.

Asosiasi Personal Vaporizer Indonesia

Senin, 16 September 2019 - 21:04 WIB

Klarifikasi Vape, Ini Penjelasannya

Terkait dengan pemberitaan yang simpang siur mengenai vape akhir-akhir ini maka kami dari Asosiasi Personal Vaporizer Indonesia (APVI) sebagai asosiasi terbesar di Indonesia yang menaungi sekitar…

Anang Hermansyah

Senin, 16 September 2019 - 21:00 WIB

Anang Kembali Jadi Juri Indonesian Idol

Sejak menjadi anggota DPRRI, Anang Hermansyah langsung menghilang dari gemerlapnya industri musik. Dan baru berani kembali di akhir jabatannya. "Secara etika sebagai anggota dewan, saya mesti…

Liga Volleyball: Mahasiswa 2019

Senin, 16 September 2019 - 20:00 WIB

Kemenangan Keempat Umika, Debut Kompetisi Menjanjikan TSM

Tim Trisakti School of Management (TSM) Jakarta mengawali hari terakhir LIMA Volleyball: Air Mineral Prim-A Greater Jakarta Conference Season 7 melawan Universitas Mitra Karya (Umika) Bekasi…

Bintang Puspayoga

Senin, 16 September 2019 - 18:00 WIB

Bintang Puspayoga Rilis Buku Sinergi Untuk Negeri

Bintang Puspayoga secara resmi merilis buku bertajuk Sinergi Untuk Negeri. Buku yang disusun tim yang diketuai Kabag Humas Kementerian Koperasi dan UKM Darmono itu merupakan buku yang menyajikan…