Humor Politik

Oleh : Jaya Suprana | Selasa, 04 Juli 2017 - 14:27 WIB

Jaya Suprana. (Foto: IST)
Jaya Suprana. (Foto: IST)

INDUSTRY.co.id, Jakarta - Pernah terdengar seorang menghujat: “Politik itu busuk!” Jika yang menghujat adalah orang biasa, kita tidak perlu terlalu peduli. Bisa saja hujatan itu cuma luapan frustasi atau sekedar dengki terhadap gemerlap kehidupan para pelaku politik.

Akan tetapi, ternyata yang menghujat adalah justru seorang tokoh politikus terkemuka, tidak kurang dari Sir Winston Leonard Spencer Churchill. Maka, hujatan sang tokoh-yang meski penggemar cerutu tetapi mampu bertahan hidup sampai 90 tahun sambil serius dan intensif bergelimang lumpur dalam kubangan politik itu-mungkin ada benarnya juga! Apalagi kebetulan dari masalah-masalah busuk memang rawan muncul apa yang dinamakan: humor!

Humor biasanya tumbuh subur di suasana yang kontradiktif dan munafik, di mana realitas tidak sesuai, bahkan bertolak belakang dengan apa yang diidamkan akibat memang selalu ada udang di balik batu atau sebaliknya. Maka, tak heran apabila salah satu masalah yang sering menjadi bulan-bulanan humor adalah politik di mana das sein  memang sering meleset dari das Sollen.

Humor politik sudah mulai ada sejak manusia mulai ber politik. Karena suasana politik yang di luar tampak begitu anggun tetapi di dalamnya penuh rekayasa, akal-akalan busuk itu sendiri sudah sangat jenaka.

Politik memang sarat suasana dukung sana, jegal sini, jilat sana, jitak situ, janji ini, ingkar itu, berlumur aneka kemunafikan serba tumpang- tindih dan morat-marit! Memang kegiatan dan kehidupan politik an sich sudah merupakan suatu bentuk humor yang luar biasa lucu! Kelucuan sudah mulai tampak pada tafsir manusia terhadap makna politik yang ternyata begitu beraneka-ragam.

Tafsir

Plato, Aristoteles, sampai Thomas Aquino menganggap politik sebagai suatu bentuk ajaran mengenai cara hidup bersama yang teratur bagi manusia sebagai makhluk gemeinschaft. Namun, Machiavelli menafsirkan politik sebagai alat bagi para penguasa untuk mempertahankan kekuasaan mereka dengan menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan! Definisi Weber atas politik adalah “Klassenkampf” perjuangan atau perbenturan antarkelas masyarakat demi saling menguasai.

Politikologi kontemporer cenderung mendefinisikan politik sebagai upaya manusia demi ketertiban yang benar dengan mempertimbangkan aspek budaya, tata nilai, dan konsensus masyarakat.

Upaya manusia mendefinisikan apa yang disebut sebagai politik sama absurd dan jenaka seperti upaya sekelompok tunanetra mendefinisikan bentuk seekor gajah secara menyeluruh. Alhasil: sporadis, saling berbeda, bahkan bertentangan satu dengan lain, kacau-balau, simpang siur, tetapi masing-masing merasa benar dan memang bisa dianggap benar oleh mereka yang sepaham dengan yang merasa benar.

Tertawa

Politik menciptakan konstelasi hierarkis di struktur kehidupan manusia, di mana ada kelompok yang berkuasa dan ada kelompok yang dikuasai. Kesenjangan kukuasaan itu secara langsung atau tidak, dalam kadar tertentu, sering menimbulkan tegangan dan tekanan, terutama pada pihak yang dikuasai. Humor merupakan salah satu cara untuk membebaskan diri dari beban tekanan.

Dengan humor seolah jenjang beda kekuasaan lenyap. Semua kembali sama rata, tidak ada lagi yang ada di atas atau di bawah. Tertawa memang merupakan sarana demokratisasi yang paling ampuh.

Karena tertawa penguasa memang tak banyak beda dengan tertawa mereka yang dikuasai. Hanya mungkin yang satu bisa tertawa lepas secara terbuka, sementara yang lain terpaksa sembunyi-sembunyi.

Walau tertawa yang legal belum tentu lebih nikmat ketimbang yang ilegal. Humor mampu menyingkap kelemahan manusia yang menyelinap di sana-sini, termasuk di bidang politik yang gemerlap di luar, lusuh di dalam itu. Lelucon politik selalu bersifat tendensius ke arah pihak penguasa, biasanya makin tajam dan menggebu bila pihak yang dikuasai tidak leluasa mengutarakan pendapatnya.

Humor menjadi jalur pelepasan frustasi mereka yang merasa tertindas. Maka, biasanya lelucon politik makin subur pada masa kondisi politik memburuk meski lucunya juga makin subur di  masa kondisi politik membaik. pendek kata: humor dan politik saling erat melekat demi saling menyandera.

Humor politik mirip ilmu fisika tentang udara yang tertekan makin cenderung meledak! Maka, humor politik lebih “eksplosif” di suasana diktatoris, otoriter, tidak demokratis akibat nihil mekanisme pelepasan hingga menghadirkansuasana pengap dan sesak yang selalu mencari jalur pelampiasan. Konon keterampilan dokter gigi di negara non- demokratis yang memberangus kebebasan berbicara sangat maju akbiat terampil mencabut gigi lewat lubang hidung. Maklum tak ada orang yang berani buka mulut.

Kebijakan politis memang lezat sebagai bulan-bulanan humor akibat kerap berkedok aneka sistem dengan istilah yang seram-seram demi mengaburkan makna yang sebenarnya, seperti “Normalisasi Kali Ciliwung”. George Orwell meperingatkan: “Hati-hati terhadap lelucon politik. Di dalam setiap lelucon politik selalu hadir sebuah revolusi kecil!” Ancaman George Orwell terkisah di dalam novel satire politik legendaris Animal Farm.

Sindiran terhadap kebijakan politis gaya Orwell juga tampil dalam betuk teka-teki: “Apa perbedaan antara Orde Lama dan Orde Baru dan Orde Reformasi?” Jawabannya: “Di Orde Lama manusia ditindas oleh manusia. Di Orde Baru sebaliknya. Di Orde Reformasi juga sebaliknya lagi.”

_JAYA SUPRANA
Pendiri Perhimpunan Pecinta Humor_

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Veolia

Senin, 24 Juni 2019 - 21:05 WIB

Veolia Water Technologies Establishes Asia Pacific Headquarters in Kuala Lumpur

Veolia Water Technologies, a leading solutions provider for both water and wastewater treatment, is pleased to announce the formation of its regional headquarters in Kuala Lumpur. The move from…

Suasana Konferensi Pers menyambut Harkopnas 2019 yang bakal diselenggarakan pada 12-14 Juli

Senin, 24 Juni 2019 - 20:59 WIB

Ini Alasan Harkopnas 2019 Diadakan di Purwokerto

Penetapan Purwokerto sebagai kota penyelenggara acara puncak Harkopnas 2019 adalah keputusan bernilai sejarah yang menarik.

Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde (Foto Dok Industry.co.id)

Senin, 24 Juni 2019 - 20:00 WIB

IMF: Perang Dagang AS-Tiongkok Tak Ada Pihak yang Diuntungkan

Ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok tidak akan menguntungkan pihak mana pun dalam jangka panjang, Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Christine Lagarde…

Ilustrasi Ekspor (ist)

Senin, 24 Juni 2019 - 19:45 WIB

Pemerinah Bakal 'Nendang' Ekspor Lewat Insentif Fiskal

Pemerintah terus melakukan terobosan kebijakan yang dapat menggairahkan iklim usaha di dalam negeri sehingga turut memacu pertumbuhan ekonomi. Salah satu langkah strategisnya, yang dalam waktu…

LinkedIn

Senin, 24 Juni 2019 - 18:10 WIB

LinkedIn: Tiga Rising Skills Ini Pengaruhi Inovasi dan Transformasi Perusahaan di Indonesia

LinkedIn, jaringan profesional terbesar di dunia, meluncurkan Laporan Future of Skills 2019, yang mengidentifikasi 10 rising skills (peningkatan keterampilan) yang paling tinggi di antara…