Peternak Sapi Perah Hanya Sebagai Pelengkap Penderita Industri Pengolahan Susu

Oleh : Ridwan | Jumat, 05 Mei 2017 - 10:44 WIB

Frisian Flag Indonesia Luncurkan Kampanye 'Saatnya Keluarga Minum Susu Sekarang!'
Frisian Flag Indonesia Luncurkan Kampanye 'Saatnya Keluarga Minum Susu Sekarang!'

INDUSTRY.co.id - Jakarta-Pemerintah telah mencanangkan program kemitraan antara industri pengolahan susu dan peternak sapi lokal untuk meningkatkan integrasi dalam proses produksi sehingga mampu mengurangi ketergantungan bahan baku impor.

Menanggapi hal itu, Ketua Asosiasi Peternak Sapi Perah Indonesia (APSPI), Agus Warsito mengatakan, sudah semestinya kemitraan antara peternak sapi perah dengan industri pengolahan susu di bangun.

"Intinya dalam kemitraan ini harus saling menguatkan dan saling menguntungkan. Dan kemitraan ini harus dituangkan dalam dokumen kerjasama kongkrit yang diketahui oleh pihak pemerintah," ungkap Agus Warsito saat dihubungi INDUSTRY.co.id di Jakarta (5/5/2017).

Agus menegaskan, kenyataannya kondisi hari ini peternak sapi perah dalam negeri dihadapkan pada kondisi yang hanya sebagai pelengkap penderita bagi industri pengolahan susu.

"Disaat susu skim dari luar negeri harganya mahal, Industri Pengolahan Susu (IPS) pada berebut susu segar dalam negeri, hingga kualitas pun tidak banyak dipermasalahkan oleh IPS. Tetapi sebaliknya, disaat susu skim dari luar negeri harganya murah, IPS mulai mengabaikan susu segar dalam negeri, hingga ada-ada saja diberlakukan persyaratan kualitas susu segar untuk dapat diterima oleh IPS," terang Agus.

Disisi lain, Agus juga mengeluhkan rendah nya harga susu dalam negeri dan tinggi nya impor susu saat ini.

Seperti diketahui, Harga susu di peternak saat ini Rp4.500 per liter, angka ini jauh di bawah China dan Vietnam yang masing-masing sebesar Rp7.330 per liter dan Rp8.132 per liter. Dan saat ini pun impor susu nasional masih sangat tinggi yaitu sebesar 3,3 juta ton per kapita per tahun, sedangkan kebutuhan susu dalam negeri mencapai 4,2 juta ton per kapita per tahun.

"Saat ini produksi susu dalam negeri hanya 19 persen dari total kebutuhan susu nasional atau sebesar 787 ribu ton per kapita per tahun. Kalau ini dibiarkan, estimasi saya akan menjadi 15 persen di tahun 2020," imbuh Agus.

Agus menghimbau kepada pemerintah khususnya Kementerian terkait bahwa kemitraan yang setara dan sejajar itu sangatlah mendesak untuk diterapkan sebagai sebuah pra-syarat bagi industri pengolahan susu untuk mendapatkan izin dari pemerintah dalam menjalankan kegiatan usahanya.

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Pandu Sastro Wardoyo Pakar Blockchain

Rabu, 18 Juli 2018 - 23:37 WIB

Membaca Peluang Baru di Era Blockchain

Blockchain berasal dari cryptocurrency, sehingga perkembangannya mendapatkan banyak sekali suntikan dana semenjak awal, tanpa harus meminta dari perusahaan atau bank

Vice President of Corporate Communications BMW Group Indonesia Jodie O'tania bersama Presiden Direktur PT Gaya Motor Ary Mariano (Foto: Ridwan/Industry.co.id)

Rabu, 18 Juli 2018 - 20:34 WIB

Perkuat Pasar Kendaraan Premium di Indonesia, BMW Tambah Investasi Hingga Rp20 Miliar

BMW Indonesia secara konsisten terus menerus tingkatkan aktivitas produksinya di Indonesia melalui investasi senilai lebih dari Rp270 miliar sejak tahun 2011 hingga saat ini. Tambahan investasi…

Dirut BTN Maryono (Fot Rizki Meirino)

Rabu, 18 Juli 2018 - 19:50 WIB

BTN Tak Ikut Biaya Divestasi Saham PT Freeport

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk tidak akan ikut menyalurkan kredit ke PT Indonesia Asahan Alumunium (Inalum) untuk membeli 51 persen saham PT Freeport Indonesia.

Rupiah (Foto Dok Industry.co.id)

Rabu, 18 Juli 2018 - 19:31 WIB

Rupiah Rabu Sore Melemah ke Rp14.414

Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Rabu sore, (18/7/2018) ditutup melemah besar 36 poin menjadi Rp14.414 dibandingkan posisi sebelumnya Rp14.378 per dolar AS.

Dirut Bank BNI Achmad Baiquni (Foto Rizki Meirino)

Rabu, 18 Juli 2018 - 19:26 WIB

Januari-Juni 2018, Laba Bersih Bank BNI Tumbuh 16 Persen

PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) mencatat kenaikan laba bersih 16% menjadi Rp7,44 triliun sepanjang Januari-Juni 2018 dibandingkan dengan realisasi laba bersih di periode yang sama pada 2017…