AAYD, Buku yang Paling Dicari dan Diperbincangan Netizen Saat Ini

Oleh : Ahmad Fadli | Kamis, 21 September 2017 - 16:40 WIB

Buku Ayat-Ayat yang disembelih
Buku Ayat-Ayat yang disembelih

INDUSTRY.co.id, Jakarta - Saat ini begitu ramai berseliweran perbincangan seputar isu kebangkitan PKI di media sosial. Dan diantara tulisan dan postingan tersebut terdapat banyak potongan informasi kisah-kisah kekejaman PKI dari buku Ayat-ayat yang Disembelih (AAYD). Dari pantauan redaksi, memang buku ini sangat diminati dan dicari khalayak.

Menyikapi hal itu, Anab Afifi, penulis buku ini mengaku terkejut. “Saya tidak menyangka buku saya ini begitu diminati masyarakat sejak terbit dua tahun lalu”.

Anab mengaku motivasi menulis buku ini bermula dari keinginan untuk mengisi kekosongan setelah jadwal rutin dia yang padat setiap tahun menulis naskah-naskah buku korporasi mulai kosong pada akhir Juli.   

“Pada Agustus 2015, saya berpikir harus menulis buku lain sebagai penyegaran”, ujar Anab yang memang sangat produktif menulis setiap tahunnya.

Buku yang ditulis oleh pria kelahiran Madiun ini memang sangat kontekstual hari-hari ini. Buku ini memuat rangkaian peristwa terkait aksi-aksi PKI dalam kurun yang panjang sejak tahun 1926 hingga 1968.  Berbeda dengan umumnya buku-buku sejarah tentang PKI yang selama ini beredar, AAYD memiliki kemampuan narasi yang memikat. Penulisan buku AAYD menurut penulisnya, menggunakan pendekatan jurnalistik dengan kemasan sastrawi.

“Sebetulnya ini adalah eksperimen saya. Sebab selama ini membaca buku-buku sejarah bikin lelah dan tidak menarik”, ujar Anab.

Kekuatan buku ini adalah pada penggambaran sejarah dengan mengedepankan saksi-saksi dan korban kekejaman PKI. Anab mengaku telah mewawancari tidak kuang dari 40 orang nara sumber. Mereka umumnya sudah berusia lanjut 80 an tahun.

Setelah redaksi membaca buku ini, memang penulis berhasil membawa pembaca seolah berada pada waktu, suasana, serta tempat saat peristiwa demi peristiwa kekejaman PKI itu berlangsung. Emosi pembaca akan teraduk-aduk manakala membaca buku ini.

Meski sangat dicari dan menjadi perbincangan masyarakat, uniknya buku AAYD ini tidak dijumpai di toko buku manapun. Menurut Anab, distribusi buku ini hanya mengandalkan Media Sosial dan jaringan.

Buku ini tidak hanya diperbincangkan oleh para Netizen. Tetapi juga memperoleh tempat di hati sejarawah, budayawan dan para tokoh. Diantaranya Prof Achmad Manshur Suryanegara, Taufiq Ismail,  Habiburrahman El Syrozi, serta  Dahlan Iskan.

“Buku ini membuat saya tidak ingin berhenti membacanya. Luar biasa buku ini. Anab Afifi seperti telah ditakdirkan Allah untuk membuka yang tersembunyi. Inilah buku paling lengkap yang mengungkap sejarah kekejaman PKI. Buku ini harus disebarluasakan dan dicetak sebanyak-banyaknya”, demikian Prof Achmad Manshur Suryanegara, Guru Besar Sejarah Universitas Padjajaran.

Dalam sebuah kesempatan berbicara pada seminar di tahun 2016, sastrawan dan budayawan senior Taufiq Ismail mengungkapkan kesannya setelah membaca buku AAYD. “Setelah dua kali membaca buku AAYD ini, saya menangis”, ujar sastrawan yang pernah mengalami kekejaman PKI pada tahun 1965.   Taufiq Ismail juga mengatakan bahwa buku ini ditulis dengan baik. Wawancaranya ekstensif.  

"Gaya penulisannya bagus sekali. Prolog dengan menjadikan Felicia sebagai tokoh sangat kreatif dan hidup. Penulisannya secara keseluruhan bagus sekali”, demikian komentar wartawan senior  Dahlan Iskan.

Tidak kurang, penulis novel Ayat-ayat Cinta, Habiburrahman El Shirazy, yang juga dikenal sebagai budayawan dan sastrawan Asia Tenggara mengatakan “Buku ini memuat data-data sejarah yang harus dibaca oleh umat Islam di Indonesia, agar terus sadar sejarah. Dan, agar bangsa Indonesia terus waspada dan bisa mengantisipasi munculnya bahaya laten komunis”.

Lantas apa sesungguhnya buku ini menurut penulisnya sendiri?

“Buku ini hanyalah kliping sejarah aksi-aksi PKI. Mulai dari sejak awal kelahiran partai itu sampai kematiannya yang ditulis dengan narasi beraroma wangi”, papar Anab Afifi.

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Ketua MUI Kiai Ma'ruf Amin bersama Ulama menggelar konfrensi Pers aksi bela palestina 1712 (foto hidayatulah)

Minggu, 17 Desember 2017 - 04:58 WIB

Ma'ruf Amin Pastikan Aksi Bela Palestina Tidak Ada Unsur Politis

Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ma'ruf Amin menegaskan tidak ada unsur politik praktis dalam aksi bela Palestina yang akan digelar di kawasan Monumen Nasional (Monas), Minggu (17/12).…

Presiden Jokowi berfoto bersama peserta Apel Kebangsaan Pemuda Islam Indonesia di pelataran Candi Prambanan, Sabtu (16/12). (Foto: BPMI)

Minggu, 17 Desember 2017 - 04:37 WIB

Enam Usulan Indonesia Terkait Penyelesaian Masalah Palestina

Presiden juga sudah menyampaikan enam usulan Indonesia dalam KTT luar biasa OKI.

Presiden Jokowi berfoto bersama peserta Apel Kebangsaan Pemuda Islam Indonesia di pelataran Candi Prambanan, Sabtu (16/12). (Foto: BPMI)

Minggu, 17 Desember 2017 - 04:30 WIB

Presiden Jokowi Yakin Aksi Bela Palestina Berlangsung Tertib

Presiden Joko Widodo meyakini Aksi Bela Palestina yang akan berlangsung pada 17 Desember 2017 atau disebut aksi 1712 berlangsung dengan tertib.

Menteri Pemuda dan Olah raga Imam Nahrawi (Foto Dok Industry.co.id)

Minggu, 17 Desember 2017 - 04:15 WIB

Menpora Harapkan Pemuda Harus Siap Tanggulangi Bencana

Menteri Pemuda dan Olah raga Imam Nahrawi meminta pemuda Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (KOKAM) dan Barisan Serbaguna NU (Banser) siap dalam penanggulangan bencana alam.

Presiden Jokowi menghadiri Apel Kebangsaan Pemuda Islam Indonesia di pelataran Candi Prambanan, Kabupaten Sleman, Sabtu, (16/12). (Foto: BPMI)

Minggu, 17 Desember 2017 - 04:10 WIB

Presiden Jokowi Tetap Monitor Penanganan Gempa Sejumlah Daerah

Presiden Joko Widodo terus memantau penanganan gempa berkekuatan 6,9 Skala Richter yang mengguncang wilayah bagian selatan Jawa Barat, Jawa Tengah, dan DI Yogyakarta pada Jumat (15/12/2017)…