INDUSTRY.co.id, Jakarta- Adanya pembayaran tunjangan hari raya (THR) tidak lantas membuat konsumsi masyarakat kembali naik. Pasalnya, ada beberapa kebijakan yang justru menghambat konsumsi masyarakat, salah satunya kebijakan larangan mudik Lebaran. Hal tersebut diutarakan Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Aviliani, dalam webinar “THR Dorong Konsumsi”, Senin (26/4/2021), yang digelar Forum Merdeka Barat9 (FMB9).

Advertisement

“Adanya THR ini diharapkan bisa meningkatkan konsumsi. Tapi, mudik kan dilarang. Akhirnya untuk masyarakat kelas menengah ke bawah, sebagian uang THR-nya disimpan di bank untuk jaga-jaga, tidak dibelanjakan,” kata Aviliani.

Menurut Aviliani, adanya program vaksinasi Covid-19 sebetulnya telah meningkatkan kepercayaan masyarakat untuk kembali berbelanja. Di triwulan I 2021, belanja masyarakat juga mulai meningkat, meskipun belum terlalu signifikan. Namun adanya berbagai pembatasan seperti larangan mudik akan membuat kemampuan belanja masyarakat kembali terbatas. Padahal konsumsi sangat dibutuhkan untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi. Aviliani sendiri berpendapat mudik sebaiknya tidak dilarang untuk menggerakkan ekonomi. Tinggal protokol kesehatannya saja yang lebih diperketat untuk mencegah penularan Covid-19.

Advertisement

“Saya termasuk yang tidak setuju (larangan mudik). Di satu sisi pemerintah ingin pertumbuhan ekonomi tinggi, tapi di sisi lain ada larangan mudik. Menurut saya sebaiknya protokol kesehatan saja dilakukan dengan baik di tempat-tempat umum agar orang tetap bisa pulang kampung,” ujarnya. Untuk pertumbuhan ekonomi di 2021, Aviliani memproyeksikan angkanya berada di kisaran 4%.  Khusus di triwulan I 2021, ia memprediksi ekonomi Indonesia masih akan mengalami kontraksi.

Advertisement