INDUSTRY.co.id, Jakarta –Pernyataan Ekonom Senior Universitas Indonesia (UI) Faisal Basri ramai diberitakan media massa dan viral di medsos.

Dimana, Ia menyebut proyek kereta cepat Jakarta-Bandung tidak akan balik modal. Hal itu ia katakan dalam dialog bertajuk COVID-19 dan Ancaman Kebangkrutan Dunia Usaha, Rabu (13/10) lalu.

"Sebentar lagi rakyat membayar kereta cepat. Barangkali nanti tiketnya Rp 400 ribu sekali jalan. Diperkirakan sampai kiamat pun tidak balik modal," kata Faisal.

Selain itu, proyek kereta cepat Jakarta-Bandung juga dinilainya sebagai proyek mubazir.

Tak hanya kereta cepat, dari paparan Faisal, dia menunjukkan Bandara Kertajati, Pelabuhan Kuala Tanjung, dan LRT Palembang juga termasuk.

"Ini proyek mubazir, nggak karu-karuan, kereta cepat sebentar lagi mau disuntik pakai APBN, Bandara Kertajati lebih baik jadi gudang ternak aja. Pelabuhan Kuala Tanjung dibangun dekat Belawan, kemudian LRT Palembang. Kesimpulannya kesalahan pucuk pimpinan," tuturnya.

Meski demikian, Faisal meyakini Indonesia akan survive jauh lebih baik dari krisis 1998. Menurutnya, setiap krisis ada opportunity di dalamnya.

"Saya yakin dunia usaha di Indonesia itu akan mampu survive, jauh lebih ringan dari krisis 98. Setiap krisis, setiap badai, goncangan setiap ancaman, ada opportunity bagi kita semua juga untuk melakukan sesuatu yang baru dengan cara yang berbeda untuk menghasilkan yang lebih baik," jelasnya.

Menanggapi itu, Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga menyebut bahwa pernyataan Faisal tersebut salah total.

Menurutnya, investor tidak akan masuk jika proyek itu rugi.

"Ini kita menyayangkan omongannya Faisal Basri. Faisal Basri itu salah total yang mengatakan bahwa sampai kapanpun pasti rugi. Ya mana ada investor mau masuk dengan kondisi nanti rugi itu kan konyol gitu, Faisal Basri konyol betul," katanya, seperti dikutip redaksi INDUSTRY.co.id pada Senin (18/10/2021).

Tak hanya menyebut salah total, Arya juga menyayangkan pernyataan itu. Menurutnya, penilaian subjektif dari Faisal Basri itu salah besar.

"Dan kelihatan beliau tidak pakai angka, tidak pakai analisa hanya subjektifnya aja yang muncul, jadi itu kesalahan besar," katanya.

"Sayang, sekaliber Faisa Basri itu ngomong seperti itu, itu nggak bener," terangnya.